“Aku pikir perempuan seperti kamu tidak takut mati.” Pria itu menyeringai melihat wajah pucat Kansa. “Ternyata sama saja.” Pria itu kemudian mengedik kepala. “Keluar sekarang. Dan jangan berani-berani melarikan diri atau melakukan sesuatu yang membuatku marah. Aku hanya perlu mengangkat telepon, dan nyawa ibumu akan lepas dari raganya.” Mendengar ancaman pria itu, Kansa melangkah keluar dari dalam kotak besi. Gadis itu menghentikan ayunan kaki sesaat, sebelum kembali berjalan mengikuti pria asing itu. Dua tangannya terkepal. Bola mata gadis itu bergerak ke kanan kiri, namun ayunan kakinya tidak berhenti. D*danya bergerak kentara naik turun. Sampai kemudian pria di depannya berhenti berjalan di depan sebuah pintu kamar. Kansa menelan saliva susah payah. Buku kuduknya sudah berdiri semua

