NUM Bab 6

1313 Kata
Mas Aris menaut jariku, seolah ingin menahanku, namun, teriakan Bunda terdengar semakin keras. Aku melepas pegangannya dan berjalan masuk ke kamar. Terlihat sekali pikirannya sedang kacau saat ini. Itu hal yang pantas dia dapatkan bukan? mas Aris juga harus mendapatkan balasan atas penghianatan yang sudah dia lakukan. Larut mendekap malam, Bunda sudah lelap dalam tidurnya. Mataku sulit sekali terpejam, wanita lain dalam sebuah rumah tangga, sesuatu hal yang sama sekali tak bisa aku terima. Bagaimana bisa? Dan mengapa? Banyak pertanyaan berorasi liar dalam benakku ,menuntut sebuah jawaban. Malam semakin larut, tak jua mata mau menutup. Meski hanya sebentar, cukuplah menjadi penawar, untuk sejenak menghalau pergi kesakitan dan kegelisahan. Mataku memanas, ada lelehan hangat menyeruak, ini sakit, sakit sekali. Suatu hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, harus menerima kenyataan bahwa, hati telah terbagi, raganya pernah menyatu dengan perempuan lain. Aku juga bukannya seorang wanita yang lepas dari goda. Di kampus maupun tempat kerja, banyak yang menaruh hati. Namun, diri ini cukup menyadari sebagai seorang istri, aku akan selalu menjaga cinta suci ini. Menciptakan neraka untuk maduku, tentulah tak bisa menghapus luka, yang terlanjur menganga. Tak bisa mengobati perih yang terlanjur tercipta. Hanya setidaknya ada balasan kecil untuknya yang akan membuatnya jera, syukur-syukur mundur teratur. Lalu, bisakah biduk rumah tangga ini diselamatkan? Aku tak tau, biar waktu dan sikap Mas Aris yang menjawab. Pelan aku turun dari ranjang, sambil membawa selimut aku keluar kamar. Lelakiku itu sedang tertidur, kali ini di atas sofa. Pinggiran sofa dijadikan alas kepala, tangannya mendekap di d**a. Kubentangkan selimut menutup tubuhnya, sejenak mengamati wajah pria yang selama tiga tahun ini selalu tidur bersamaku. Aku tersenyum masam, menyadari cintaku yang begitu besar untuknya. Hanya saja, rasa sakit ini terlalu dalam dia tancapkan. Ngilu dan nyeri menyayat hati, bagai sebuah sembilu, mengiris perih, menyobek luka. Akan ada balasan pastinya, tak akan aku biarkan tenang hidupnya. Sekarang masih giliran bocah sunda* itu, biarkan dia menikmati dunia barunya. Diangkat untuk dijatuhkan, dipuji untuk dihancurkan. Aku masih butuh pria ini untuk membuat bocah sunda* itu merasakan sebuah kesakitan. Terlihat mesra di hadapan bocah itu, pasti akan membuatnya kesal, nikmati surgamu dulu bersamaku, mas. Nerakamu pasti akan terjadi suatu hari nanti. ••• Tepukan di pipi, membangunkanku, rasanya aku baru saja terlelap. "Sholat dulu," ucap Bunda. Setengah sadar aku memicingkan mata, kemudian bangun dari tidurku. Turun dari ranjang melangkah gontai keluar kamar. Perasaan aku baru saja memejamkan mata, kenapa sudah pagi saja. Pintu kamar Ibu juga sudah terbuka, tapi tak terdengar suara. Mas Aris nampak masih terlelap. "Mas, bangun sudah pagi." Aku menunduk kemudian menepuk pelan pipi mas Aris. Mata itu mengerjap malas, kemudian menyipit melihat ke arahku. "Dah pagi sayang?" tanyanya kemudian. "Iya," jawabku singkat, Kemudian berdiri. Tiba-tiba menarik tanganku hingga aku menimpanya. Sepertinya dia lupa, kami tak hanya berdua, atau memang dia sengaja melakukannya. "Mas rindu," ucapnya pelan. Aku berusaha bangun, tapi, mas Aris semakin memelukku erat. "Apa-apaan ini, mas?" Terdengar suara Indah, yang entah dari kapan sudah berada di ruang tengah. Aku yang semula akan bangun, membiarkan tubuhku tetap berada di atas tubuh mas Aris. "Mas, pasti lupa kalau lagi banyak orang yah?" ucapku manja. Tanganku menekan d**a bidang itu untuk bangkit saat mas Aris melepas pelukannya. "Sholat dulu, Rena tunggu di kamar depan," ucapku pelan, kemudian berjalan melewati Indah yang melihatku dengan wajah kesal. "Mas, semalaman tidur di sini sama dia?" tanya Indah kemudian. "Apa salahnya? Rena istriku juga kan?" "Iya, tapi aku kan lagi sakit, mas nggak perhatian sama sekali," ucap Indah. "Kan, sudah ada Ibu. Mas mau sholat dulu," balas mas Aris. Selesai mengambil wudhu, aku langsung menuju ke kamar depan, kamar yang kami jadikan untuk tempat sholat. Tak berapa lama, mas Aris juga masuk ke dalam kamar. "Sayang, nanti bareng mas aja ke tempat kerjanya," ucap mas Aris selepas solat, aku sedang melipat mukenaku. "Rena berangkat sendiri aja," ucapku "Siapa tau Bunda atau Ibu, butuh kendaraan. Jadi kamu bareng mas aja, biar motornya di rumah," ucap mas Aris lagi. "Terserah mas Aris," jawabku. "Tunggu," tahannya saat aku akan beranjak. "Ada apa?" tanyaku padanya. "Temani mas sebentar, disini," pintanya sambil menggenggam tanganku. "Rena harus bantu Ibu, buat sarapan," ucapku kemudian. "Sebentar saja," rengeknya. Mas Aris memang seperti bayi tua, dia suka bermanja padaku. Ah, semua terdengar begitu Indah, dulu. Indah … bocah bina* itu telah menghancurkan segalanya. "Rena … Ren," panggil Bunda. "Iya Bund," jawabku melepas genggaman tangan mas Aris dan beranjak. Bunda terlihat duduk di ruang tengah, sambil menyalakan tv di depannya. "Bikinin Bunda teh hangat," ucap Bunda saat aku keluar, "Gula nya dikit aja ya," lanjutnya. "Iya, Bund," jawabku, langsung bergegas ke dapur. Ibu baru keluar dari kamar mandi, Indah sepertinya ada di kanar. Ibu mengangkat dagunya sepertinya bertanya sedang apa, aku mengangkat gelas yang sudah aku isi dengan gula, Ibu mengangguk. "Indah sayang," teriak Ibu, memanggil Indah. "Iya, Bu," sahutnya, sesaat kemudian telah keluar dari kamarnya. "Tau nggak sayang, Ibu tadi hampir kepleset di kamar mandi," cerita Ibu ke Indah yang sekarang berdiri di depannya. "Tolong kamu sikat ya, biar nggak licin." lanjut Ibu kemudian. "Hah … sikat kamar mandi?" tanya Indah Kaget. "Kenapa kaget gitu?" tanya Ibu, Indah masih terdiam. "Hahahha, mana bisa dia bersihin kamar mandi, goreng kerupuk aja gosong," cibir Bunda yang menyusul ke dapur. "Heh, jangan salah, selain cantik, kaya, penurut, mantuku ini juga serba bisa, iya kan sayang?" "Anak manja gitu, jauhlah dibanding Rena anakku," balas Bunda. "Sayang, kamu tunjukkan ke Emak dan anak ini, bahwa kamu jauh lebih baik. Sana bersihkan kamar mandi, jangan biarkan Ibu terhina seperti ini." "Tapi, tangan Indah masih sakit," ucap Indah. "Hahaha, tuh kan. Memang dasarnya nggak bisa, pakai dipaksa segala," sindir Bunda lagi. "Indah, Ibu tak rela, kamu dihina seperti ini. Tunjukkan mereka salah tentangmu sayang," ucap Ibu, sambil mendorong Indah ke kamar mandi. "Sayang sikatnya pakai yang warna biru ya," tunjuk Ibu lagi. Selepas membersihkan kamar mandi, Ibu meminta Indah mencuci bajunya dan baju mas Aris dengan tangan, alasannya mesin cuci rusak. Dilanjutkan dengan menyapu dan mengepel rumah. Aku hanya menyiapkan makanan untuk sarapan. Mas Aris membawa laptop ke kamar depan, sepertinya melanjutkan pekerjaannya. "Mas kopinya," ucapku saat mas Aris sudah duduk di sofa depan tv. "Makasih ya," ucap mas Aris menerima cangkir kopi dari tanganku. "Mas mau sarapan nanti apa sekarang?" tanyaku ikut duduk di sampingnya. "Bareng-bareng saja," jawabnya. "Ya udah, sekarang aja, aku dah masak kok," ucapku, lalu bangun berdiri dan menarik tangan mas Aris. Indah baru saja meletakkan lap yang baru saja dia gunakan untuk membersihkan dapur, saat aku dan mas Aris sampai. Ibu dan Bunda sudah duduk dari tadi di meja makan sambil menyeruput teh hangat dan juga saling berbalas kata cibiran. Mas Aris menarik kursi, kemudian duduk. Aku berdiri di sampingnya menyendokan nasi kepiringnya. "Mas mau makan pakai apa?" tanya Indah yang ternyata sudah berdiri di samping kanan mas Aris. "Kan cuma ada capcay sama ayam goreng, mau pilih apa lagi?" celetukku pelan. "Biar Indah yang ladenin, Kakak duduk aja," ucap Indah kemudian. Aku hendak beranjak, saat tangan mas Aris menarik bajuku. "Biar Rena aja, dia dah tau porsi mas seberapa," ucap mas Aris. Aku tersenyum ke arah Indah, bocah itu membuang muka. "Bunda sekalian," ucap Bunda, "Sekalian mertua bawelmu itu," lanjutnya. Indah berdiri mematung, wajah lelah itu nampak kesal. Dia menghempaskan pantatnya kasar di kursi, lalu menyodorkan piringnya padaku. "Ambil sendiri," ucapku, beranjak duduk ke kursiku. Selepas sarapan aku segera mandi kemudian gantian mas Aris, Bunda pergi ke pasar, Ibu keluar alasan lari pagi di taman yang tak jauh dari rumah, padahal mereka janjian. Aku sudah rapi dengan pakaian kerjaku, saat mas Aris selesai mandi. Mendapati Bunda dan Ibu pergi, mas Aris langsung memelukku yang sedang berdiri di depan cermin. "Sayang, mas rindu," ucapnya. Ada pertarungan dalam hatiku, sisi lainnya tak bisa menerima, tapi satu sisi lainnya meminta untuk bertahan sementara. "Krumpyang …." Sengaja membiarkan pintu terbuka, aku yang menghadap ke arah pintu menangkap bayangab Indah yang pasti sedang mengamuk melihat pertautan bibir kami barusan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN