Selamat Jalan Mawar

1711 Kata
Malam semakin larut, kicauan burung semakin sahut menyahut, suara kicauan para binatang pun terdengar sangat merdu namun mencekam. Embusan angin terasa dingin menusuk hingga tulang, Fauzi sedang mempersiapkan tempat mandi di taman belakang di temani oleh Papi dan Rey. Seperti biasa, Nyai sudah lebih dulu berjaga dan menepati janjinya karena sudah dipersilahkan oleh Fitri, Nyai akan selalu ada di setiap waktu saat Tata membutuhkannya. Saat ini, langkahnya tak lagi ragu untuk maju berdampingan dengan Tata. Butuh waktu selama kurang lebih enam tahun untuk mendapatkan izin yang susahnya sangat luar biasa. Beberapa penjaga anak buah Nyai juga sudah berjaga di tempatnya masing-masing. Waspada saja, khawatir jika nantinya akan ada yang usil mengingat saat dilakukannya ritual mandi adalah jam mereka berkeluyuran. "Sudah, Zi?" "Sudah, Pi." "Berapa lama lagi?" "Sekitar lima belas menit lagi, Pi." "Kalau begitu, Papi masuk manggil yang lain ya. Kamu gak pa-pa disini?" "Gak pa-pa, Pi. Tenang saja, sudah kebal, hehe." "Baiklah. Hati-hati ya kamu tengah malam gini, disini. Papi masuk dulu." "Aman, Pi." Papi berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Fauzi dan Nyai yang masih berada di taman belakang. Keduanya saling diam tak ada sepatah kata yang keluar hingga Aki datang ikut bergabung. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawab mereka berdua. "Tuan, apakah semuanya sudah siap?" "Insya Allah sudah siap, Aki." "Alhamdulillah. Semoga ritual mandi membuang aura negatif berjalan dengan lancar." "Aamiin." "Semoga kedepannya Nona Putri bisa menerima keadaan tanpa lari dari semua masalah yang akan dihadapi olehnya. Sebab, ini baru awal dan misi awalnya adalah menolong Mawar. Semoga Tuan Putri dengan ikhlas mempersilahkan Nona Putri membantu Mawar." "Nanti, aku akan mencoba memberi pemahaman pada Fitri agar memperbolehkan Tata membantu Mawar." "Iya, Tuan. Kasihan bocah malang itu," lirihnya. "Sekarang, kita fokus pada Nona Putri dulu, Nyai." "Iya, Aki." "Nyai, Aki," ucap kedua anak istimewa itu bersamaan. Keduanya hanya tersenyum saat di sapa. "Gimana, Ay? Sudah siap?" "Sudah. Ayo kita mulai sebentar lagi. Tata sudah menanggalkan semua pakaiannya, Bun?" "Sudah, Ay. Aman, bisa langsung di mulai." "Sini, Nak. Disini duduk simpuh!" perintah Fauzi. Tata berjalan ke arahnya dan mulai duduk bersimpuh sesuai dengan perintah Ayahnya. Matanya menatap keseluruh taman, banyak sekali pasang mata yang sedang menyaksikannya duduk bersimpuh seperti itu. Tiba-tiba embusan angin menerpa wajah dan tubuhnya, seketika langsung menggigil sebab anginnya menusuk hingga tulang. "A-ayah, di-dingin," ucapnya terbata. Nyai yang melihat Tata menggigil langsung mendekat dengan anggun dan merentangkan kedua tangannya lalu membentuk seperti bola dan di sekitar Tata mendadak hangat. "Makasih, Nyai." "Sama-sama, Nona Putri." "Sudah bisa di mulai ya." Mereka semua mengangguk, kedua tangan Fauzi menengadah ke atas, meminta pertolongan dari Gusti Allah melalui air tersebut dan meminta agar Tata ditenangkan hati dan jiwanya. Kembali seperti sediakala tanpa adanya guncangan mental yang selalu membuatnya ketakutan. Fauzi mulai mengguyur kepala anaknya, guyuran pertama hingga ketiga masih terasa sangat hangat tetapi saat guyuran keempat hingga ketujuh, Tata menggigil hebat. Padahal, di sekitarnya sudah dikelilingi pagar agar menghangatkan. "Aaahhhh!! Tidaaakkk!! Tidaaaakkk!!" teriaknya tiba-tiba membuat semua orang tertegun. Fitri dengan sigap berlari menghampiri anaknya, di susul oleh Rey yang mengekor dibelakangnya lalu mencoba menenangkannya. Tubuh Tata semakin terguncang dan bergetar hebat, matanya melihat keatas sampai bola matanya terlihat hanya putihnya saja. Air mata mulai menetes membasahi wajah Tata. Fitri terus bershalawat dengan lirih tepat di telinga anaknya. Rey juga ikut bershalawat dengan suara yang lirih dan merdu. "Tidaakkk!! Sudah, cukup!! Jangan!! Jangan ditabrak!!" teriaknya lagi semakin histeris. Bayangan kecelakaan terlihat jelas dalam ingatan Tata, potongan kejadian demi kejadian seperti puzzle yang harus di satukan namun masih belum bisa sempurna karena masih banyak yang belum terlihat potongan puzzlenya. Fitri menatap suaminya meminta pertolongan, tapi Fauzi saja bingung harus berbuat apa, sedangkan kedua orang tua Fitri hanya diam membisu, mereka seperti flashback saat Fitri juga seperti itu, dulu. Fitri menatap Aki dan Nyai, mereka berdua hanya tersenyum dan menggeleng lemah. "Tenang, semua akan baik-baik, saja." "Ta-tapi sampai kapan Tata histeris seperti ini?" "Sebentar lagi, tenang Tuan Putri." "Ba-baik." "Jangan ada yang melamun!" perintah Aki. Mereka semua terdengar bershalawat dengan tenang. Tata mulai bisa tenang dan kembali tenang lalu tiba-tiba pingsan. Fauzi langsung menggendong anaknya masuk ke dalam rumah ditemani oleh Fitri dan Mami. Sedangkan Papi dan Rey membereskan segala kekacauan tadi. Tata sudah berganti pakaian dan tidur dalam damai. *** Seminggu berlalu, mereka semua sudah kembali ke rumah keluarga Sukmaya. Keadaan Tata sudah kembali seperti sedia kala, tak ada lagi tangis dan rasa takut yang berlebihan. Sudah mulai berangkat sekolah juga, banyak sekali teman-temannya yang bertanya kenapa tidak berangkat, begitu juga dengan Melati dan Maminya. Mereka seakan kehilangan jejak Tata yang menghilang entah kemana. Untuk yang pertama kalinya, Tante Rosa main ke rumah Tata bersama dengan Melati. Sengaja mengajak Melati agar ada alasan untuk bisa bertemu dengan Tata dan Fitri. Awal ke rumah masih basa-basi mempertanyakan kenapa Tata tidak berangkat dan lain sebagainya. Fitri paham betul, pasti Maminya Mawar itu sudah ingin meminta tolong tapi saat di ceritakan kondisi Tata sebelumnya mengurungkan niatnya. Tapi, saat main ke rumah untuk yang kelima kalinya, Fitri menyambut dengan baik dan sangat hangat. Rencananya Fitri memang akan memperbolehkan Mawar untuk duduk di tubuh Tata, sebab Tata juga sudah menyanggupi dan tidak masalah. Mereka duduk di ruang keluarga, tanpa Fauzi sebab dirinya sedang lembur di hari minggu ini. "Apakah Mbak benar-benar memperbolehkan Tata untuk membantu?" tanya Mami Mawar hati-hati. "Iya, Mbak. Saya sudah memperbolehkan. Tatanya juga sudah bisa rogo sukmo, keadaannya juga sudah baik-baik saja dan sudah bersedia untuk membantu. Tapi, mohon maaf, kami hanya membantu untuk kalian bisa berinteraksi sekali ini saja dan tidak lebih." "Mohon maaf, kami hanya menjaga Tata agar tidak terlalu jauh melangkah dan justru akan membahayakan dirinya." "Baik, saya paham, Mbak. Saya tidak akan minta yang macam-macam, cukup berbicara dengan Mawar saja sudah lebih dari cukup." "Baik, kalau begitu. Adik, silahkan dimulai." Tata langsung duduk bersila, menyatukan kedua tangannya dan mulai memejamkan mata. Rey berada tidak jauh dari Tata dan membuat pagar gaib agar adiknya tidak diganggu makhluk iseng yang lain. "Mami," panggilnya dengan suara yang berbeda. "Assalammualaikum, Mawar," sapa Rey. "Waalaikumsalam, Abang." "Ma-mawar …," lirihnya. "Mami … apa kabar?" tanyanya dengan bibir bergetar. "Ba-baik, Nak. Ini beneran kamu, Mawar?" tanyanya ragu. "Iya Mami. Aku pinjam tubuh, Tata." "Mi … aku kangen, hiks," tangisnya pecah. "Mawar, Sayang. Hu hu hu, Mami juga rindu, Nak. Sangat amat rindu, hu hu hu." Mereka berpelukan, menyampaikan rindu yang tak pernah bisa lagi tersampaikan karena berbeda dunia. "Maafkan, Mami, Nak. Maafkan Mami yang tak layak dipanggil Mami karena tak mampu menjagamu dengan baik, Nak." "Mami hu hu hu, Mami hu hu hu," tangisnya semakin histeris. "Mawar, kontrol diri, ingat ini tubuh Tata," ucap Rey mengingatkan, sedangkan Fitri hanya mampu menatap nanar tanpa bisa berkata apa-apa. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Maminya Mawar. Sakit dan merasa tak pantas sebagai Ibu karena tak bisa menjaga anaknya dengan baik. "Ma-maaf, Bang." "Tenang, ya." "Iya, Bang." "Mi, jangan pernah menyalahkan diri sendiri lagi. Sudah cukup selama ini Mami terpuruk dan menyalahkan diri sendiri. Mawar sudah baik-baik saja, Mi. Sudah senang dan sangat bahagia. Mawar, sekarang sudah punya kaki, Mi. Mawar memang bahagia tapi merasa sepi tidak ada kalian. Maafkan Mawar yang belum bisa menjadi anak yang baik ya, Mi." "Kamu sudah bahagia ya, Sayang? Mami ikut bahagia jika memang kamu sudah bahagia, Nak. Kamu adalah anak yang hebat, Sayag. Mami sangat bahagia pernah memilikimu, Nak." "Nak, maafkan semua kesalahan Mami ya. Maafkan semua kesalahan Papi. Jangan ada dendam di hatimu ya, Nak. Jadilah bidadari surga yang kelak akan menjadi tabungan kami di akhirat." "Apa Papi akan sampai surga, Mi? Papi 'kan jahat," celetuk Melati. Semua mata memandang ke arahnya. "Kak," panggil Melati. "Mela …," lirihnya. "Mela, jangan bicara seperti itu ya, Dik. Bagaimanapun Papi saat ini, dirinya tetaplah orang tua kita. Dik, kakak titip Mami ya. Jaga Mami sama seperti adik menjaga diri sendiri. Sayang dan cinta Mami seperti adik sayang dan cinta sama diri sendiri. Jangan pernah tinggalkan Mami sendirian ya, Dik." "Kak, maaf kalau dulu Adik selalu nakal. Adik janji akan selalu menjaga Mami." "Mi, Mawar boleh minta sesuatu?" "Boleh, Nak. Minta apa?" "Doakan Mawar, Mi. Jangan pernah lupa untuk mendoakan Mawar, gak pa-pa kalau Papi lupa dan tidak anggap Mawar. Tapi, Mawar mohon, Mami dan Adik selalu doakan Mawar dan kirim Al-Fatihah buat hadiah, Mawar." "Baik, Nak. Pasti Mami akan selalu hadiahkan untukmu. Maaf, jika Mami sering melupakanmu. Percayalah, Nak, Mami sebenarnya tidak melupakanmu tapi Mami berusaha untuk tetap waras karena ada Melati yang harus diurus. Kamu tetap anak Mami, belahan jiwa Mami, Nak. Kalian sama dimata dan dihati, Mami. Cinta dan sayang Mami tak pernah berbeda untuk kalian." "Makasih ya, Mi, Dik. Aku sayang sekali sama kalian." "Ibun … Abang … terimakasih. Terimakasih sudah mengizinkan Tata untuk membantu Mawar." "Sama-sama," jawab mereka serempak. "Sampaikan salam Mawar untuk Tata. Maaf, Mawar harus segera pergi dan pamit pada kalian semua. Mawar sudah bisa pergi dengan tenang." "Ma-mawar mau kemana?" "Pergi ke alam yang seharusnya, Mi. Mawar sudah selesai menyelesaikan misi ini, Mawar sudah berhasil menemukan orang yang menjadi jembatan agar kita bisa berinteraksi dan Mawar sudah tenang sekarang. Jaga diri Mami dan Adik baik-baik, ya." "Wassalammualaikum." "Waalaikumsalam," jawab Rey dan Fitri serempak. "Mawarrrr!" teriak Maminya histeris. Ia tak menyangka, hanya beberapa menit saja bisa berinteraksi dengan anaknya. Tata pingsan untuk beberapa menit lalu sadar dan langsung meneguk habis air yang diberikan oleh Rey. "Mawar sudah pergi dengan tenang. Ternyata, Mawar mencari Tata cuman ingin menyelesaikan misinya saja." "Tante, yang ikhlas ya, doakan Mawar selalu agar tenang di alamnya." "Hu hu hu, Mawar … maafkan Mami, Nak. Hu hu hu," tangisnya kembali pecah. Melati langsung memeluk Maminya dengan penuh sayang dan cinta. Tubuh Tata masih terasa lemas, Fitri memeluk anaknya juga. Mentransfer energi positif pada anaknya, begitu juga dengan Rey. Mereka tak membiarkan Tata sampai kehabisan tenaga sebab akan membuat Tata justru sakit nantinya. Mawar sudah kembali ke alamnya dengan tenang, tugasnya sudah selesai. Selama ini, ia bergentayangan karena merasa masih mempunyai tugas menyerahkan Maminya pada orang yang sangat ia percaya. Melati, ialah orang yang dipinta Mawar untuk menjaga Maminya. Mawar meninggal bukan di waktu yang tepat atau bisa dibilang belum waktunya meninggal, maka dari itu masih ada tugas yang belum selesai. Ketika, ia sudah berhasil menyelesaikan tugas dan misi yang tertunda maka ia akan kembali ke alamnya selamanya. Membawa secercah harapan indah dan yakin bahwa ia meninggalkan orang yang sangat dicinta dan disayang dengan orang yang tepat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN