18. Mengapa Harus Aku?

1638 Kata
Mikael dengan penuh amarah melajukan mobil mewahnya menuju rumah seorang politikus ternama di negaranya. Lelaki itu harus meminta penjelasan di balik perilaku seorang wanita yang selama ini begitu overprotektif kepada dirinya. Mikael tidak menyangka, hubungan yang terjalin atas dasar paksaan kedua orang tuanya justru memakan korban—seorang gadis tidak bersalah harus kehilangan nyawa dan harapan hidup berbahagia karena kecemburuan Anne. Lelaki itu menekan klakson mobil mewahnya beberapa kali, membuat security kediaman Anne segera membuka gerbang dan mempersilahkan Mikael memasuki hamparan luas halaman depan rumah tersebut. Mikael segera menepikan mobilnya, lantas turun dari mobilnya di sebuah rumah mewah yang berada di pusat kota. Tidak seperti biasanya, langkah kaki Mikael terlihat sangat gusar dengan manik mata menyala penuh kemarahan. Tangannya secara tidak sabaran membunyikan bel di pintu masuk rumah Anne berkali-kali, berharap seseorang yang tengah dia cari segera datang menemui dirinya. Dia berteriak memanggil nama Anne di depan pintu utama yang tertutup. “Anne, keluar kau!” teriak Mikael dengan mata yang masih sembab. Mikael melupakan sopan santun dan tata karmanya, lelaki itu sudah tidak peduli dengan semua itu. Di dalam dirinya hanya berkobar kemarahan atas tindakan tak bertanggungjawab dari Anne. Wanita itu telah melakukan ke-kerasan kepada Sophia, hingga Anne mejadi penyebab Theresia kehilangan adik satu-satunya untuk selamanya. Walaupun Anne tak secara langsung menghilangkan nyawa seseorang, namun karena wanita itulah Sophia sampai memberanikan diri menyelami dalamnya kolam renang yang dingin hanya untuk mengambil uang-uang pemberian Anne. Andai saja Anne tidak datang ke apartemen Mikael, atau seandainya saja Anne tidak memperlakukan Sophia dengan buruk, mungkin gadis malang tersebut masih bisa menghirup napas. “Anne! Aku tahu kau sedang berada di dalam! Keluar lah dan bicara denganku!” seru Mikael kembali. Deru napas Mikael sangat tidak beraturan, lelaki tampan itu sampai mendaratkan kepalan tangannya pada dinding kediaman Anne demi menyalurkan kemarahannya agar tidak kian menjadi-jadi memenuhi diri Mikael. Pintu rumah Anne kini terbuka. Seorang pelayan datang menghampirinya. “Maaf, Tuan Muda Mikael, Nona sedang tidak ada di rumah.” Pelayan itu berkata bahwa Anne tidak ada di rumah. Mikael tidak percaya dengan ucapan pelayan itu, dia yakin Anne bersembunyi di dalam. Lelaki yang menjalin hubungan dengan nona muda di kediaman mewah itu menerobos masuk meski para pelayan sudah berusaha menghalanginya. Mikael sendiri merasa heran, mengapa para pelayan menghalangi langkahnya memasuki kediaman Anne, sedangkan biasanya mereka justru sangat ramah menyambut kedatangan Mikael. “Tuan, silahkan Anda keluar.” Salah satu pelayan meminta Mikael untuk pergi. Mikael sangat marah dan menarik tangan pelayan itu. “Jangan coba-coba menghalangi saya,” ucapnya dengan penuh emosi. Sontak saja kemarahan Mikael membuat pelayan di sana merasa takut. Tatapan mata Mikael bak kobaran api yang siap melalap para pelayan di sana. Mikael tidak peduli bahkan jika kedua orang tua Anne ternyata berada di rumah. Napasnya terdengar sangat cepat, bola mata indah itu seakan lebih besar dari biasanya. Urat-urat di dalam tubuhnya terlihat lebih menonjol menghiasi leher jenjangnya. Dengan sekuat tenaga Mikael mendorong para pelayan yang menghalanginya. Lelaki itu berhasil masuk ke dalam rumah mewah itu. Tidak segan dia juga menendang pintu kamar Anne dan membangunkan wanita itu yang sedang tertidur. “Mikael?” Anne terkejut melihat Mikael yang terlihat sangat marah. Mikael menghampiri Anne yang masih terbaring di atas kasur. Dengan tanpa merasa bersalah dan berdosa Anne menyunggingkan senyuman lembut mencoba menggoda Mikael. “Bangun kau wanita kejam,” ujar Mikael menarik tubuh Anne. Anne yang merasa kesikan terdengar merintih dan meminta Mikael melepaskan cengkramannya. “Lepas, Mikael.” Tanpa belas kasihan Mikael mendorong tubuh Anne hingga tersungkur di lantai. Mikael mengusap wajahnya dengan frustasi. Lelaki itu tidak habis pikir melihat betapa santainya Anne setelah menyebabkan seseorang meninggal dunia karena perilakunya. “Apa kau sudah merasa puas membuat seseorang mati?!” Mikael berteriak hingga dinding kamar Anne terasa bergetar karena kemarahan Mikael. Pandangan lelaki itu menusuk, siap menantang siapapun yang berani mendekatinya. “Maksudmu apa?” ucap Anne tidak mengerti dengan apa yang Mikael katakan. Anne sama sekali tidak merasa menjadi penyebab seseorang sampai meninggal dunia. Anne juga tidak memiliki kemampuan atau mengidap penyakit mental psi-kopat. Mikael berlutut mendekat kepada Anne, dia mencengkram kedua pipi Anne menenggakan wajah wanita itu hingga manik mereka saling bertatapan. “Jangan berpura-pura bodoh, kau telah melenyapkan Sophia, Anne.” Mikael terdengar sangat emosi. Lelaki yang dicintai Anne itu tidak bisa mengontrol amarahnya. Dia memperlakukan Anne dengan sangat kasar. Anne meringis kesakitan, sungguh di dalam pikiran wanita cantik itu saat ini adalah rasa cemas jika kedua orang tuanya sampai melihat Mikael memperlakukannya dengan buruk. Anne tak bisa membiarkan Mikael dicap buruk oleh orang tuanya. Biarlah mereka menganggap Anne tergila-gila dengan lelaki itu, asalkan Mikael dapat hidup dengan baik. Apa jadinya jika kedua orang tua Anne sampai mengetahui sikap Mikael saat ini yang sedang bertindak kasar kepada anak sematawayang mereka? “Sophia?” Anne berpikir siapa Sophia yang di maksud. “Sophia siapa, Mikael? Aku sama sekali tidak mengerti,” lanjut Anne bingung. Mikael melepaskan cengkramannya dan kembali berdiri. Lelaki itu menarik napas sejenak untuk meredakan emosinya. Dia berkacak pinggang membelakangi Anne, mengusap wajahnya dengan frustasi. Wanita itu menyusul berdiri di belakang Mikael. Anne lebih dahulu menutup pintu kamarnya, wanita itu sungguh lebih takut orang-orang menyaksikan perilaku buruk Mikael terhadapnya, daripada mengkhawatirkan keselamatannya dari kemarahan kekasihnya itu. “Sophia, dia gadis yang bersamaku semalam, mengapa kau tega membunuh gadis itu, Anne,” teriak Mikael mengguncang kewarasan Anne. Mata Anne terbelalak, tak menyangka atas apa yang Mikael katakan kepadanya. “Apa? Gadis jalang itu ma-ti?” Anne terdengar sedikit terpekik. “Iya, dia ma-ti dan kau pembunuhnya, Anne.”Mikael sedikit meredakan suaranya, berdesis di depan wajah Anne. Bukan terlihat menyesal Anne malah tertawa. Wanita itu menyunggingkan senyuman meremehkan. “Bagus jika wanita jala*ng itu ma-ti kan?” tanya Anne melipat tangannya ke depan da-da. “Kau memang wanita tidak punya hati,” ucap Mikael yang tidak habis pikir dengan ucapan Anne. Bagaimana bisa reaksi seperti itu Mikael dapati dari wanita berparas cantik seperti Anne. Dari cara bicara Anne sekalipun, wanita itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalahnya. Anne merasa cukup puas mendengar berita membahagiakan yang diucapkan langsung oleh lelaki idaman hatinya. Anne memandang Mikael tanpa ekspresi. “Itu hukuman yang tepat untuk w***********g yang mencoba menggodamu, harusnya kau bersyukur Mikael. Jika saja wanita itu masih hidup mungkin dia akan terus mendekatimu dan mengincar hartamu.” Anne memeluk Mikael dari belakang. Lelaki itu menghempaskan tubuh Anne. “Kau gi-la, Anne. Dia gadis lugu yang hanya menjadi teman minum, bukan seperti yang kau pikirkan!” bentak Mikael menjelaskan status Sophia sebenarnya. Baiklah, Mikael akan memahami kecemburuan dan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka bertiga. Mikael juga bisa saja menjelaskan kepada pihak yang berwajib dan memberitahu duduk perkara yang sebenarnya. Namun semua itu menggadaikan nama baik serta kehormatan banyak pihak. Kakak kandung Sophia, tak akan mungkin berkenan menempuh jalur damai karena memang tidak ada pembu-nuh Sophia dalam kasus ini. Sophia meninggal dunia karena tenggelam, bukan dibu-nuh, maupun sampai bu-nuh diri. Alasan Sophia berada di kolam renang adalah karena uang, gadis itu mementingkan uang daripada keselamatannya sendiri! “Apa yang bisa lelaki mabuk lakukan dengan seorang gadis? Aku bukan wanita bodoh yang bisa kau bohongi!” Anne masih menuduh Mikael dan Sophia berbuat senonoh. “Terserah kau mau bilang apa! Aku sudah muak dengan kelakuanmu!” Mikael sudah sangat membenci Anne. Anne yang masih saja merasa tidak bersalah terus mentertawakan kematian gadis itu. Dia berpikir bahwa Mikael hanya takut karena Sophia meninggal di appartemennya. “Aku tahu kau marah seperti ini karena takut dengan fakta bahwa gadis ja-lang itu mati di kamar apartemenmu. Tenang saja Sayang, aku akan mengurus semuanya. Kekuasaan ayahku akan membereskan semuanya, jadi kamu jangan takut,” ucap Anne membelai wajah tampan Mikael. Mikael menghempaskan tangan Anne. “Kau ini wanita macam apa?!” Mikael sudah mengangkat tangan mencoba untuk menggampar pipi Anne, tetapi lelaki tampan itu bisa menahan diri dan menghempaskan tangannya. Kakak dari Joseph memilih pergi keluar kamar Anne dengan penuh emosi. Dia tidak tahu mengapa wanita itu semakin menakutkan. Anne terus tertawa dan berteriak kepada Mikael bahwa dia tidak akan bisa lepas dari dirinya. “Akan aku pastikan kau tidak akan bisa lepas dariku, Mikael,” teriak Anne sambil tertawa. Mikael terus berjalan menjauh dari wanita itu. Dia tidak takut dengan semua ancaman dan perkataan Anne. Pikiran Mikael menjadi kacau, dia menyalahkan semuanya kepada ibunya. Mikael mengandarai mobil dengan kecepatan tinggi. Kini dia tidak tahu harus kemana, tidak mungkin dia kembali ke apartemen itu karena kemungkinan polisi masih akan terus di sana hingga kasus kematian Sophia berakhir atau ditutup. Mikael juga tidak ingin kembali ke rumahnya, lelaki itu tidak mau bertemu dengan ibunya. Mikael memberhentikan mobilnya di tepi jalan dekat pantai. Dia berjalan menuju sebuah mini market untuk membeli beberapa kaleng minuman beral-kohol. Mikael duduk di hamparan pasir sambil meneguk minuman yang dia beli. Wajahnya mengadah ke atas, menatap langit malam yang kini berhiaskan bintang-bintang. Dari cerita semasa kecilnya, seseorang yang telah meninggal akan menjadi salah satu bintang di langit malam. Itu artinya Sophia menjelma menjadi salah satu bintang di langit yang kini tengah dipandang lekat oleh Mikael. Kini dia hanya bisa menyalahkan dirinya atas semua kekacauan yang terjadi. “Maafkan aku Sophia, harusnya aku tidak memanggilmu kemaren malam.” Matanya mulai berkaca-kaca, dia menggenggam pasir yang dia duduki saat ini. Mikael menangis karena kebodohannya. Dia berdiri dan berteriak kapada lautan yang luas. Punggung tegap tersebut terlihat bergetar oleh tangisannya. “Arhhhhhh!” Mikael melempar kaleng kosong yang dia genggam. “Aku memang bodoh! Tuhan mengapa kau membiarkan aku hidup selama ini?” teriak Mikael yang kembali berlutut di hamparan pasir. Angin pantai yang berhembus seolah menjawab semua pertanyaannya. Ombak yang menggulung seolah ikut menyalahkannya. Mikael terlihat frustasi dan sangat kecewa. Hatinya sangat hancur. Mengapa harus dia yang menjadi alasan dari kematian seorang gadis malang seperti Sophia? Mengapa Tuhan memilihnya menjadi seseorang yang sepanjang hidupnya akan dihantui oleh perasaan bersalah dan beban atas ketidakmampuannya mengungkapkan kebenaran? Apa salah Mikael sebenarnya?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN