Berdebar ...

1616 Kata

Sania masih tertawa saat meninggalkan ruangan. Aku menarik mendekat buket bunga mawar itu. Menciumnya, harum … mendekap dalam d**a kemudian menyandar di kursi kerjaku. Seulas senyuman hadir di bibirku. Halah … kenapa kayak orang lagi kasmaran. Aku menaruh kembali bunga di atas meja. Dokter Kelvin, aku memejamkan mata mencoba mengingat sosoknya. Melihatnya saja baru sekali, untuk apa dia mengirim bunga. Tapi, apapun alasannya entah kenapa ada rasa suka, atas kiriman bunga ini. Bukan apa - apa, ini bunga pertama yang aku dapatkan. Mas Aris belum pernah memberiku bunga. Mulai dari kami pacaran sampai sekarang berpisah … eh bercerai. Jadi wajar, kalau aku merasa senang. ••• "San, Mbak mau keluar dulu. Kamu handle semuanya, ya. Telpon aja kalau penting." Aku berpamitan ke Sania yang sed

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN