EPS 2

1021 Kata
Malam ini Mita masih penasaran akan nasibnya dirumah ini. Karna tadi pagi Mita belum mendapatkan jawaban dari apa yang dia tanyakan pada boss nya.Mita memutuskan untuk menemui Kevin. Mita keluar dari kamarnya dan mulai mencari keberadaan bosnya. Terlihat dimeja makan Kevin yang sedang memainkan sendok dan garpuhnya, nasi dan lauk yang masih tertata dipiringnya seolah tak menggugah selera makannya. Mita yang awalnya berniat untuk menanyakan berapa nominal utang ibunya menjadi berfikir dua kali ketika melihat Kevin yang murung seperti itu. "Tuan keliatannnya sedang memikirkan sesuatu?" Mita mulai memecahkan lamunan Kevin. Kevin kaget akan kedatangan Mita lalu berpura-pura memilah lauk mana yang akan ia suapkan pada mulutnya.Namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. "Meskipun saya orang yang baru tuan kenal, saya adalah orang yang cukup bisa dipercaya tuan," kata Mita meyakinkan Kevin agar mau bercerita. Kevin menoleh pada Mita lalu menatapnya tajam, seperti pemburu yang sedang mengintai buruannya. Mitapun takut dan menundukkan kepalanya. " Bagaimana saya bisa percaya, jika tadi pagi saja kamu berani menyimpan kartu nama ibu saya kan?," tanya Kevin sambil meletakan garpuh dan sendok yang berada digenggaman tangannya. Mitapun kaget langsung menatap Kevin, dari mana dia tahu jika ibunya memberikan kartu namanya kepadaku tadi.Tak lama Mitapun bergegas melangkah pergi menuju kamarnya untuk mengambil kartu nama ibu Penti dan menyodorkannya diatas meja dihadapan Kevin. Ditaruhnya kartu beserta handpone miliknya. "Silahkan, tuan bisa memeriksa Hp saya jika tuan tidak percaya bila saya belum menyimpan nomor telepon nyonya." Beberapa saat Kevin diam hanya melihat kartu nama yang ada dihadapannya. "Tuan, sebenarnya saya iri pada tuan karna masih disambangi oleh nyonya, tuan masih bisa berbincang, memeluk beliau atau sekedar menatap senyum yang terlihat diwajahnya, Sedangkan saya sudah tidak mungkin bisa seperti itu." kata Mita menghela nafasnya. "Kamu tidak tau apa yang sudah terjadi." "Tapi saya yakin bahwa nyonya benar-benar menyayangi tuan." "Tidak tau rasanya dikhianati oleh orang-orang yang kamu sayangi kan?" kata Kevin. Matanya mulai memerah."Aku lebih baik ditinggalkan mati daripada harus dikhianati." Kevin berteriak-teriak dan memukul meja makan sampai garpuh, sendok, piring, serta isinyapun ikut berhamburan.Mita bingung akan emosi Kevin yang seketika berubah drastis. Mitapun semakin panik melihat reaksi Kevin seperti ini. Mita tak tahu apa yang sudah terjadi dalam hidup bosnya . Mita takut, kaget dan kasian melihat bosnya.Kepalan tangan Kevin masih berada diatas meja, terlihat guratan urat-urat tangannya disertai sisa getaran amarah yang belum tuntas Kevin keluarkan. Mita memberanikan diri perlahan mendekati Kevin, pelan-pelan Mita menaruh kedua tangannya diatas kepalan tangan Kevin. Entah kenapa Kevin merasa tenang akan genggaman tangan Mita. Kevinpun menunduk dan menghela nafas panjang. Beberapa menit kemudian Kevin berdiri tanpa kata lalu pergi meninggalkan Mita sendiri. Mitapun melihat kedua telapak tangannya seolah tidak percaya apa yang sudah dia lakukan pada bossnya tadi. *** "Mah, kenapa sudah malam masih diluar? nanti masuk angin lho mah," kata Rian yang melihat sang mamah yang sedari tadi melamun di halaman rumah. "Mamah cuma kefikiran Kevin," sambil tetap terpaku melihat ikan-ikan dikolam. " Ngapain sih mah mikirin dia, orang dia aja enggak mau kita peduliin.Udahlah mah anak mamah kan bukan cuma Kevin." "Mamah udah janji sama almarhum papa buat jaga dia nak,tapi sampai saat ini mamah belum bisa jaga dia, ngerawat dia seperti mamah merawat kamu," ibu Pentipun terisak tak kuasa menahan air matanya. Rianpun segera memeluk ibunda tercintanya erat-erat, mencoba menenangkan kegundahan hati sang mamah. *** Pagi ini Mita membuat pancake untuk sarapan bossnya."Pancake ini harus special, selain untuk menghibur tuan yang sedang mumet, pancake ini juga yang akan mengawali pembicaraanku dengan tuan. Semangaaaaat!!!" kata Mita sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Terdengar suara langkah kaki Kevin yang turun dari tangga.Mitapun bergegas menyuguhkan pancakenya. " Selamat pagi tuan!!!!" " Pagi," jawab Kevin singkat sambil menarik kursi di meja makan. "Ini kamu bikin sendiri?" tanya Kevin melihat pancake cantik yang ada dihadapannya. "Tentu," sambil meletakan secangkir teh untuk teman pancakenya. Apa ini waktu yang tepat untuk bertanya? Sepertinya suasana hati tuan sudah membaik.Mita memberanikan diri mulai bertanya."Tuan boleh saya melanjutkan pembahasan yang tertunda kemarin?" "Memang Kemarin kita membahas apa?" tanya Kevin sambil tetap mengunyah pancakenya. Mita menghela nafas. "Itu tuan soal gaji dan hutang saya, kemarin kan tuan belum sempat menjawabnya," Mitapun mengigit bibir bawahnya karna takut salah berucap. "Kamu yakin mau tau?" jawab Kevin manatap Mita serius. Mita mengangguk cepat. Kevin menghentikan makannya, dia lalu memegang kepalanya dengan satu jari dan memejamkan matanya, seolah sedang mengingat berapa jumlah uang yang sudah dipinjamkan kepada almarhumah ibu Imah dulu.Mita menunggu beberapa detik tak kunjung Kevin membuka matanya, membuat Mita semakin penasaran. Ketika Kevin membuka matanya terlihat Mita dihadapannya yang semakin serius menatapnya tanpa berkedip. Kevinpun tersenyum melihatnya.Mita lalu segera memalingkan pandangannya. "Sekitar 45 juta." "Apa!!!" Mita syok mendengarnya seakan tidak percaya ibunya memiliki hutang sebegitu banyak. "Nanti akan saya perlihatkan tanda terimanya," Kevinpun melanjutkan sarapannya. Mita menelan ludah mencoba kuat menerima kenyataan hidup. "Lalu berapa gaji saya?" Kevin tidak menjawabnya dia asik mengunyah pancake yang ada dimulutnya.Kevin hanya memberi kode dengan mengacungkan jari telunjuknya lalu diiringi dengan lima jarinya. "Apaaa!!!" kedua kalinya Mita kaget. Kevin lalu menyeruput teh hangatnya. "Kamu tidak perlu khawatir, saya akan memberikan 1 juta untuk keperluan hidup kamu dan sisanya untuk menyicil hutang. Baik bukan boss kamu ini." "Bagaimana saya bisa cepat melunasi hutang ibu saya kalo gaji saya cuma segitu," Mita mulai emosi. "Itu gaji yang tinggi untuk pegawai baru seperti kamu, saya belum tahu juga seberapa besar kemampuanmu untuk mengurus rumah ini. Kamu harusnya bersyukur saya tidak memotong semua gaji kamu untuk membayar cicilan," "Aku tidak peduli," teriak Mita. "Hmmm.... Sudahlah, saya sudah telat untuk berangkat, hari ini saya akan pergi keluar kota selama 4-5 hari, jadi saya minta kamu tidak pulang malam dan jangan membawa orang lain masuk kerumah saya, apalagi laki-laki. Mengerti?" "Iya." "Apa?" "Iyaaaa,"teriak Mita. " Sepertinya kamu kurang mengerti." " Iya Kevin,"jawab Mita sambil menatap Kevin. " Kamu memanggil nama? Sungguh tidak sopan." " Aku tidak peduli, seperti halnya kamu yang tidak peduli dengan gajiku," tatap Mita pada Kevin. " Liat saja nanti, akan aku buktikan diluar sana aku akan mendapatkan gaji lebih besar dibandingkan ditempatmu. Dasar orang kaya pelit," Kata Mita yang masih tidak terima. "Mita jangan lupa Kunci pintunya!!" teriak Kevin sambil berjalan meninggalkan Mita. "Aku tidak peduli!!!!!!" kata Mita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN