BAB 5

2254 Kata
Nana merentangkan kedua tangannya ke atas, meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa remuk karena terlalu lelah dengan kegiatannya kemarin. Setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam di dalam helikopter, dia juga harus berkeliling memutari area kontruksi yang luas ini. Dirinya baru bisa tidur pukul 11 malam karena tempat ini yang membuat suasana hatinya tak nyaman. Terlebih karena fakta dia serumah dengan atasannya, menjadi alasan paling utama dia sulit memejamkan kedua matanya semalam. Nana mengucek matanya yang masih terlihat mengantuk. Namun saat menyadari waktu menunjukan pukul 06.23, cepat-cepat dia turun dari ranjangnya. Meskipun sebenarnya dia masih ingin merebahkan dirinya di kasur empuk itu. Langkahnya lunglai menuju pintu dengan sesekali mulutnya terbuka lebar karena menguap. Tempat tujuannya adalah kamar mandi yang hanya ada satu di dalam rumah itu, dia ingin mencuci muka lalu membuat sarapan sebelum dirinya mandi dan bersiap-siap melakukan pekerjaan hari ini. Namun langkah Nana terhenti dikala mendengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi, sepertinya penghuni lain rumah ini sedang mandi sekarang. Nana berdecak, lantas kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Dia akan membuat sarapan saja. Setibanya di dapur, Nana tersenyum saat mendapati kondisi dapur cukup bersih meski tak luas. Peralatan memasak pun lengkap tersedia di sana. Nana melangkah mendekati lemari es yang diletakan di pojok kiri dapur. Membuka pintunya dan lagi-lagi tersenyum melihat ada beberapa bahan makanan yang ternyata sudah disiapkan di dalam lemari es. “Hmm ... bikin omlet aja deh sama s**u,” gumam Nana, dia pun mengambil sebutir telur dan s**u kemasan yang ada di dalam lemari es. Nana tampak menikmati aktivitas memasaknya, dia sedikit bersenandung dengan sesekali menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan mengikuti alunan lagu yang dia senandungkan. Di lihat dari segi mana pun, sosok Nana terlihat tak memiliki beban hidup apa pun. Wanita itu tampak menikmati hidupnya dengan gembira, tanpa orang lain ketahui begitu banyak masalah yang menimpa Nana kini. Dimulai dari dirinya yang hidup sebatang kara, tak ada satu pun sisa keluarga yang dia miliki setelah neneknya tewas. Sahabat baiknya, Rachel ... yang biasanya menjadi teman curhatnya kini tinggal jauh darinya. Ya meskipun ada Diana, tapi mengingat Diana berprofesi sebagai dokter yang tentunya sibuk menangani pasien-pasiennya, Nana tak enak hati jika harus mengganggunya hanya karena dirinya sedang membutuhkan teman mengobrol. Kemampuannya yang bisa melihat makhluk mistis menjadi salah satu masalah hidupnya. Meskipun sekarang Nana sudah mulai terbiasa dan tidak ketakutan lagi seperti dulu. Mungkin masalah yang paling Nana pikirkan saat ini adalah masalah hatinya. Dulu dia yakin bisa melupakan Araya dengan mudah, tapi nyatanya tak seperti itu. Padahal sudah satu tahun berlalu sejak Nana memutuskan untuk menolak pria itu. Tapi lihatlah ... sampai sekarang dia masih belum berhasil move on dari sosok cinta pertama sekaligus mantan boss-nya tersebut. “Kamu masak apa?” Nana yang tengah asyik melamun itu terperanjat kaget saat sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya. Refleks dia menoleh ke arah belakang, namun pemandangan yang dilihatnya sukses membuatnya berteriak histeris tanpa sadar. “Ya ampuun, Pak. Kenapa Anda berdiri di belakang saya dengan penampilan seperti itu?!” Teriak Nana seraya bergegas memalingkan tatapannya dari sosok sang atasan yang hanya mengenakan sehelai handuk putih di pinggangnya. Wajah Nana memerah bagaikan tomat sekarang. Bagaimana tidak merona, dia melihat pria tampan bertubuh tinggi dengan tubuh kekar yang menggoda. Abs pada perut dan otot dadanya yang terbentuk sempurna menandakan pria itu sangat menjaga tubuhnya, sering berolahraga sepertinya. Rambut acak-acakan dan basahnya sehabis keramas, aroma maskulin dari sabun dan shampoo yang dipakai pria itu beserta air yang masih menetes di sekujur tubuh pria itu terlihat seksi di mata Nana. “Maaf, tadi saya mencium wangi makanan. Sepertinya lezat makanya saya ke sini. Saya kira bukan kamu yang masak.” “Memangnya ada orang lain yang memasak di sini?” “Ya, ada warga di sekitar sini yang bekerja sebagai juru masak di sini. Kamu sedang memasak apa?” Nana bergidik tatkala merasakan napas seseorang menerpa kulit lehernya. Saat Nana memberanikan dirinya untuk menoleh ke arah belakang, dia kembali terperanjat kaget atau tak percaya lebih tepatnya, melihat atasannya yang dia ketahui bernama Neval tengah mengintip masakannya dari balik bahunya. Pria itu berdiri tepat di belakangnya dengan posisi yang cukup dekat. “Sepertinya kamu ini tipe orang yang mudah kehilangan fokus ya? Atau kebanyakan melamun?” “Haah?” Sahut Nana, tak paham. Namun, bukannya memberikan penjelasan, pria itu justru menunjuk ke arah masakan Nana dengan dagunya. Nana mengernyitkan dahinya tak paham, tapi toh dia ikuti juga arah pandang sang atasan. “Ya ampuuun, omletnya gosong!!” Teriak Nana, panik luar biasa. Dia hendak mengangkat wajan dimana omletnya sudah gosong mengenaskan di dalam sana. Namun karena terlalu panik, Nana mengangkatnya tanpa menggunakan kain lap. “Haduuuh ... panas!!” Teriaknya histeris. Seketika wajan panas itu pun terlepas dari tangannya. Jatuh membentur lantai dengan menimbulkan suara nyaring yang membahana di dalam dapur, tentu dengan omlet gosongnya yang ikut berhamburan di lantai. Nana berjongkok, berniat membersihkan kekacauan yang dibuatnya pagi ini. Jika saja suara tawa seseorang tak membuatnya jengkel hingga harus membuatnya mendelik horor ke arah sang pemilik tawa, siapa lagi kalau bukan sang CEO muda, Rex Ernesto. “Kenapa Pak Neval malah menertawakan saya? Ini salah bapak lho karena bapak tiba-tiba berdiri di belakang saya. Saya jadi terkejut.” “Dan kehilangan fokus atau lagi sibuk berfantasi yang aneh-aneh ya?” Sela Rex disela tawa renyahnya. “Tidak lucu, Pak. Omlet untuk sarapan saya jadi gosong karena bapak.” Nana menggerutu tak suka, tak peduli meskipun dia sedang bicara dengan atasannya sendiri. Berbeda saat dirinya bicara di hadapan Araya dulu, di depan atasannya yang sekarang, Nana tak merasa gugup atau pun canggung. Mungkin karena pria itu lebih banyak mengajaknya bicara jika dibandingkan Araya dulu yang sangat irit bicara. Nana merasa lebih mudah mendekatkan dirinya dengan atasan barunya ini. “OK, OK, saya minta maaf. Jadi sekarang apa rencana kamu?” Tanya Rex. “Pastinya saya mau masak lagi, kan tidak mungkin saya memakan omlet gosong ini.” “Bagus,” seru Rex, sontak membuat Nana mengernyit tak mengerti. “Kok bagus, Pak?” “Bagus karena kamu jadi bisa sekalian membuatkan saya omlet juga. Tolong buatkan satu ya untuk saya.” Nana melongo ketika melihat Rex melenggang pergi begitu saja setelah seenak hatinya meminta Nana memasakan omlet untuknya. “Oh iya, jangan lupa minumannya,” kata Rex, dia melirik ke arah s**u kemasan yang sudah Nana siapkan. “Karena saya tidak suka s**u, jadi tolong buatkan teh manis atau kopi saja ya. Sampai jumpa di meja makan,” lanjutnya. Lalu sosoknya benar-benar menghilang di balik pintu. Nana menghela napas panjang, memejamkan matanya sejenak guna meredam emosinya yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Detik itu juga Nana tahu, sosok atasannya yang sekarang ini sangat berbahaya. Lebih berbahaya dari Araya. Dan jangan lupa dia juga tak tahu sopan santun, mungkin urat malunya juga sudah putus. ***  Dua orang yang tengah menyantap omlet itu tampak tenang. Tak ada suara yang terdengar selain sendok dan piring yang saling beradu. Nana fokus memotong omlet di piringnya, meski rasa kesalnya pada pria di hadapannya belum sepenuhnya hilang. Paginya yang seharusnya cerah dan penuh semangat untuk bekerja, hancur karena ulah pria yang sialnya adalah atasannya sendiri. “Eheeem!” Rex berdeham cukup kencang. Tentu Nana mendengarnya, namun coba dia abaikan. Nana tetap fokus pada omletnya, berpura-pura tak mendengarnya. “Terima kasih ya omletnya. Rasanya enak. Saya suka,” ucap Rex tiba-tiba, mau tak mau akhirnya membuat Nana mendongak, menatapnya dengan terpaksa. “Sama-sama, Pak,” jawab Nana, dia tersenyum meski hatinya dongkol. “Mulai sekarang, setiap hari kamu aja yang masak untuk kita berdua ya.” “Kok saya yang masak, Pak? Bukannya ada yang bekerja sebagai juru masak di sini?” Nana tak terima dirinya disuruh memasak setiap hari. Istri bukan, apalagi babu. Dia bekerja di perusahaan ini bukan untuk menjadi babu, kan? “Saya lebih suka masakan kamu,” jawab Rex, yang membuat Nana bungkam, tak berkutik. “Tenang, nanti saya beri uang tambahan buat kamu.” “Maaf ya, Pak. Saya bukan babu.” “Babu?” “Eheeem ... pembantu rumah tangga maksud saya,” jawab Nana, menjelaskan saat melihat Rex menaikkan sebelas alisnya. “Ya sudah, berarti kamu masak untuk kita berdua tanpa dibayar.” Dan Nana pun melongo tak percaya. Pria di hadapannya ini sungguh pemaksa. Nana menolak jadi perancang resort tapi tetap dipaksa untuk bekerja sebagai sekretaris merangkap sebagai perancang. Sekarang masalah memasak pun, dia kembali dipaksa. Nana menggeram dalam hatinya. Sayang seribu sayang pria menyebalkan ini adalah atasannya. Memilih tidak peduli dengan ucapan maupun keberadaan sang atasan, Nana kembali fokus pada makanannya yang memang belum dia habiskan. “Nana,” panggil Rex. “Iya, Pak,” sahut Nana malas. “Kamu sudah punya pacar? Karena suami jelas kamu belum punya kan? Saya lihat di CV kamu, kamu masih berstatus belum menikah alias lajang.” Pertanyaan macam apa ini? Nana kembali mengernyitkan dahinya. “Maaf ya, Pak. Tapi pertanyaan bapak terlalu pribadi. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.” Jawab Nana, menolak menjawab pertanyaan konyol yang dilontarkan atasannya. “Jelas ada hubungannya, kamu kan sekretaris saya. Saya berhak tahu tentang status kamu. Kita pasti sering terlihat bersama, saya khawatir saja pacar kamu salah paham.” “Anda tidak perlu khawatir, Pak. Kebetulan saya belum punya pacar.” “Ooh,” jawab Rex seraya menyeringai. Tanpa Nana ketahui Rex tengah mencaritahu hubungan Nana dengan rival abadinya, Araya. Karena semua yang berhubungan dengan Araya selalu menarik perhatian Rex termasuk Nana, mantan sekretaris Araya yang kompeten namun anehnya dilepaskan begitu saja oleh orang seteliti dan secerdas Araya. Kira-kira hal inilah yang mengganggu Rex sekaligus membuatnya penasaran. “Dulu saat kamu masih jadi sekretaris Araya Addison. Apakah hubungan kalian dekat?” Tanya Rex tiba-tiba. Nana yang telah menyelesaikan sarapannya, mendelik tak suka mendengar pertanyaan ini. “Maksud Bapak?” “Saya sering mendengar rumor beberapa sekretaris terlibat hubungan terlarang dengan atasannya. Ya, walaupun tidak semua sekretaris seperti itu. Tapi ...” “Tolong ya, Pak. Jangan berpikir yang tidak-tidak tentang saya. Saya bukan wanita seperti yang bapak pikirkan. Saya datang untuk bekerja bukan untuk menggoda atasan saya,” ujar Nana, berapi-api. Tentu saja dia tersinggung. Lebih menyebalkannya lagi sang atasan bagi Nana, bukannya meminta maaf, pria itu justru mengangguk-anggukan kepalanya dengan seringaian misterius tercetak di wajahnya. “Berarti saya memilih wanita yang tepat untuk jadi sekretaris saya,” ucapnya, kali ini Rex tersenyum lembut, membuat Nana bergidik ngeri melihatnya. Di tengah-tengah ketidaknyamanan yang sedang dirasakan Nana, dia bersyukur saat suara ketukan pintu terdengar. Siapa pun orang yang mengetuk pintu itu, bagi Nana ... orang itu merupakan penyelamatnya dari sosok pria aneh seperti Rex. Tampan sih, tapi aneh. Nana jadi mulai takut dan curiga pada atasannya itu. Tanpa basa-basi, Nana berjalan cepat menuju pintu. Menatap heran pada seorang pria yang berdiri di depan pintu. Pria itu sepertinya salah seorang pekerja kontruksi jika melihat dari seragam yang dikenakannya. Keringat bercucuran di wajahnya dengan napas terengah dan raut wajah yang terlihat sedang ketakutan. “Kenapa, Pak?” Tanya Nana karena si pria masih diam membisu. “Maaf, Bu. Pak Rex ada?” “Pak Rex? Dia tidak ada di sini,” jawab Nana jujur. Karena setahu dirinya pria yang tinggal di rumah ini bersamanya bernama Neval Maxime bukan Rex Ernesto. “Ada apa?” Baik Nana maupun pria itu terkejut bukan main saat sebuah suara tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Sosok Rex yang berdiri menjulang tinggi di belakang Nana lah pelakunya. “Pak, kami menemukan mayat di area kontruksi,” ucap sang pekerja, langsung ke intinya. Rex dan Nana terbelalak kaget bersamaan. Tentu saja yang paling terkejut di sini adalah Nana, baru sehari dirinya berada di tempat ini dan sekarang masalah besar terjadi. “Antarkan saya ke sana!” Titah Rex, lalu melenggang pergi tanpa mengajak Nana. Nana yang merasa dirinya harus tahu apa yang tengah terjadi, mengikuti langkah dua pria yang berjalan cepat di depannya.   Begitu tiba di lokasi kejadian. Nana membekap mulutnya, menahan agar suara teriakan tak meluncur keluar dari mulutnya tanpa kehendaknya. Mayat itu hanya berupa potongan tangan kanan dan kiri, lalu potongan kaki kanan dan kiri. Tak ada tubuh utama maupun kepalanya. “Kami menemukan potongan tubuh ini di tempat yang terpisah pak. Seperti ada yang sengaja melemparkannya berlainan arah.” Salah seorang pekerja menjelaskan tanpa Rex repot-repot bertanya. Rex terlihat tenang, tak tampak panik sedikit pun meski sudah dua kali ditemukan mayat dengan kondisi mengenaskan di area kontruksi miliknya. “Kalian tahu ini mayat siapa?” Tanya Rex, meski dirinya menyadari cukup sulit menemukan identitas si mayat karena tak ada kepala maupun tubuh utamanya. “Sepertinya ini mayat Jaka, Pak.” Rex menoleh, memfokuskan atensinya pada pemilik suara yang menyahutinya. “Darimana kamu tahu ini mayat Jaka?” “Itu, Pak, dari cincin kawin yang dia pakai. Semalam saya sempat melihat cincin itu dipakai Jaka.” “Iya, betul itu, Pak. Saya juga lihat cincin itu dipakai Jaka.” Dua orang pekerja yang semalam terlibat obrolan dengan Jaka memberikan kesaksian mereka. Rex memalingkan pandangannya, kini tertuju pada sebuah cincin emas yang melingkar di jari manis potongan lengan kanan si mayat. “Jadi semalam dia masih hidup?” Kali ini Nana yang bertanya. “Masih, Bu. Semalam kami masih ngobrol-ngobrol. Tapi dia  pergi duluan, katanya izin ke toilet. Dia tidak kembali ke tempat kami berkumpul, kami kira dia tidur di tenda. Tapi ternyata ...” Pekerja itu menggantung ucapannya, terlihat iba melihat jasad rekannya yang semalam masih bercengkrama dengannya kini sudah tak bernyawa. “Pak. Gawat, Pak!!” Teriak salah seorang pekerja yang berlari memasuki area kontruksi. Rex mendengus tak suka, baru saja dia mendengar kabar buruk tentang penemuan mayat ini, sekarang kabar buruk apa lagi yang harus dia dengar? “Ada apa?” Rex bertanya dengan tegas dan tak sabaran. Dia tak peduli meskipun pekerjanya itu masih berusaha mengatur napasnya yang terengah. “Ada demo di depan, Pak. Banyak warga yang demo meminta pembangunan resort dihentikan.” Rex kembali berdecak, lebih kencang dari sebelumnya, kentara begitu kesal. Nana menggeser tubuhnya ke samping, memberikan Rex jalan ketika mendapati pria itu melangkah dengan wajah memerah menuju tempat terjadinya demo. Nana mengikuti langkah pria itu dalam diam. Semakin waswas karena firasat buruknya tentang tempat ini ternyata terbukti benar. Memang ada yang tidak beres di tempat ini.   Setibanya di tempat demo, kedua mata Nana terbelalak sempurna. Jumlah warga yang tengah berteriak-teriak itu lebih banyak dari yang dia perkirakan, seolah seluruh warga desa ikut andil dalam demo ini. “Jangan teruskan pembangunan resort di sini. Kalian mengganggu ketenangan penghuni tempat ini. Dia akan marah jika kalian tidak berhenti!!” Kira-kira teriakan itulah yang mereka lontarkan dengan serempak. “Pergi dari sini!! Jangan mengusik tempat ini jika kalian ingin selamat!!” Nana tertegun, bergegas membalik badannya membelakangi para pedemo. Tatapannya lurus dan menajam ke arah gunung yang menjulang tinggi di hadapannya. Ada apa sebenarnya di gunung itu? Benarkah pelaku pembunuhan ini adalah penghuni gunung itu? Jika memang benar dia pelakunya, makhluk apa sebenarnya dia hingga mampu membunuh menusia sekejam ini? Batin Nana penuh dengan tanda tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN