Gangguan Tengah Malam

1580 Kata
Delapan belas tahun yang lalu, sepasang suami istri sedang harap-harap cemas menantikan kelahiran sang buah hati. Malaikat kecil yang benar-benar sangat dinantikan, pasalnya setelah bayi kedua lahir maka lengkaplah sudah keluarga kecil mereka yang mempunyai sepasang anak lelaki dan perempuan. Hari perkiraan lahir masih sekitar satu bulan lagi namun yang Fitri sudah sering kali merasakan kontraksi dan mungkin itu adalah kontraksi palsu. Saat ini keluarga kecil Fauzi sedang duduk bersama sambil menonton tv. Reynaldi sedang duduk di sebelah Fitri sambil mengelus perut buncit Ibun-Fitri- yang di dalamnya ada adik kecil. Fauzi yang melihat pemandangan indah tersebut hanya bisa menarik ujung bibirnya, senyum yang selalu ia perlihatkan setiap kali melihat Rey-anak pertamanya- dengan sangat mesra mengelus perut Ibun Fitri. "Rey," panggil Ayah Fauzi. "Iya, Ayah?" balas Rey, anak mungil berusia lima tahun yang sedang asik bermain di perut sang Ibun. "Bahagia, Nak?" "Bahagia kenapa, Ayah?" "Bahagia karena sebentar lagi, Abang Rey akan memiliki seorang adik bayi yang kecil mungil. Iya 'kan, Ayah?" "Betul sekali, Ibun. Terlihat sekali Rey sangat bahagia, karena ia selalu posesif pada perut buncitmu itu, Bun, haha," ledek Ayah. Reflek Rey mendekat dan memukul lengan Ayahnya. "Jangan bilang perut Ibun buncit, Ayah! Ini ada adik bayi, Rey. Ayah nakal!" Begitulah Rey, ia selalu spontan bersikap seperti itu setiap kali Ayahnya meledek Ibunnya. "MasyaAllah, Abang Rey sayang Ibun dan adik bayi, ya?" Rey menganggukan kepalanya dan langsung mendekat ke arah Fitri, memeluk sang Ibun dengan sangat erat. "Ayah! Ingat ya! Jangan pernah bilang perut Ibun buncit, nanti Abang pukul, loh," ancam Rey membuat sang Ayah terkekeh. "Rey, anak baik, tampan dan nurut gak boleh pukul-pukul seperti itu. Bilang sama Ayah yang baik, Nak. Ayah, jangan ledekin Ibun terus, nanti Abang cium loh, begitu lebih baik, 'kan, Sayang?" "Tapi Ibun ... Ayah itu nakal! Suka sekali ledek, Ibun. Abang gak suka," ucapnya parau. Begitulah Rey, dia akan lemah jika di hadapan sang Ibun. Rey anak yang patuh dan terkadang suka menangis jikalau apa yang dilakukannya membuat Ibun tak suka. "Hey jagoan, jangan menangis! Kalau jagoan menangis, bagaimana nanti bisa menjaga adik kecil? Ayolah sayang, Ayah minta maaf ya, sini peluk!" perintah Ayah Fauzi dan membuat Rey menubruk tubuh kekarnya, tangan mungilnya mencoba memeluk erat tubuh kekar tersebut walaupun merasa kesulitan. Fitri hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakukan ayah dan anak yang menurutnya sangat menggemaskan. Namun, tiba-tiba di saat suasana yang hangat ada sesuatu yang membuat mereka terkejut. Ibun Fitri melihat ada sekelebat bayangan di balik tirai yang membelakangi tv dan Ayah Fauzi pun melihatnya. Ibun Fitri mendadak diam tak bergeming, jujur ia sudah terbiasa melihat semua itu namun dalam keadaannya yang hamil besar seperti ini sering kali merasa takut karena mereka selalu datang dengan tiba-tiba. Tubuh Ibun Fitri menegang, peluh keringat mulai muncul di wajahnya, Ayah Fauzi yang menyadari perubahan sikap Ibun mulai paham bahwa istrinya itu merasa takut. Ia menggenggam tangan istrinya seraya menenangkan dan berkata bahwa semua baik-baik saja. "Ada yang datang!" teriak Rey tiba-tiba membuat sepasang suami istri itu saling pandang dan menyadari bahwa Rey merasakannya. "Jangan mendekat ke arah Ibunku! Aku memang tak melihatmu tapi aku bisa merasakanmu!" teriaknya lagi membuat Ibun Fitri menguatkan genggaman tangannya. "Abang, ada apa, Nak?" Fitri mencoba memberanikan diri bertanya pada anaknya. "Ibun, tenang ya, ada Abang dan Ayah. Ibun akan baik-baik saja," balasnya dengan tatapan tulus. Tatapan seorang anak lelaki yang sangat mencintai Ibun dan calon adik bayinya. Tatapan berbinar takut kehilangan terlihat jelas sekali dari sorot mata bening itu. "Abang, bagaimana kalau kita ke kamar saja, ayo?" ajak Ayah Fauzi mencoba mencairkan suasana agar tidak tegang. "Tapi Ayah, dia belum pergi. Dia masih berjaga di sekeliling rumah ini. Abang tak ingin Ibun dan Adik bayi kenapa-kenapa," ucapnya begitu sangat dewasa. Usianya baru lima tahun dan akan menginjak usia enam tahun namun pikirannya sudah sangat dewasa. "Tenang, 'kan ada Ayah, Nak." Ayah Fauzi mencoba menenangkan anak sulungnya itu. Rey nampak berpikir dan sepertinya ia mulai menimbang, lebih baik ke kamar atau tetap di ruang tv bersama Ayah dan Ibunya. "Tunggu sebentar lagi, Ayah." "Baiklah. Ayah akan menunggu Abang sebentar lagi," jawab Ayah Fauzi tenang. "Bukan menunggu Abang, tetapi menunggu makhluk jelek itu pergi, Ayah." "Apakah Abang melihatnya?" tanya Ibun dengan sangat hati-hati. Rey menatap Ibunnya yang terlihat sangat ketakutan lalu ia menggeleng lemah. "Abang tidak melihatnya, Bun. Tapi, Abang bisa merasakannya, kalau saja Abang bisa melihatnya sudah Abang tanya mau apa dia kesini," jawab Rey dengan tenang. "Sudah, bagaimana kita lanjutkan saja menonton tvnya? Sepertinya sambil ngemil enak deh, ya?" Rey mengangguk dan tersenyum senang. "Mbok!" teriak Ayah memanggil Mbok. "Iya Tuan," balas Mbok mendekat ke arah majikannya. "Mbok, minta tolong ambilkan cemilan dan minuman menyegarkan ya," pinta Ayah. "Baik Tuan." "Eh, Mbok … Abang minta makanan kesukaan ya," cegah Rey saat Mbok Siti akan melangkah ke dapur. "Siap Aden, laksanakan." "Terimakasih Mbok Cantik," puji Rey membuat Mbok Siti tersipu malu dan menggelengka kepala saja mendengar pujian dari tuan mudanya itu. Mbok Siti berjalan menuju ke dapur mengambil beberapa cemilan dan minuman segar untuk keluarga Sukmaya. Fitri masih diam tak bergeming, rupanya ia masih merasakan takut dengan kejadian tadi. Rey menatap Ibunnya dengan sangat lekat sekali, ia pandang wajah Ibunnya yang ayu dan meneduhkan itu. "Ibun, cantik sekali ya," ucapnya tiba-tiba membuat Ibun Fitri menoleh ke arahnya dan tersenyum kaku. "Apa sayang? Kenapa?" tanya Ibun, ia sedikit tak mendengar ucapan anak tampannya itu. "Ibun cantik, kalau orang cantik jangan banyak melamun," pujinya membuat sang Ibun tersenyum tulus dan memeluknya. "Haha, Rey pandai sekali merayu rupanya ya. Bakat banget merayu wanita ini sepertinya," celoteh Ayah Fauzi. "Ibun cantik 'kan, Ayah?" tanyanya menoleh ke sang Ayah. "Pasti cantik dong sayang, kalau gak cantik mana mungkin Ayah menikah dengan Ibun. Ibun bukan hanya cantik wajahnya Nak, tapi hatinya. Tetapi, Ibunmu itu terlalu penakut, Nak, haha," ledek Ayah membuat Ibun mengerucutkan bibirnya. "Ayah, Abang 'kan sudah bilang, jangan nakal! Ngerti gak, sih! Gara-gara Ayah, Ibun jadi manyun seperti itu! Nanti kalau Adik bayi ikutan manyun gimana coba? Ya Allah masa adik bayinya Abang nantinya manyun," ucapnya penuh drama membuat kedua orang tuanya tertawa terbahak-bahak. Mbok Siti datang membawakan cemilan dan minuman yang di minta. Ia meletakkannya tepat di hadapan Fitri namun tiba-tiba gelasnya terjatuh karena Mbok melihat dari cermin ada sosok tinggi besar memakai jubah warna hitam. "Astaghfirullah!" teriak Mbok Siti. "Mbok, ada apa?" tanya Ibun terkejut. "Mbok! Gimana, sih! Kalau kenapa Ibun gimana coba?" "Maaf Aden, Mbok minta maaf." "Mbok, ada apa?" Mbok ingin mengucapkan sesuatu namun Ayah Fauzi memberi isyarat dan menahan agar Mbok tidak berbicara apapun. "Mungkin Mbok gak sengaja, Bang. Ayah ngantuk nih, bobo aja yuk. Sudah malam juga, besok aja kita lanjutkan menonton filmnya, bagaimana jagoan?" "Besok 'kan kata Ayah kita mau berenang, kenapa jadi nonton film lagi?" protes Rey. Ia memang begitu apabila sudah dijanjikan. "Masya-Allah, Ayah lupa, Nak. Ya sudah, tunggu apa lagi? Ayo kita istirahat karena besok akan pergi jalan-jalan dan berenang, ye ye ye," seru Ayah Fauzi. "Ye ye ye, asik kita berenang. Ayo Ayah kita bobo," balas Rey lebih seru dari sang Ayah. "Ibun, adik bayi, Abang bobo dulu ya sama Ayah." Rey mencium perut buncit Ibun Fitri dan mencium kening Ibunnya. Rey bersikap sangat mesra sekali pada Ibunnya. Bocah kecil itu merasa sangat menyayangi dan mencintai sang Ibun. "Iya, Sayang. Selamat bobo Abang Rey tercintanya, Ibun." Fitri memeluk mesra tubuh mungil anaknya dan mengecup kening anaknya. Ayah dan anak tersebut meninggalkan sang Ibun dan Mbok di ruang tv. Fitri memandang kedua jagoannya hingga punggung mereka menghilang dan tertutup oleh sebuah dinding sebagai penghalang setiap ruangan. *** "Mbok, ada apa?" tanya Fitri perlahan. Ia masih melihat Mbok Siti yang diam tak bergeming tanpa kata. Mbok Siti berusaha menelan slavinanya dan mencoba berbicara namun rasanya sulit sekali. Ibun dengan susah payah mengulurkan tangannya dan memegang bahu Mbok Siti lalu mengucapkan doa sebagai penenang. "Nyonya," cicit Mbok Siti menatap nanar sang Nyonya. "Kenapa? Ada apa?" "Ada lelaki tinggi besar, berjubah hitam, Nyonya." "Dimana?" tanyanya dengan mata yang cukup waspada melihat ke arah sekeliling dan memperhatikan setiap sudut ruangan. "Di cermin," ucapnya lirih. "Sekarang masih?" "Sudah tidak ada, Nyonya." "Alhamdulillah. Mbok tenang ya, memang akhir-akhir ini semenjak kehamilanku semakin membesar mereka yang tak kasat mata sering kali muncul secara tiba-tiba. Mbok gak pa-pa, 'kan?" "Gak pa-pa, Nyonya. Mbok hanya terkejut saja, padahal dulu saat Nyonya hamil Aden juga sudah sering melihat, mungkin sekarang Mbok lebih banyak melamun jadinya sering kali terkejut." "Sholawat ya, Mbok. Bantu Fitri, doain Keluarga Fitri agar semua baik-baik saja." "Pasti, Nyonya. Tapi Nyonya, apa tadi Aden tidak merasakan ya?" "Belum sempat merasakan tetapi sudah dicegah oleh Ayahnya. Lebih baik begitu, Mbok. Fitri takut jika Rey mengamuk hampir tengah malam seperti ini." "Pantas saja, tadi Tuan menahan Mbok dan memberi isyarat untuk diam." "Hehe, iya Mbok. Benar sekali." Fitri meringis merasakan tendangan luar biasa dari dalam perutnya. "Nyonya baik-baik saja?" tanya Mbok sangat khawatir. "Gak pa-pa, Mbok. Adik bayi sedang menendang, mungkin ngajak main tapi sudah hampir tengah malam. Fitri ngantuk, Mbok." "Mau diantar masuk ke kamar, Nyonya?" tawar Mbok Siti. "Boleh, tapi seperti biasa Mbok tidak boleh keluar dari kamar sebelum Tuan datang ya," pinta Fitri lembut. "Baik Nyonya, laksanakan." Mbok membantu Fitri berdiri dan memapahnya perlahan berjalan menuju kamar majikannya itu. Fitri sudah merasa kesulitan untuk berjalan sebab merasa beban di perutnya sudah sangat luar biasa. Wanita hamil itu sering kali terengah-engah setiap kali jalan dari kamar ke dapur hanya untuk mengambil minum atau memasak untuk anak dan suaminya. Mereka sampai di kamar, dan sesuai dengan permintaan Fitri, Mbok tidak keluar kamar sebelum suaminya masuk ke dalam kamar setelah menidurkan Rey. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN