14. Cemas

976 Kata
Perasaan gelisah mulai menyergap diri kakak dari gadis cantik yang tengah berada di ambang maut tersebut. Pagi sekali, firasat tidak enak tentang adiknya membuat Theresia tidak nafsu sarapan sebelum berangkat mengajar seperti jadwal harinya seperti biasanya. Theresia ingin mengajak Sophia untuk makan malam bersama di sebuah restoran, sudah lama sekali mereka tidak pergi bersama dan kebutulan minggu depan adalah jadwal dia mengunjungi Sophia karena libur. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat bersama adiknya itu. Hari ini baru saja Theresia mendapat bonus atas kerja kerasnya, dia pikir uangnya akan cukup jika digunakan untuk memesan tempat di sebuah restoran mewah. Lagi pula sudah lama sekali mereka tidak merasakan makanan yang bisa memanjakan lidah mereka dan juga menjadi moment pertemuan kakak adik yang telah lama tidak bertemu karena aktivitas keduanya. Theresia masih mencoba menenangkan dirinya. Wanita itu tersenyum dan mengambil ponselnya, mencari beberapa restoran dekat kampus Sophia melalui Google Maps yang ada di ponsel canggih miliknya. Dia ingin membuat adiknya itu bahagia, Theresia adalah kakak sekaligus orang tua bagi Sophia, sudah sepantasnya wanita itu membahagiakan adik satu-satunya. "Restoran outdoor, sepertinya asyik untuk melewatkan waktu bersama Sophia," ujar Theresia mengamati. Akhirnya Theresia menemukan sebuah restoran yang menarik dan belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Lalu dia menghubungi restoran tersebut untuk mem-bookingnya. Dia berharap adiknya akan menyukai tempat yang dipilihnya, Theresia sangat merindukan Sophia. Dia tersenyum sambil membayangkan pertemuan mereka berdua, Theresia akan memeluk adik yang sangat dia rindukan itu. Theresia berpikir pasti Sophia terlihat kurus saat ini karena tinggal di asrama dan memakan makanan seadanya tanpa pernah makan bebas seperti saat kedua orang tuanya masih hidup. Theresia ingin memberitahu Sophia tentang kabar gembira ini, bahwa dia akan segera mengunjungi asrama adiknya tinggal. Wanita itu membuka ponselnya kembali dan mencari nomor Sophia untuk dia hubungi, tetapi adik kesayangannya tak menjawab panggilan darinya. "Kebiasaan," ucap Theresia menggumam. Dia pikir mungkin adiknya sedang belajar dan tidak mau diganggu sehingga ponselnya dia mode senyap. Theresia mengirim pesan kepada Sophia agar segera menghubunginya setelah dia selesai dalam mata kuliahnya. Theresia terus memperhatikan ponselnya, menunggu balesan pesan dari adiknya. Wanita itu sungguh khawatir berkali-kali menghubungi Sophia namun, tidak ada jawaban dari adiknya itu. Theresia duduk di tepi ranjang sambil menggenggam ponselnya sambari menggigit jemarinya. Prasaannya sangat tak karuan. Semalaman Theresia tidak bisa tidur karena memikirkan adiknya. “Ya, Tuhan, Sophia, kenapa kamu tak membalas pesanku,” ujar Theresia sambil terus menatap layar ponsel. Perasaan Theresia kini tak karuan, rasa khawatir yang begitu besar terus melekat di hatinya, Theresia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Sophia. Meski mencoba memejamkan mata dan menenangkan hati agar tidak berpikir yang aneh-aneh namun, itu sangat sulit dilakukan. Theresia terus membuka mata semalaman, kamar yang gelap masih tak bisa membuatnya terpejam, lagi-lagi wanita yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak itu menatap ponselnya. Matahari sudah bersinar begitu menawan di langit yang biru, cerahnya cuaca hari ini tak mampu membendung perasaan gelisah di dalam diri Theresia. Theresia berdiri dari tempat duduknya, tangannya hendak mengambil minum di atas meja yang berada di samping ranjangnya. Tatkala mencoba mengambil gelas yang berisi air, tiba-tiba saja gelas itu terlepas dari genggaman tangannya dan pecah berserakan di lantai. “Ya, Tuhan, pertanda apa ini.” Rasa khawatir semakin kuat, wanita itu kembali mengambil ponsel dan mencoba menghubungi adiknya. Namun, Sophia masih tidak menerima panggilannya. Senyum yang tadi dia bayangkan saat awal kini menjadi sebuah kegelisahan yang mendalam, memikirkan tentang keadaan adiknya. Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Sophia selalu membalas pesannya saat dia tidak bisa di hubungi tapi kali ini sunggu tidak ada satu pesan pun dari adiknya itu. Di sisi lain, matahari mulai meninggi dan cahayanya masuk ke celah-celah jendela yang semula dibuka oleh Sophia untuk mencari udara segar. Cahaya itu menerobos masuk menyoroti wajah Mikael. Lelaki itu terbangun, perlahan membuka matanya beberapa kali menyesuaikan udara yang masuk. Dia mencoba menghalangi sinar matahari yang membuatnya silau dengan tangannya. Kepalanya terasa sangat berat sekali. Mikael menyandarkan tubuhnya. Dia melirik ke atas meja yang penuh dengan botol-botol sebagai saksi bisu betapa gi-lanya Mikael menghadapi kedua orang tuanya. “Sebentar, di mana gadis itu?” gumam Mikael. Mikael teringat sosok Sophia yang menemaninya semalam. Dia mencoba berdiri untuk mencari gadis itu. Tubuhnya belum begitu stabil dan masih dalam pengaruh alkohol. Sesekali dia goyah dan memegang dinding untuk menahan agar tetap seimbang. Kepalanya terasa begitu berat, walau begitu rasa penasaran di dalam dirinya masih belum terobati sebelum netranya melihat Sophia. “Sophia,” panggil Mikael kepada gadis muda itu. Tidak ada jawaban dari Sophia. “Apa gadis itu telah pergi.” Mikael berbicara pada dirinya sendiri. Rasanya tidak mungkin Sophia pergi sebelum menerima upah pekerjaan darinya. Ataukah Sophia berpikir untuk meminta bayarannya secara non tunai? Dia berjalan dan terus mencari Shopia, melihat pintu toilet terbuka dia pikir tidak mungkin gadis itu ada di tempat itu, di berjalan kembali dan menemukan tas milik Sophia. Mikael yakin Sophia masih di tempatnya. Kemudian Mikael berjalan menuju kolam renang melihat sepatu Sophia di pinggir kolam. Manik mata Mikael terbelalak saat menyaksikan tubuh Sophia terkapar  di atas air dalam keadaan tengkurap. Dan betapa terkejutnya dia melihat tubuh tak bergerak mengambang di kolam renangnya. Kecemasan semakin menyergap diri Mikael. Mikael dengan cepat menceburkan diri untuk menolong Sophia. “Sophia,” teriak Mikael sambil berlari dan memasuki kolam renang. Dia berenang untuk menggapai Sophia dan membawanya keluar. Di tepi kolam Mikael membantu mengeluarkan air yang masuk ke tubuh gadis muda itu, dia juga memberikan napas buatan namun, gadis itu tidak bergerak sama sekali. “Sophia, apa kau bisa mendengarku.” Mikael memukul halus pipi Sophia agar gadis itu bangun. Wajahnya sudah pucat, bibirnya terlihat sangat biru. Kaki gadis muda itu terlihat pucat dan kaku. Dengan wajah takut dan panik Mikael mendekatkan telinga ke d**a gadis itu untuk memastikan apa dia masih bernyawa atau tidak. Ternyata tidak ada detak jantung yang terdengar. Tubuh Mikael seketika menjadi lemah tak berdaya. Dia terlihat sangat ketakutan. Bagaimana bisa gadis muda itu mati konyol di apartemennya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN