“Aku mau kita pisah.” Mata Gibran terbelalak. “Sampai aku bener-bener yakin sama perasaan kamu.” Kurang jelas bagaimana Gibran mengungkapkan perasaannya kepada perempuan itu. Gibran sampai berlutut dan menangis karena terlalu takut Dirana akan meninggalkannya pergi bersama pria lain. Gibran terlalu bodoh untuk menyadari perasaannya kepada istrinya sendiri. Kalau bukan karena diceramahi oleh teman-temannya, mungkin sampai saat ini pun Gibran masih tetap di tempatnya tanpa mau bergerak lebih dulu. “Perempuan itu butuh kejelasan,” kata Anjas sok tahu. “Cuma sayang, tapi nggak mengungkapkan. Buat apa?” Ini kata Kasa. “Perempuan itu nggak hanya butuh perhatian. Tapi kejelasan. Biarpun Dirana istri lo, tapi tetep aja dia butuh kejelasan perasaan lo sama dia.” Kalau ini kata Jona sih. Ada

