Redamancy~04

1435 Kata
Lucia meremas tangannya dengan gugup di dalam kereta yang kini membawanya melewati perkotaan malam hari untuk menemui adiknya yang di titpkannya pada salah satu mantan pelayan miliknya terdahulu saat masih menjadi seorang Duchess atau puteri bangsawan dari Tralio. Bahkan dirinya mengabaikan tatapan dari salah satu pelayan wanita yang disuruh untuk menemaninya itu, terlihat jelas bahwa pelayan wanita tersebut kini mengenali sosok dirinya sebagai seorang mantan puteri bangsawan dan kini mereka memiliki status yang sama yaitu seorang baronet. Tetapi karena perintah langsung dari majikannya Duke Adelio untuk melayani perempuan di depannya maka dirinya hanya bisa melakukannya karena itu adalah perintah langsung yang di berikan padanya. Sehingga mau tak mau maka dirinya harus tetap menaruh sopan santun pada Lucia meskipun sesekali tidak bisa di tahannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya membuat Duke nya itu memberinya kekuasaan yang sama pada Lucia. Saat kuda yang menarik kereta yang mereka naiki telah berhenti berjalan karena sudah tiba di salah satu rumah kecil di ujung perkotaan yang hanya di terangi oleh dua lentera tua di luar rumah  itu maka spontan saja Lucialangsung  berhenti saling meremas kedua tangannya. Menatap pelayan wanita di depannya yang masih juga menatapnya bahkan tidak menurunkan pandangannya saat ketahuan. Sebelum deheman Lucia menyadarkannya, di tatap seintes itu terasa ridak nyaman untuknya terlebih saat dulunya sangat jarang seorang pelayan berani mendongak menatapnya.Tetapi karena dirinya bukanlah seorang bangsawan lagi maka tidak ada lagi yang menyalahi aturan sopan santun yang di tetapkan oleh pihak kerajaan. Pelayan Wanita milik Adelio itu berjalan lebih dahulu turun dari kereta setelah salah satu pengawal yang juga di ikutkan telah membuka pintu kereta agar mereka dapat turun. Dengan pelan digeretnya gaun berwarna cream yang masih sama dipakainya tadi.  Rumah dari salah satu pelayan pribadi yang dulu melayaninya itu terlihat sangat tidak layak tinggal bahkan bagian atas untuk menutupi rumah dari cuaca langsung seperti hujan dan panas ,sangat diyakini oleh Lucia bahwa itu tidak berhasil dilakukannya karena sudah hampir setengah bagaian telah hilang sehingga tidak menutupinya dengan sempurna.  Lucia berjalan di belakang pria yang bertugas untuk mengawalnya itu menuju pintu kayu yang bahkan akan terlihat terjatuh kebelakang dan sudah sangat keropos, dengan pelan pengawal pria tersebut mengetuk pintu di depannya hingga muncul sosok perempuan bergaun lusuh dan sangat kumuh membuka pintu dengan kening berkerut.  "Anda Siapa ?" saat pertanyaan itu di lontarkannya pada pria yang berdiri tepat di depannya masih saja menutupi Lucia langsung saja mantan majikannya tersebut muncul tepat di depannya, memanggil dirinya.  "Keysa." Panggil Lucia berhasil mengalihkan seluruh tatapannya dari pria yang mengetuk pintunya dengan terkejut. "Duch-- Maksud saya, Lucia. Anda baik - baik saja ?"  Langsung saja pemilik dari nama Keysa meralat ucapannya dengan cepat saat mengetahui bukan hanya mereka berdua saja yang berada disana, tetapi ada pula orang asing. Membuatnya kembali melirik pria jangkung dan wanita berpakaian pelayan yang sederhan tetapi, jauh lebih baik darinya yang sekarang seorang pengangguran. Memanggil seseorang dengan gelar yang tidak benar atau tidak sesuai peringkatnya akan di anggap tidak menghormati orang - orang yang duduk pada peringkat tersebut sehingga di anggap pencemaran.  "Aku baik - baik saja, Keysa. Terimakasih. Dimana adikku ?" perhatian Keysa kembali teralih padanya sepenuhnya dengan masih saja memasang raut wajah takut dan waspada kepada kedua orang asing lainnya di depannya, dengan sedikit gemetar di pinggirkannya tubuhnya seolah mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya. "Liana sudah tidur, ada di dalam."  Dengan tersenyum Lucia kemudian mengambil langkah mendekat ingin masuk kedalam rumah milik mantan pelayan pribadinya sebelum sebuah tangan dari pria yang mengawalnya menghentikan langkahnya. Lucia berbalik menatap pria jangkung tersebut dengan kening berkerut tetapi, pria tersebut justru hanya menundukan kepalanya tidak menatap matanya, padahal mereka pada posisi yang sama hanya saja Adelio memberinya perintah yang berarti menunjukan bahwa perempuan berambut orange ini harus diperlakukannya selayak dengan dirinya yang diberi perintah untuk menjaga nyawanya.  "Apakah tidak harus saya Duchess ?" Keysa terkejut saat pria jangkung tersebut menyebut gelar seorang perempuan bangsawan untuk Lucia yang bukan lagi pada statusnya, membuatnya berbalik menatap Lucia yang baru disadarinya itu ternyata memakai sebuah gaun selayaknya seorang bangsawan seperti dahulu, bahkan aura sebagai seorang bangsawan kembali menguar pada seluruh tubuhnya.  Apa yang terjadi ? Belum cukup 24 jam Lucia pergi perempuan tersebut sudah kembali dengan gaun yang berbeda pada tubuhnya dan sekarang memiliki seorang pengawal dan pelayan yang memperlakukannya kembali sebagai seorang Duchess.  "Tidak perlu. Aku akan kedalam sendiri kau bisa menunggu di luar, Jangan khawatir, Keysa dulunya adalah pelayan pribadiku." Jelas Lucia yang akhirnya membuat pria tersebut menganggukan kepalanya dan mulai menurunkan tangannya yang tadinya menghalangi jalan Lucia. "Kau juga tunggulah disini." Kali ini perintah itu diberikannya pada pelayan wanita yang berencana akan mengikutinya sebelum kembali diam dan mengikuti perintah yang diberikan padanya.  "Ayo Keysa. Antarkan aku pada adikku." Keysa sekarang mempunyai berbagai pertanyaan di kepalanya. Bagaimana bisa semua ini terjadi tetapi, itu hanya bisa di tahannya lagi saat Lucia kembali mengeluarkn perintah kali ini pada dirinya.  Dengan pelan di angkatnya gaun - gaun yang sedikit menghalangi jalannya melewati tanah - tanah sebagai alas dari rumah ini membuat Keysa yang melihatnya langsung saja membantunya mengangkat gaun indah tersebut, seperti yang selalu di lakukannya.  Tidak ada pintu ataupun furniture - furniture di dalam kediaman dari mantan pelayan pribadinya itu, sangat polos bahkan bisa di bilang tidak hanya luarnya saja yang tidak layak tetapi begitupula dengan bagian dalam rumah. Dulunya Keysa sebagai pelayan pribadi dari Lucia tinggal bersama majikannya tersebut, mengingat dirinya adalah pelayan paling utama dan selalu di butuhkan oleh Lucia sendiri. Keluarga bangsawan memang menempatkan pelayan pribadi mereka atau para pelayan inti untuk tinggal di dekatnya bersama mereka, sementara pelayan biasa saja atau pelayan pembantu dan cadangan hanya datang sesuai waktu jam kerja dan itu berada di bawah struktur pelayan pribadi barulah para pelayan inti di atas mereka.  Lucia menatap sedih adiknya yang memakai gaun lusuh di tubuhnya dan sekarang terlihat sangat lelah tertidur di atas karpet kecil yang memberinya jarak dengan tanah yang bahkan tidak sampai semata kaki adiknya itu. Hanya ada beberapa kain tipis yang cukup kecil untuk menyelimuti Liana. Melihat keterdiaman Lucia pada Liana mendadak membuat Keysa menjadi gugup dan takut karena telah membiarkan adik dari mantan majikannya harus tidur di bawah karpet tidak layak. "Maafkan saya Duchess. Hanya saja saya hanya mempunyai kemampuan untuk memberikan kelayakan pada Duchess Liana sampai disini saja. Maafkan ketidakmampuan saya."  Lucia berbalik dan mulai menepuk bahu dari gadis di sampinya yang kini terlihat menunduk menunggu tanggapannya. Keysa sangat setia padanya bahkan masih menghormati dirinya yang memiliki status sama dengannya, membuat Lucia merasa senang karena memiliki pelayan yang setia padanya. "Terimakasih Keysa, Ini sudah sangat berarti bagiku. Aku sangat bersyukur karena telah mengenalmu."  Keysa terlihat kaget dengan perlakuan dari majikannya yang kini terasa membuka dirinya, selama dirinya mengenal mantan majikannya tersebut baru kali ini Lucia memberikannya sebuah sanjungan, Lucia sendiri memang cukup menjaga jarak dengan para pelayan mengingat saat kecil dulu mereka telah di ajarkan untuk menjaga sebuah hubungan, agar para pelayan atatu seseorang dengan kasta terendah tidak akan berani membantah mereka karena sebuah hubungan yang di anggap dekat itu.  Mungkin benar kata orang kau harus jatuh terpuruk dulu agar dapat membuka mata hatimu. "Liana" Panggil Lucia dengan lembut menggoyangkan bahu adiknya agar terbangun dari tidurnya saat dirinya telah berada tepat di samping adik perempuan bungsunya ini.  Butuh beberapa kali guncangan untuk membangunkan Liana hingga mata hitam terang yang sama dengannya terbuka dan berbalik menatapnya. "Kakak ?" Panggil Liana memastikan membuat Lucia tidak bisa menebarkan senyuman untuk adik berumur enam belas tahunnya itu.  "Bangunlah kita harus pergi dari sini." Ucap Lucia lagi berhasil membuat kerutan di dahi adiknya sementara perasaan terkejut dirasakan oleh Keysa mengetahui bahwa kedua gadis berdarah biru tersebut akan pergi dari sini.  "Kemana ? Ada apa dengan pakaian kakak ?" Liana yang menyadari perubahan dari pagi saat mereka berpisah itu langsung melontarkannya hingga Lucia menghela nafas.  "Liana dengarkan kakak. Kau akan dimasukkan kedalam sebuah sekolah puteri bangsawan, untuk sementara kau akan tinggal disana dan sekaligus menyelesaikan pelajaranmu sebagai seorang puteri bangsawan."  "Apa ?"  "Duchess."  Kedua gadis yang masih belum mendapatkan penjelasan apapun dari Lucia itu semakin bingung dan terkejut. "Bagaimana bisa ? Kita bukan lagi seorang puteri bangsawan." tuntut Liana hingga mau tak mau Lucia harus menghela nafasnya untuk kesekian kalinya, sedikit terasa berat untuk menjelaskannya pada adiknya tersebut.  "Kita akan. Kita akan kembali menjadi seorang bangsawan lagi. Kakak akan melakukannya, jadi jangan khawatir." Tekan Lucia tetapi hal tersebut tidak berhasil membuat adik bungsunya terdiam untuk jawaban ambigu yang di berikannya. "Bagaimana ? Bagaimana caranya ?" "Aku akan menikah dengan Duke Adelio. Bangsawan Lorenzo."  Ya. Lucia akan mengorbankan apapun untuk kembali mendapatkan hidup adiknya yang layak dan membunuh Fhilip, tetua Lorenzo yang sebentar lagi akan menjadi salah satu keluarganya sendiri. Bahkan jika Lucia harus melemparkan dirinya dalam bara api. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN