Langkah kaki Mikael dan Carlos terlihat sangat tergesa-gesa. Masih tersisa buliran keringat dingin di kening kedua lelaki yang baru saja keluar dari apartemen bertipe suites milik Mikael. Carlos amat terkejut, sama terkejutnya dengan apa yang Mikael rasakan ketika pertama kali netranya membuka kelopaknya justru jasad Sophia sudah mengapung di atas permukaan air kolam renang apartemennya. Siapapun yang berada di posisi Mikael jelas merasakan ketakutan persis apa yang dirasakan oleh lelaki itu.
Dalam keadaan baru saja tersadar dari tidur lelapnya efek minuman keras yang dia teguk bersama Sophia, esok harinya lelaki itu justru mendapati Sophia kehilangan nyawa di kediamannya. Semua orang pasti akan bertanya-tanya, dan orang awam jelas saja mengarahkan tuduhan mereka kepada Mikael yang semalaman bersama Sophia, minum bersama.
“Anda tidak menghubungi siapapun kan, selain saya?” tanya Carlos menoleh ke arah Mikael.
Wajah pucat pasi di paras rupawan Mikael menandakan betapa terkejutnya lelaki itu. Anak sulung pasangan Georgeus dan Alexa menganggukkan kepalanya.
“I-iya,” jawab Mikael dengan wajah kebingungannya.
Carlos meminta izin masuk ke dalam ruang keamanan. Carlos dan Mikael menunjukkan kartu identitas mereka, apalagi Mikael memiliki kartu member VVIP apartemen tersebut hingga membuat semua petugas pengawas keamanan menundukkan kepala mereka dengan hormat. Tidak semua orang bisa masuk ke dalam ruang keamanan tersebut, jika saja bukan karena kuasa dari keluarga Mikael mungkin mereka berdua menemui jalan buntu.
Selaku orang kepercayaan Georgeus, Carlos segera seorang petugas pengawas keamanan memutar kembali kejadian beberapa jam lalu setelah Mikael tak sadarkan diri. Tidak ada yang aneh saat satu jam pertama. Terlihat gadis itu sedang membersihkan ruangan yang berantakan.
“Pada pukul berapa, Pak?” tanya petugas pengawas CCTV.
“Saya tidak sadar, sudah biarkan saja rekamannya berjalan,” ucap Mikael sambari menggigit kuku ibu jarinya sebagai tanda kegelisahan.
Tidak lama waktu berselang, Mikael dan Carlos dikejutkan oleh kedatangan Anne ke apartemen Mikael. Di dalam rekaman kamera CCTV itu juga menunjukkan bagaimana bengisnya cara Anne memperlakukan Sophia sebelum gadis muda itu kehilangan nyawanya. Mikael mere-mas tangannya, menahan kemarahan di dalam diri.
“Sepertinya Nona Anne salah paham dengan gadis itu,” kata Carlos.
“Anne benar-benar melakukan kesalahan teramat fatal di dalam hidupnya. Tanpa sadar dia juga menyeretku ke dalam neraka yang dia ciptakan sendiri,” sahut Mikael, pandangannya terlihat begitu marah.
Petugas pengawas keamanan membelalakkan mata, begitu juga dengan Mikael dan Calos karena terkejut melihat sosok wanita yang sedang mereka bicarakan tengah melemparkan sejumlah uang ke hadapan Sophia. Terlihat perdebatan diantara mereka namun, Mikael tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan. Wajah Mikael terlihat kesal saat mengetahui siapa dalang di balik kematian Sophia ini. Dia tidak habis pikir bahwa wanita itu bisa melakukannya.
Anne telah melakukan kesalahan fatal, kedua keluarga terpandang di kota itu akan mengalami skandal besar karena kelalaian yang Anne lakukan. Mikael semakin menyalahkan dirinya sendiri, tidak seharusnya lelaki itu kehilangan kesadaran penuh sampai tidak mendengarkan keributan yang terjadi di antara Anne dan Sophia. Seandainya saja telinga Mikael mendengar suara jeritan meminta pertolongan dari Sophia, mungkin gadis malang itu tak akan menemui ajalnya.
Jika sudah begini, bagaimana Mikael harus bersikap? Tindakan apa yang akan dia ambil untuk membersihkan masalah ini?
“Kita harus menghubungi polisi, ini kasus menghilangkan nyawa orang lain, termasuk pidana berat,” ujar petugas pengawas keamanan sudah siap menelepon nomor kepolisian.
Carlos menghentikan niat mereka. “Sebentar, Pak. Dimana manager Anda, biarkan saya berbicara dahulu dengan manager Anda,” kata Carlos mencoba mengulur waktu.
Tidak berapa lama setelah panggilan dibuat, manager apartemen datang menyambangi Mikael.
“Pak Mikael,” sapanya karena sudah mengenal Mikael dengan akrab, dia begitu menghormati Mikael beserta keluarganya.
Carlos menjelaskan kepada manager apartemen, dia meminta petugas pengawas keamanan memutar kembali rekaman CCTV dari mulai kedatangan Anne hingga kem*tian Sophia di dalam kolam renang. Awal mula, manager apartemen itu terkejut tidak menyangka akan ada kasus pidana berat yang terjadi di dalam apartemen di bawah pengelolaan darinya.
Meskipun Anne tidak membu-nuh Sophia, dan kecelakaan itu terjadi akibat kelalaian Sophia sendiri, tetap saja Anne melakukan salah satu unsur pidana menghilangkan nyawa orang lain dengan tidak sengaja namun berujung hilangnya sebuah nyawa seseorang.
Carlos meminta manager apartemen untuk menyerahkan hasil rekaman itu beserta salinannya di serahkan kepadanya dan menghapus semua kejadian yang terjadi malam itu agar polisi tidak melibatkan Mikael ataupun Anne.
“Anda mengerti maksud saya bukan?” tanya Carlos kepada manager apartemen.
“Pak, ini tentang nyawa seseorang,” kata manager apartemen semula merasa keberatan.
“Saya bisa langsung bertemu dengan pemilik apartemen ini dan mengingatkan beliau kembali tentang surat izin pendirian bangunan yang sudah diurus oleh ayah Tuan Mikael. Beliau tidak lupa ingatan bukan?” ancam Carlos yang menyaksikan tuan besarnya turut andil di dalam pembangunan apartement tersebut.
Manager apartemen segera menghubungi pemilik gedung, mengadukan apa yang terjadi sebelum membuat keputusan besar dengan banyak resiko yang akan terjadi di kemudian hari. Rupanya pemilik gedung mengiyakan permintaan Carlos mengingat hutang budinya kepada ayah Mikael. Carlos juga meminta kepada pihak managemen apartemen untuk menghapus nama Mikael dari kepemilikan kamar apartemen itu dan menyatakan bahwa kamar tersebut mereka sewakan harian sebagai tempat transit.
“Salin semua rekaman itu dan berikan kepada saya, setelah itu hapus dan jangan meninggalkan jejak sedikit pun dari kejadian itu. Bersihkan nama Tuan Mikael dan kamarnya. Anggap saja gadis itu bunuh diri setelah disewa tanpa dibayar,” ujar Carlo di hadapan managemen apartemen dan ketua keamanan di sana.
Sakit sekali, ketika mendengarnya Mikael merasa dirinya tengah ditampar realita. Seharusnya Mikael memberikan upah Sophia terlebih dahulu sebelum dia kehilangan kesadarannya agar gadis itu tidak bertemu dengan Anne.
“Baik, Tuan,” jawab mereka serentak.
“Kalian tahu siapa Tuan Mikael, jadi saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik. Untuk biaya tutup mulut akan segera saya transfer ke rekening kalian masing-masing.” Carlos menegaskan akan membayar jasa semua pihak apartemen yang mengetahui kejadian ini untuk mereka bisa tutup mulut.
Mereka pun mengangguk setuju, selain karena uang di tawarkan begitu besar para pegawai itu pun tidak berani menentang perintah Carlos terlebih mereka mengetahui siapa ayah dari Mikael. Akhirnya semua pihak membantu Carlos dan Mikael untuk membersihkan ruang apartemen seolah-olah ruangan itu disewa oleh Sophia sendiri. Semua barang bukti yang mengarah kepada Mikael segera di musnahkan sebelum polisi tiba.
Carlos membantu Mikael untuk segera mengemasi barang milik pribadinya. Dia mengecek ke setiap sudut ruangan di kamar apartemen itu agar tidak ada satu barang pun milik Mikael yang tertinggal. Lelaki itu pula memastikan tidak adanya sidik jari Mikael di setiap sudut ruangan itu. Bahkan seprai di tempat tidur Carlos masukkan ke dalam keranjang dan meminta petugas apartemen mengganti seprai yang baru menggunakan sarung tangan.
“Anda harus segera meninggalkan tempat ini.” Carlos meminta Mikael untuk segera melarikan diri.
“Tetapi bagaimana dengan gadis itu?” Mikael masih memikirkan Sophia yang sudah terbujur kaku.
“Biarkan mereka yang mengurus jasad gadis malang itu.” Carlos sudah menyusun semua dengan matang.
“Apa kau yakin dengan semua ini?” Mikael terdengar sangat ragu. Mikael bukan tipe lelaki berengs*k yang meninggalkan kesalahannya begitu saja.
“Apa Anda ingin reputasi Tuan Besar hancur jika media mengetahui seorang gadis mati di kediaman putra seorang anggota dewan.” Carlos membentak Mikael.
Carlos meminta Mikael untuk pergi karena tidak ingin anak itu menghancurkan reputasi ayahnya karena kecerobohannya. Carlos tahu orang tua Anne akan bisa mengamankan serta membersihkan nama anaknya dengan baik jika kasus ini bisa sampai ke publik, lalu satu-satunya yang akan bisa di jadikan umpan adalah Mikael karena dia lah pemilik kamar apartemen itu.
Akhirnya Mikael berpikir bahwa yang di katakan Carlos itu benar. Meski dengan sangat menyesal dan rasa bersalah menggunung di dalam dirinya, akhirnya Mikael memilih lari dari kejadian ini.
“Maafkan aku Sophia, aku akan membalaskan semuanya untukmu suatu hari nanti,” ujar Mikael sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Sebelum meninggalkan ruang apartemennya, Mikael melihat sekilas tubuh Sophia di ambang kolam renang dengan posisi tengkurap, wajah gadis itu mungkin akan ditemukan telah membiru dan juga pucat pasi dengan badan menggembung. Tetapi Mikael tidak memiliki cara lain selain melarikan diri untuk sementara waktu. Lelaki itu menoleh ke suara getaran di tas milik Sophia, Mikael hendak melihatnya, namun suara Carlos membuat Mikael bergegas meninggalkan ruangan.
“Ayo, Tuan Mikael, biarkan petugas kebersihan membersihkan telapak kaki kita sebelum pihak kepolisian datang,” ucap Carlos menarik paksa tangan Mikael agar berkenan meninggalkan ruangan secepatnya.
Lelaki itu berjanji kepada jasad gadis malang tersebut, Mikael akan membalaskan semua perbuatan Anne kepadanya. Kesal, kecewa, marah terlihat jelas di wajah Mikael. Dia benar-benar bersumpah akan meninggalkan Anne untuk selamanya dan membuat wanita itu menderita seumur hidupnya. Menghilangkan nyawa Sophia, mengapa Anne sampai tega melakukan hal sekeji itu kepada Anne? Dan bodohnya, mengapa Sophia sampai rela memungut uang-uang tersebut meski dirinya sendiri tahu tidak dapat berenang dengan baik.
Kejadian pagi ini benar-benar membuat Mikael merasa pening dan tidak mampu berkata apa-apa lagi. Semua terjadi secara tiba-tiba, dan entah takdir macam apa yang sedang menghinggapi Mikael sampai lelaki itu terlibat dengan kematian seorang gadis malang seperti Sophia. Mana bisa Mikael melanjutkan kehidupannya setelah dirinya menjadi salah satu penyebab seseorang kehilangan nyawa karena wanita yang mencintainya terlalu terobsesi pada Mikael?
Sidik jari Mikael dibersihkan dari tubuh Sophia dan setiap sudut ruangan itu. Setelah uang di kolam renang itu diamankan oleh pihak apartemen, jasad tubuh Sophia di tenggelamkan lagi. Seorang petugas apartemen segera menghubungi polisi. Mereka bertingkah tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu.
Polisi segera datang setelah beberapa menit Mikael dan Carlo pergi. Mereka mengidentifikasi mayat Sophia. Polisi itu mengintrogasi setiap pegawai yang berada di ruangan itu.
“Apa gadis ini tinggal di sini?” tanya seorang polisi kepada salah satu pegawai.
“Iya, sudah hampir satu tahun gadis ini menyewa tempat di di sini,” jawab pegawai itu berbohong.
“Lalu, apa yang gadis ini kerjakan selama ini?” tanya polisi itu kembali.
“Yang saya tahu dia adalah seorang wanita penghibur yang kerap mengajak pria untuk menginap di kamarnya.” Pegawai itu menjawab dengan nada gugup.
Penyidik memandang pegawai apartemen yang tengah berkucuran keringat. “Lantas bagaimana Anda tahu kalau ada seorang mayat di unit kamar ini?”
Sontak saja pertanyaan itu mengejutkan pegawai kebersihan yang kebetulan mendapatkan mandat berpura-pura menjadi saksi kejadian. Lelaki yang bertugas sebagai cleaning service telah diberikan kalimat sebagai jawaban atas pertanyaan yang kemungkinan saja dipertanyakan oleh penyidik kepolisian.
“Dua jam lalu, gadis muda ini menelepon resepsionis kami untuk meminta dibersihkan kamarnya, Pak. Saat saya datang ke mari, pintu apartemennya terbuka lebar, saya masuk ke dalam dan tidak menemukan siapapun. Lalu saya cari-cari, ke kolam renang lihat sudah ada mayat mengapung,” jelasnya sambari terbata-bata.
Pegawai yang di introgasi memberikan pernyataan palsu tentang Sophia, mereka mengikuti perintah manager apartemen untuk menutupi kasus ini agar tidak menyeret nama Mikael di dalamnya. Polisi terus mencari tahu apa yang terjadi dengan gadis malang itu. Setelah mendengar beberapa pernyataan dari pegawai apartemen polisi menyimpulkan bahwa Sophia meninggal kerena bunuh diri.
Setelah menyelidiki ruangan dan kamera pengaman yang dinyatakan rusak polisi segera menutup kasus dan tidak memperpanjangnya. Jasad Sophia di angkat dari kolam renang dan segera di bawa ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan tindakan outopsi. Polisi menemukan tas milik Sophia dan terdapat sebuah kartu mahasiswa serta ponsel miliknya. Semua barang pribadi milik Sophia diamankan oleh polisi untuk barang bukti.
Di tempat lain Theresia sedang mengajar para murid, meski ke khawatiran sedang menerpa pikirannya gadis itu masih bisa terlihat bahagia di hadapan muridnya. Dia memang gadis yang pandai menyembunyikan perasaan.
Ponsel Theresia tiba-tiba bordering. Awalnya gadis itu mengabaikan panggilan tersebut. Namun, ponselnya terus berdering dan akhirnya Theresia melihat ponsel yang ada di atas meja. Wajahnya terlihat senang saat nama adiknya yang tertera di ponsel itu. Dengan sigap Theresia mengangkat panggilan itu.
“Hallo, Sophia, kemana saja kamu? Kakak menghubungimu sejak pagi tadi,” ucap Theresia penuh khawatir.
“Selamat pagi, Nona Theresia.” Terdengar suara seorang lelaki dari balik ponsel.
Theresia merasa bingung, mengapa ponsel adiknya berada di tangan orang lain. Lalu siapa orang ini. Pikirannya menjadi kacau kembali.
“Selamat pagi,” jawab Theresia dengan suara bingung.
“Nona Theresia, saya dari biro penyidik kota Den Hag dengan berat hati ingin memberitahukan Anda bahwa saudari Sophia telah meninggal dunia,” ucap Polisi tersebut dan membuat hati Theresia hancur.
“APA?” Theresia begitu kaget mendengar berita duka tersebut.
Air matanya seketika mengalir deras membasahi pipi. Para murid yang sedari tadi ramai tiba-tiba menjadi hening saat mendengar suara tangisan Theresia. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong, hancur lebur hati Theresia. Dia masih tidak percaya dengan ucapan orang tersebut.
Pikirnya Sophia sedang mengerjainya, tetapi ini bukan april mop atau hari ulang tahunnya. Tubuh Theresia terlihat lemas dan bergetar.
“Ini tidak mungkin, katakan jika ini hanya lelucon.” Suaranya terdengar bergetar dan tersedu-sedu.
“Adik Anda ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di kolam renang aparteman.” Polisi itu menarik napas sejenak, “silahkan Anda untuk datang ke rumah sakit dan memastikan identitas diri saudara Anda…,” lanjutnya meminta Theresia untuk menemui jasad adiknya sebelum di otopsi.
“Tidak mungkin, tidak mungkin …,” teriak Theresia histeris.