“Dengan cara licik? Bertopeng muka saya? Tipu muslihatmu tak akan mempan kali ini. Saya tak akan tinggal diam, jika wanita itu kamu ganggu lagi.” “Ha ha ha! Pede sekali kamu!” Suara Mustafa seketika menghilang bersama desiran angin beraroma kasturi yang masih tertinggal di ujung hidung Ustaz Hamdan. Pria tampan beraut muka TimurTengah berzikir dan berselawat demi menenangkan diri. Baru kali ini dirinya bertemu dengan jenis jin bandel macam Mustafa. Pria ini menggeleng lalu segera mengendarai motor ke arah pulang. Sepanjang perjalanan, Ustaz Hamdan memikirkan suatu cara agar tetap bisa menjaga Dinda dan Bu Teti. Bagaimana pun, keduanya adalah orang yang disayang oleh almarhum Gito—sang sahabat dan ia akan menggantikan posisinya untuk menjaga mereka. Ponsel di dalam jaket ustaz bergetar

