Bab 4

1105 Kata
Mobil hitam itu melaju pelan melewati gerbang besar dengan lambang keluarga Cortez yang terukir megah di atasnya. Di balik pagar besi tinggi itu, berdiri sebuah rumah besar bak istana, bergaya arsitektur klasik Italia dengan halaman hijau luas dan air mancur di tengahnya. Puluhan penjaga berseragam hitam berdiri berjajar di sepanjang jalan masuk, matanya tajam, penuh kewaspadaan. Aurel yang duduk di kursi penumpang menatap pemandangan itu dengan d**a berdebar kencang. Tangannya dingin, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuannya. Ia tak pernah membayangkan akan datang ke tempat semegah dan semenakutkan ini. Setiap langkah, setiap tatapan penjaga, membuat napasnya terasa berat. Mobil berhenti di depan teras utama. Aurel menelan ludah, matanya terus bergerak ke kanan dan kiri. Samuel yang duduk di sampingnya melirik sekilas, menyadari gerak gugup wanita itu. Tanpa banyak bicara, ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Aurel. “Jangan gugup,” ucapnya datar, tapi nadanya mengandung ketenangan yang anehnya justru membuat jantung Aurel berdetak lebih cepat. “Tarik napas dalam.” Aurel menatapnya cepat, tapi matanya segera kembali ke pangkuannya. Ia mencoba mengikuti arahan itu, tapi napasnya tersengal dan pendek. Samuel memandangnya sejenak, “Aurel!” panggilnya dengan nada lebih tinggi. “Tarik napas dalam.” Aurel terkejut, bahunya menegang. Ia menuruti perintah itu, menarik napas panjang hingga dadanya terangkat, lalu menghembuskannya perlahan. Satu kali. Dua kali. Dan entah kenapa, detak jantungnya mulai tenang. Samuel melepaskan genggamannya, lalu membuka pintu mobil. “Sekarang turunlah. Ikuti langkahku, dan jangan menunduk terlalu lama,” ujarnya singkat sebelum keluar terlebih dahulu. Aurel mengangguk kecil, lalu mengikuti. Di hadapannya, dua barisan penjaga memberi hormat singkat pada Samuel sebelum mereka berjalan beriringan menuju taman belakang. Taman itu dipenuhi aroma bunga mawar dan suara lembut air mancur. Namun di tengah keindahan itu, atmosfernya terasa berat. Di sana, seluruh keluarga besar Cortez telah berkumpul di bawah tenda putih megah, pria-pria berjas gelap, wanita-wanita anggun dengan tatapan tajam, dan di tengah mereka, seorang pria tua duduk di kursi roda, dengan rambut memutih dan sorot mata yang masih tajam meski usianya telah menua. Dialah Nicholas Cortez, kepala keluarga besar itu, kakek Samuel. Saat Samuel dan Aurel melangkah masuk ke area pertemuan, semua percakapan langsung terhenti. Puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Beberapa menatap dengan rasa ingin tahu, sebagian lain dengan keterkejutan. Aurel bisa merasakan setiap pandangan menusuk kulitnya. Ia menunduk sedikit, berusaha tetap tenang seperti yang Samuel ajarkan. Namun genggaman tangannya di sisi gaunnya menandakan sebaliknya. Samuel berdiri tegak di sampingnya, tatapannya datar, langkahnya mantap seolah tak terpengaruh sama sekali. Di depan mereka, Nicholas Cortez menatap tajam ke arah cucunya, lalu berpindah ke Aurel, wajah tuanya tak menunjukkan emosi apa pun, hanya tatapan yang menilai dalam diam. Suasana taman seketika hening ketika Samuel dan Aurel berhenti tepat di hadapan kursi tempat Nicholas Cortez duduk. Nicholas yang sudah renta, dengan rambut peraknya yang disisir rapi ke belakang, menatap cucunya dengan sorot tajam namun penuh wibawa. Bibirnya membentuk garis tipis sebelum akhirnya ia bersuara dengan nada berat. “Siapa wanita yang kau bawa kali ini, Samuel?” tanyanya penuh kuasa. Samuel melangkah maju selangkah dan sedikit menunduk sopan. “Selamat siang, Kakek,” ucapnya tenang. “Aku harap Kakek selalu sehat dan diberi umur panjang.” Nicholas hanya mengangkat alisnya, menunggu penjelasan yang sebenarnya ingin ia dengar. Semua orang di sekitar mereka menahan napas, memperhatikan. Samuel lalu menoleh ke arah Aurel yang berdiri sedikit di belakangnya, lalu kembali menatap sang kakek dengan tatapan mantap. “Perkenalkan,” katanya dengan suara tegas namun berwibawa, “ini Aurel Monica, istriku.” Kata itu menggema di udara, membuat seluruh keluarga terperangah. Beberapa wanita menutup mulut mereka tak percaya, sementara beberapa pria menatap Samuel dengan pandangan tajam dan penuh tanda tanya. Nicholas terdiam beberapa detik, menatap cucunya dengan mata yang sulit terbaca. Lalu tiba-tiba, tawa berat keluar dari mulutnya, tawa keras yang menggema di seluruh taman. Semua orang terkejut, tak tahu apakah tawa itu pertanda senang, sinis, atau justru marah. “Hahaha! Samuel, Samuel…” ucap Nicholas di sela tawanya. “Kau memang selalu memberi kejutan. Kali ini kau pulang dengan seorang istri?” Ia menatap Aurel tajam, pandangannya menelusuri dari ujung kepala hingga kaki. “Selamat datang di keluarga Cortez, Aurel Monica.” Ia menoleh ke arah seorang pria paruh baya yang berdiri di belakangnya, asisten pribadinya yang selalu sigap di sisi kursi roda itu. Asistennya itu langsung mendorong kursi roda, membawa Nicholas kembali ke ruangannya. Meninggalkan jamuan itu dalam suasana yang semakin menegang. Kini Aurel duduk di samping Samuel di salah satu meja bundar yang telah disiapkan untuk jamuan keluarga. Di hadapannya, hidangan dessert berlapis cokelat dan stroberi tampak begitu indah, namun Aurel bahkan tak sanggup menyentuhnya. Ia masih bisa merasakan tatapan tajam dari setiap sudut, tatapan yang menelanjangi, menilai, dan mempersoalkan keberadaannya di sana. Di antara semua orang itu, hanya Samuel yang duduk tenang di sampingnya, menyandarkan tubuh di kursi dengan wajah datar seperti batu. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya seseorang dari meja seberang membuka suara. Suaranya penuh nada ejekan. “Jadi… ini rencana barumu, Samuel?” ujar seorang pria berjas abu-abu, dengan senyum sinis yang jelas-jelas dibuat untuk mempermalukan. “Kau menikah mendadak dan langsung mengenalkannya ke Kakek di hadapan semua orang? Cerdas. Apa kau pikir itu akan membuat Kakek menyerahkan warisan padamu lebih cepat?” Beberapa orang di sekitar meja itu tertawa kecil, seolah menikmati tontonan yang baru dimulai. Samuel tidak langsung menanggapi. Ia menatap pria itu dingin. Kursi bergeser keras. Samuel berdiri, dengan sorot mata tajam dan tenang yang membuat pria tadi terdiam di tempat. “Pertemuan keluarga ini seharusnya untuk menghormati Kakek, bukan tempat orang-orang kecil mengukur ambisi,” katanya pelan, tapi setiap katanya terdengar tajam dan menusuk. “Aku tak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun di sini.” Aurel yang sejak tadi menunduk, terkejut saat Samuel menatapnya dan mengulurkan tangan. “Ayo,” katanya singkat. Aurel terdiam sejenak, tapi akhirnya menuruti. Ia bangkit perlahan dan menerima uluran tangan itu. Tatapan-tatapan tajam langsung mengikuti langkah mereka yang meninggalkan taman, membelah kerumunan yang kini hanya berbisik-bisik dengan suara pelan. Samuel berjalan cepat tanpa menoleh, sementara Aurel berusaha menyesuaikan langkahnya di belakang. Begitu mereka melewati pintu kaca besar menuju lorong dalam rumah megah itu, barulah Samuel berhenti. Aurel menatap punggung Samuel yang masih tegak dan tegas. “Tuan Samuel…” panggilnya pelan, namun pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, lalu menoleh setengah, matanya yang kelam menatap Aurel tanpa emosi. “Mulai sekarang, jangan terlalu memperhatikan apa yang mereka katakan,” ujarnya datar. “Keluarga ini hidup dari permainan dan kepura-puraan. Jika kau terlalu lembut, mereka akan mematahkanmu tanpa ampun.” Keduanya pun melanjutkan langkah mereka dalam keheningan yang penuh tegangan. “Samuel.” Tiba-tiba suara Nicholas menghentikan langkah keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN