PART 4 - AZHAR

1045 Kata
"Kak Zufar mana calonnya?" Tanya perempuan yang sedang asyik nyemil makanan ringan didalam toples. Perempuan itu sedang duduk disofa putih menghadap kearah laki-laki yang sedang memperhatikannya sekarang. Pertanyaan perempuan itu hampir saja membuatnya terjungkal dan ingin sekali ia hadiahi dengan timpukan bantal sofa. Coba lihat, setelah bertanya hal itu, tanpa rasa bersalah sedikitpun perempuan itu masih tetap sibuk memakan cemilannya yang tersisa hitungan jari. Tiba-tiba seorang laki-laki keluar dengan memakai kemeja warna abu-abu, yang dilengannya sudah tersampir jas berwarna hitam. "Ilham, bisa kamu ajari istrimu ini berkata yang tidak menyakiti perasaan orang?" Ucap Zufar yang kesal dengan kelakuan istri dari laki-laki berjas hitam itu. Ilham hanya tersenyum, dan Rumi beranjak untuk membenahkan dasi suaminya itu. "Salah sendiri, kenapa sampai sekarang tidak punya calon.." Jawab Ilham membela Rumi, dan perempuan itu sekilas menatap Zufar dan memberinya juluran lidah, tanda mengejek. Zufar terperangah. "Apa-apaan ini, kamu sebagai sepupuku seharusnya membelaku, bukannya membela Rumi." Ucap Zufar yang tidak habis fikir dengan sepupunya itu, bisa-bisanya sekarang dia dipojokkan oleh dua makhluk yang hampir tidak terpisahkan itiu. "Hei Kak Zufar, kita sekarang tahu kedudukan kita masing-masing bukan? Kamu sepupu, aku? Istrinya." Ucap Rumi dengan penuh penekanan dikalimat istri, kemudian dia tersenyum miring, yang semakin membuat jengkel Zufar, posisinya sebagai seorang sepupu, yang selalu mendapat pembelaan dari Ilham, kini malah terkalahkan oleh perempuan yang tengil seperti Rumi. "Rumi, kenapa sifat SMPmu masih ada sampai sekarang. Tetap saja tengil dan menyebalkan." Ucap Zufar. "SMP? Jadi kalian pernah kenal saat masa itu? Kenapa diantara kalian tidak ada yang cerita tentang hal itu?" Tanya Ilham yang terperangah. Dan mulai menyudutkan Rumi, juga Zufar. "Jangan tanya hal itu padaku, tanya saja ke Kak Zufar." Ucap Rumi yang melirik kearah Zufar dan berhasil membuat laki-laki itu mendelik karena dirinya harus menjelaskan tentang masa SMPnya kepada sepupunya itu. "Apa? Kenapa aku yang harus menjelaskan? Kenapa tidak kamu saja Rumi?" Balas Zufar. "Kamu saja yang menjelaskannya Kak." Ucap Rumi. "Apa jangan-jangan kalian mempunyai hubungan saat itu?" Tanya Ilham yang langsung membuat Rumi dan Zufar kikuk. "Sudahlah.. Kita tidak punya hubungan apa-apa, setengah jam lagi aku sudah harus dirumah sakit. Aku balik dulu, Assalamualaikum." Pamit Zufar yang tidak perduli pertanyaan Ilham yang masih belum terjawab. Selepas kepergian Zufar, Ilham memandang Rumi dengan mata yang amat sangat mengintimidasi. "Jelaskan padaku sekarang juga." Ucap Ilham dengan tatapannya yang menusuk manik-manik mata Rumi. "Kita, sudah terlambat bekerja. Aku janji akan menjelaskannya, tapi nanti." Ucap Rumi dengan cengengesannya, sebenarnya perempuan itu gugup dan takut ketika sudah mendapat tatapan intimidasi dari laki-laki yang sekarang sudah melengos pergi. Rumi menghembuskan nafas lega. *** Langkah Zufar gontai menuju ruangan yang didalamnya ada pasien bernama Anisa, perempuan itu kembali mendapati alat geraknya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, yang sekarang sedang menyerang tangannya. Saat disebuah lorong rumah sakit dilantai tiga, tepatnya menuju ruangan itu. Zufar melihat perempuan yang sedang menggandeng seorang gadis kecil yang terlihat sedang menangis. Pandangannya tertuju kewajah perempuan itu, sepertinya dia pernah bertemu dan mengenalnya, tapi kenapa bisa dia lupa dimana dan kapan saat itu. "Assalamualaikum." Sapa Zufar, sebagai seorang dokter dia harus bersikap ramah meski itupun dengan yang bukan pasien, selagi orang itu bisa membalas sikapnya dengan baik pula. "Waalaikumsalam." Balas perempuan itu, dan gadis kecil yang digandengnya itupun ikut melihat ke Zufar meski dipipinya penuh dwngan airmata. "Anda Maisarah bukan? Karyawan baru diperusahaan Azhar Chemical?" Ya, Zufar ingat perempuan itu, dia karyawan baru diperusahaan Umiknya. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum sekilas. "Kenapa tidak bekerja? Apa karena Alena yang kembali tidak mengijinkan anda untuk bekerja?" Tanya Zufar. "Tidak Pak, saya sedang ijin." Jawab perempuan itu singkat. Mata Zufar melirik kearah gadis kecil yang ada disamping Sarah. "Pasti karena gadis kecil ini bukan?" Ucap Zufar sembari merogoh saku dijas putihnya. "Coklat untukmu manis, ambillah." Zufar duduk jongkok didepan gadis kecil itu dan memberinya coklat. Seperti yang dilakukannya ke Anisa, bukan hanya Anisa saja tapi juga sebagian dari pasien yang pernah ia tangani. Mengapa demikian? Karena, cokelat juga mengandung molekul psikoaktif yang tentunya membuat pengkonsumsi cokelat merasa nyaman. Beberapa kandungan cokelat seperti caffeine, theobromine, methyl-xanthine dan phenylethylalanine dipercaya dapat memperbaiki mood, mengurangi kelelahan sehingga bisa digunakan sebagai obat anti-depresi. Gadis kecil itu mengambilnya pelan dengan malu-malu yang membuat Zufar tersenyum. Laki-laki itu kembali berdiri dan memperhatikan Sarah yang sejak tadi melihatinya berbicara dengan gadis kecil itu. "Dia adikmu?" Tanya Zufar. Sarah melihatnya dengan tatapan yang nanar. Dan dia kembali memperhatikan ke gadis kecil yang sekarang sudah menperhatikannya dan tersenyum. "Dia sangat cantik." Tambah Zufar. "Dokter.. Tangan kanan Anisa juga mengalami ketidakfungsian Dok." Ucap Suster tiba-tiba yang melihat Zufar sedang berbicara dengan Sarah. "Astaghfirullah, baik kalau begitu kita harus cepat kesana sekarang." Ucap Zufar yang baru ingat dengan pasiennya, bagaimana dia bisa sekejap lupa dan bahkan menyia-nyiakan waktu untuk menyapa perempuan yang sekarang ia tahu jarang tersenyum. Dia bergegas pergi kearah ruangan yang didalamnya sudah ada Anisa, ruang Mawar no 3. Dia tidak menghiraukan perempuan yang tadinya mengalihkan peehatiannya. Kebetulan ruangan dimana tempat dirawatnya Anisa sudah dekat, Zufar segera belari dan menuju kedalamnya. Tapi saat diambang pintu, dia kembali teringat dengan perempuan yang diajaknya bicara tadi. Pandangannya beralih sebelum masuk lebih dalam. Tapi ternyata perempuan itu sudah tidak ada, begitupun dengan gadis kecilnya. Dan Zufar menghembuskan nafas berat, belum sempat dia bertanya pada perempuan itu kenapa dia dirumah sakit. "Dokter Zufar, mari..." Alia, Suster pendampingnya membuyarkan lamunannya, dan mengajaknya untuk masuk lebih dalam. "Dokter Zufaar.. Ada apa dengan tanganku? Kenapa sangat sulit digerakkan." Ucap perempuan yang tangannya sudah tergeletak tidak berfungsi sama sekali, dia menangis sesenggukan begitu juga dengan wanita yang sangat setia disampingnya. "Kamu tenang ya Anisa, tidak akan terjadi apa-apa denganmu. Sekarang, kamu makan yang banyak dan minum obatnya. Setelah itu, saya akan memeriksamu." Ucap Zufar dengan tenang, seperti air yang mengalir tanpa arus sama sekali. "Dok..." Wanita itu melihat kearah Zufar dan penuh pengharapan. Dia tahu, wanita itu pasti belum menceritakan hasil diagnosanya ke putrinya itu. "Sebaiknya, Ibu sholat dhuha dulu. Biar saya yang menyuapi Anisa dan Suster yang menyiapkan obatnya." Ucap Zufar. Mata wanita itu berbinar-binar memandang Zufar, dia sangat bersyukur anaknya dirawat oleh Dokter sebaik Zufar, sangat peduli dengan pasiennya. "Tapi ini akan merepotkanmu Dok." Ucap wanita itu. "Tidak, kebetulan masih setengah jam lagi saya keruangan pasien selanjutnya. Ibu sekarang boleh ke masjid rumah sakit." Ucap Zufar. Dan wanita itu mengangguk, mempercepat langkahnya keluar ruangan. "Dokter, apa aku akan mati?" Ucap Anisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN