“Aku membantumu bukan karena aku peduli. Aku hanya tidak ingin kamu terlalu lama sakit. Enak sekali kamu tidak mengurus rumah karena alasan sakit. Debu dimana-mana. Lalu kamu tidak memasak untukku. Kamu pikir aku bisa masak?” Kunyahan Kansa berhenti. Gadis yang dari awal menyuap memilih menundukkan kepala, kini mendongak. Tak butuh detik terlewat, tatapannya langsung terkunci sepasang mata tajam Sultan. Kansa menekan katupan rahang sebelum melanjutkan gerak sepasang gerahamnya. Kotak berisi makanan itu sudah berpindah tangan. Sambil menghembus napasnya, Sultan menyendok nasi dan potongan bistik sapi. Menambahkan potongan sayur pakcoy, kemudian mengangkat sendok yang sudah penuh tersebut. Membawa sendok tersebut ke depan mulut Kansa. Kansa menatap Sultan. Menelan kunyahannya terlebih dah

