Anggukan Terakhir sang kakek

758 Kata
Malam itu, hawa dingin cukup membuat bulu kuduk terangkat. Fikri hanya bisa duduk termenung di selasar masjid pondoknya ketika mengingat kembali kesalahan yang telah ia lakukan. Seandainya saja ia mematuhi perkataan ayahnya, semuanya pasti tidak akan berakhir dengan penyesalan. Ia tentunya masih bisa merasakan aura tenang penuh kewibawaan yang senantiasa terpancar dari wajah kakeknya. Saat ini, hanya penyesalanlah yang ia rasakan. Rasa kesal dan bersalah yang ia rasakan malam itu membuat air matanya mulai mengalir. Hijaunya tanaman yang ada disekitar selasar masjid semakin membuat fikri larut dalam kesedihan dan terus menerus menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi. Ia kembali menerka-nerka kejadian saat itu. “Assalamualaikum, Fik,” Ujar seseorang melalui panggilan whatsapp “Iya, Waalaikumussalam.” “Fik, kondisi kakekmu semakin memburuk, sekarang sedang berada di ruang ICU!” Ujar seseorang tersebut yang ternyata pamannya Fikri. “Innalillahi, terus sekarang bagaimana?” tanyanku dengan cemas. “Sebaiknya kamu pulang agar bisa berjumpa dengan kakekmu karena umur merupakan kuasa Allah, tidak ada yang tahu” “Iya, Paman. Fikri coba kasi tahu ayah dulu sekalian izin ke Kyai.” “Iya, kabarin secepatnya biar tidak terlalu lama. Kita juga tidak tahu berapa lama kakekmu akan bertahan.” “Iya, paman.” Kebetulan, Fikri saat itu sedang kuliah daring. Dia seorang mahasiswa di salah satu kampus di Yogyakarta yang kuliah sambil mondok. Selepas panggilan tersebut, Fikri bergegas untuk menghubungi ayahnya mengabarkan terkait perkataan pamannya tadi. “Assalamualaikum, Yah.” “Waalaikumussaalam, Fik.” “Yah, tadi paman Syawal telfon ngabarin tentang kondisi kakek. Fikri disuruh pulang dan izin ke ayah.” “Oh, iya fik, pulang saja tidak apa-apa. Eh, tapi kuliahnya bagaimana?” “Kuliahnya online pekan ini, jadi Insyallah bisa izin.” “Oh, iya. Kalau begitu sekalian izin ke kyainya juga ya.” “Iya, pak. Fikri sekalian izin juga ke kyai.” Beberapa saat selepas berbincang dengan ayahnya, Fikri segera beranjak untuk mengurus perihal izinnya di pondok tempat ia belajar. Pada hari itu, suasana hatinya senantiasa diliputi rasa resah dan khawatir. Pikirannya selalu tertuju pada seorang sang sangat berjasa mendidik dan mengajarkan berbagai macam ilmu agama kepadanya. “Punten kang, saya mau izin pulang, kakek saya sedang kritis di ICU!” “Oh, iya. Nanti setelah jam ngaji ashar langsung ke ndalem saja, saya antar.” “Nggih kang, matursuwun.” Rifki berencana untuk pulang menggunakan kapal laut, mengingat untuk sampai ke rumah ia harus menyeberangi pulau jawa dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai tujuan. “Rif, transportasinya mau pake kapal laut?” tanya ayahnya kembali melalui panggilan suara whatsapp “Iya, pak. Nanti setelah pesan tiket kereta rifki sekalian pesan tiket kapalnya.” “Kalau saran ayah mending pakai pesawat saja biar cepat sampai karena kita belum tahu bagaimana kondisi kakek kedepannya!” “Tapi kalau pesawat lumayan yah, apalagi kalau beli tiketnya mendadak begini. Mending kapal laut aja.” Rifki tetap pada pendiriannya untuk pulang menggunakan kapal laut. Ia enggan untuk menuruti saran dari ayahnya. Sejak sore itu, ia terus menanyakan kabar kakeknya kepada ayahnya melalui w******p. Sedari Maghrib, ia sudah mulai menyiapkan beberapa barang yang dibutuhkan selama berada di rumah besok. Ketika sedang berbaring di kamar, selepas shalat isya berjamaah, hpnya berbunyi yang menandakan seorang meneleponnya. “Ki, kamu ga perlu pulang!” ucap seseorang dengan nada lirih yang disertai isak tangis “Kenapa, yah?!” jawab Rifki dengan mengernyitkan dahi dan beranjak dari berbaringnya “Kakek udah gaada!” “Innalillahi…” “Kamu batalin aja tiketnya. Percuma, pake kapal laut itu bakal makan waktu yang lama, kamu sampai sini kakek udah dimakamkan, ga bisa ketemu!” Derai air mata menjadi akhir dari perjalanan malam itu. Semuanya terasa hancur berkeping-keping. Dunia seakan tidak berpihak kepadanya. Rifki hanya bisa terdiam atas kenyataan pahit ini. “Seandainya saja aku mengikuti perkataan ayah untuk pulang menggunakan pesawat, aku pasti bisa bertemu kakek walaupun dalam keadaan yang sudah tidak seperti dulu lagi.” Ia hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Semua ini akibat ketidakpatuhannya kepada perintah orangtua. “Hei, Rif. Kamu kenapa?” tegur Hanif yang membangunkan rifki dari lamunannya “Eh, iya Nif. Gaada kok, ga ada apa, aman.” “Yakin?” “Iya Nif. Aman kok, ga ada apa-apa.” “Yuk ke kamar istirahat, besok harus mujahadah lagi!” “Iya nif, kamu duluan aja.” “Hmm, Okay.” Ketika Hanif sudah beranjak pergi, Rifki kembali melamun mengingat semua kejadian waktu itu. Kali ini ia meneteskan air mata sebagai bentuk penyesalannya atas apa yang telah dilakukannya. Beruntunglah kalian yang masih dianugerahi keluarga yang masih lengkap. Pertahankan, jangan kecewakan mereka!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN