PART 11 - RAJA

1398 Kata
"Silahkan dimakan makanannya Adibah, Sarah." Ucap Fara yang sedang berada diruangtamu bersama Adibah dan Sarah setelah acara Diba'an selesai. Disana sudah terdapat berbagai macam makanan dan minuman. Fara benar-benar sudah mempersiapkan ini semua. Dan dengan antusiasnya dia mempersilahkan semua tamu nya untuk menyantap apa yang ada disana, begitupun dengan Adibah dan Sarah yang ada didepannya sekarang, mereka berdua janjian untuk berangkat bersama-sama kerumah Fara, direktur utama perusahaan yang mereka tempati. "Jangan hanya makanannya saja dong Bi, minumannya juga." Sahut suara lembut dari samping kanan Fara. Dan ketiga perempuan itu segera menoleh kearahnya. Disana sudah berdiri perempuan dengan gamis peach lengkap dengan hijabnya yang membuat wajahnya terlihat oval dan terlihat lebih cantik. "Rumi... Kemari sayang." Ucap Fara setelah tahu siapa perempuan itu. "Kenalkan, dia istri dari sepupunya Zufar." Tambah Fara ketika Rumi sudah sampai didekat mereka. Dengan antusiasnya Adibah menyodorkan tangannya untuk sekedar bersalaman, tanda perkenalan dengan sepupu ipar Zufar. Tapi ternyata Rumi menyodorkan tangannya kearah Sarah yang heran ketika kedua tangan itu saling bertemu tapi tidak dalam satu titik. Dengan canggung Adibah segera menurunkan tangannya, sedangkan Rumi masih menunggu tangan Sarah untuk membalas salamnya. "Rumi.." Ucap Rumi memperkenalkan dirinya. Wajahnya terlihat lebih cantik. "Sarah, Ta’aruf ma’ak Rumi." Jawab Sarah dengan suara lembutnya. "Waiyyaki Mbak.." "Oh ya, ini Mbak Adibah." Sarah memperkenalkan Adibah yang ada disampingnya sedang memperhatikan interaksi Sarah dan Rumi yang terlihat begitu cepat dekat. Dan Rumi segera menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Adibah. "Aku Adibah." Ucap Adibah memperkenalkan dirinya yang dibalas dengan senyuman oleh Rumi. "Maaf, aku permisi nyari Naila dulu." Ijin Sarah yang ingat bahwa gadis kecilnya sudah terlalu lama meninggalkannya. "Oh gadis kecil yang manis itu kan Mbak?" Sahut Rumi. Dan Sarah mengangguk mengiyakan. "Dia lagi sama Kak Zufar didepan rumah, sama Ilham dan Kak Naufal juga Mbak." Tambah Rumi yang tadi sedang dimintai ijin oleh Ilham ke depan rumah menemui sepupunya. Tapi penjelasan Rumi malah membuat perempuan itu terdiam, bukannya segera melangkahkan kakinya kedepan rumah untuk menemui keponakannya. "Sarah? kamu kenapa?" Tanya Fara yang berhasil membangunkan lamunan perempuan itu. Apa yang membuat Sarah seperti terbebani fikirannya itu? "Tidak, saya tidak apa-apa Bu. Saya permisi dulu.." Perempuan itu segera berlalu, meski dnegan pandnagan kosong yang tak tersentuh, entah kenapa. Dan ketiga perempuan yang ditinggalkannya hanya bisa memandangi perempuan itu dengan wajah penasaran, kenapa sikap Sarah bisa berubah dengan hitungan detik. Perempuan itu melangkahkan kakinya menuju depan rumah yang sudah ada Naila disana. Disaat langkahnya sudah mencapai ambang pintu, perasaannya tiba-tiba semakin tidak karuan bahkan mengalirkan keringat dingin keseluruh tubuhnya. "Sarah, apa yang kamu lakukan disini?" Suara itu membuatnya terhenyak. Dan wajahnya semakin memerah ketika melihat Zufar ada disampingnya. "Aa..aku mencari Naila. Dimana dia? bukannya denganmu?" Ucap Sarah yang melihat Zufar sendirian dari dalam rumah. "Dia didepan, ayo kita kesana." Zufar sudah mendahului langkahnya, sedangkan Sarah masih ragu untuk melangkah. "Kenapa masih disitu, ayo Sarah." Ajak Zufar yang masih menemukan perempuan yang diajaknya tadi masih berdiri ditempat yang sama. "iya iya." Sarah mempercepat langkahnya. Dan sekarang dia menemukan gadis kecilnya sedang bermain dengan Ilham, dia mengernyitkan dahinya ketika Ilham dan Naila sedang berlomba membuat wajahnya sejelek mungkin. "Apa yang mereka lakukan Zufar?" Tanya Sarah. "Mereka sedang bermain muka emoji, permainan dari Ilham. Memang anak itu paling bisa bikin hal-hal aneh kayak gitu." Jelas Zufar. Yang membuat Sarah tertawa geli. "Seru juga kayaknya.." Ucap Sarah. "Ikutan main yuk Far." Ajak Sarah yang penasaran dengan permainan yang baru didengarnya itu. Tapi tiba-tiba ponsel laki-laki itu berbunyi. "Kamu duluan deh, nanti aku susul kesana." Jawab Zufar dan dijawab Sarah dengan anggukan. Perempuan itu berjalan menjauh sedangkan Zufar mengangkat telfonnya. "Halo Naufal, iya ada apa?... Jadi lo lebih mentingin Alia daripada Dibaan dirumah gue ha? hahaha.." Samar-samar suara Zufar masih terdengar oleh Sarah. "Eeh Sarah tunggu.." Cegah Zufar yang membuat Sarah segera membalikkan badannya. "Hati-hati sama Ilham, dia bisa baca fikiran orang." Bisik Zufar yang mencoba menakuti Sarah, tapi malah dibalas dengan perempuan itu endikkan bahu dan kemudian berlalu. "Iya Fal? gak papa. Awas aja, gue gak bakal maafin lo kalo sampai nanti isya' gak dateng kerumah gue. Umik nyariin lo tau." Ujar Zufar yang kembali sibuk berbicara dengan Naufal diponsel. "Oh ya, jangan bawa Alia kesini." Ucapnya lagi tapi dengan berbisik. Takut Alia yang ada didekat Naufal mendnegar. *** "Bu Fara, kami pamit pulang dulu ya." Pamit Adibah sehabis acara itu selesai. "Terimakasih atas semuanya Bu." Tambah Sarah juga yang ada disamping Adibah. "Oh iya, saya yang harus berterimakasih sama kalian karena sudah datang keacara saya... Mm, Sarah saya mau minta waktu kamu sebentar, bisa?" Ucap Fara. "Iya bisa Bu.." Jawab Sarah langsung. "Mbak Adibah boleh pulang dulu kalo gitu, nanti malah nunggu aku." Tambahnya berbicara ke Adibah yang ada disampingnya. "Nggak apa-apa Rah, kalo aku tinggal kamu pulangnya gimana? tenang aja, aku tungguin kok." Jawab perempuan itu dengan tulus. "Biar supir saya saja yang mengantarnya, kamu boleh pulang kok Adibah." Sahut Fara. Dan Adibah bisa apa kalau sudah disuruh oleh Fara. "Baiklah, kalau begitu saya duluan pulang. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam warrahmatullah." Jawab salam Fara, Sarah dan Naila yang ada digenggamannya. Adibah berjalan keluar, melangkahkan kakinya untuk segera pulang. Tapi ditengah langkahnya, matanya menangkap laki-laki yang masih berhasil membuatnya terkesima, entah itu dengan kebaikannya ataupun dengan ketampanannya. Laki-laki itu berjalan melewatinya, dengan senyumnya yang masih menghiasi wajah teduhnya. Ya Rabb, kenapa dia selalu berhasil membuatku terbawa perasaan, hatinya berucap lirih. "Pulang Adibah?" Zufar menyempatkan untuk bertanya keperempuan itu. Adibah mengangguk pelan sembari tersenyum. "Hati-hati ya." Ucapnya dengan nada seperti biasanya, ramah dan meneduhkan. "Iya Kak, terimakasih." Kemudian Zufar kembali melangkahkan kakinya untuk cepat-cepat ke Fara. "Umik ada apa?.. Loh Sarah belum pulang?" Ucap Zufar yang sekarang sudah ada didepan kedua perempuan itu. "Umik yang menyuruh Sarah untuk tetap disini." Jawab Fara. "Oh gitu.." "Begini, ada alasan untuk Umik mempertemukan kalian sekarang... Sarah, saya tahu betul kamu pribadi seperti apa, kamu adalah perempuan yang sangat bertanggung jawab, dilihat dari sikap tanggung jawabmu merawat Naila dan membuat gadis kecil itu belajar berlapang d**a, tidak salahnya jika saya ingin memintamu untuk Zufar, anak saya. Dengan harapan agar anak satu-satunya dari saya bisa mendapat pendamping sepertimu, yang bisa merawat Zufar nantinya." Jelas Fara setelah semua alasan mempertemukan Zufar dan Sarah diutarakannya. Untuk pertama kalinya Zufar dan Sarah benar-benar terdiam atas keputusan dari Fara yang sepihak. Baik, ini bukan kesalahan wanita itu, dia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Tapi apakah dia tahu, ada hati yang sedang Zufar jaga. Sedangkan Sarah? perempuan itu hanya bisa terdiam. Dan tanpa mereka sadari, perempuan yang tadinya pamit untuk pulang, yang dengan senangnya mendapat senyuman dari Zufar, kini sedang meratapi dirinya, kesedihannya, perempuan itu ternyata tidak benar-benar pulang, dia ingin menunggu Sarah dan pulang bersama dnegannya, tapi apa yang didengarnya membuatnya berubah fikiran, hatinya memberontak, batinnya kesakitan. Kenapa yang dilihat oleh Fara, Ibu Zufar malah Sarah, yang notabenenya hanya karyawan baru dan masih beberapa hari dikenal oleh Fara, sedangkan Adibah? dia sudah mengabdi kerja diperusahaan Fara hampir bertahun-tahun sampai jabatannya lebih dari yang dimintanya, tapi kenapa yang lebih dipilih adalah perempuan itu, yang sekarang ada didepan Fara dan Zufar. "Kenapa? apa kamu tidak setuju Zufar dengan keputusan Umik ini? Umik hanya ingin yang terbaik untukmu, apa salah?" Wanita itu memandang nanar kearah Zufar yang masih diam. Laki-laki itu menimang semua yang ada dipikirannya. Bukannya ini adalah waktunya untuk berbakti ke perempuan satu-satunya dalam hidupnya. Menuruti satu hal saja yang membuat wanita itu tersenyum bangga, karena apapun yang diraihnya sampai sekarang sama sekali tidak meringankan beban Umiknya itu, mulai dari masuk ke SMA negeri, padahal Fara menyuruhnya untuk masuk ke pondok pesantren, lalu menolak untuk ikut Ilham ngaji di pesantren dan lebih memilih pergi futsal dengan teman-temannya, sampai dengan memilih cita-citanya menjadi dokter, yang bahkan tidak sekalipun membantu meringankan pekerjaan Umiknya dikantor. Lalu sekarang apa? Menolak permintaan Umiknya lagi? menyakiti hatinya lagi, meremukkan seluruh harapannya lagi. "Zufar setuju. Semua keputusan Umik adalah yang terbaik Zufar." Ucapannya itu bagai petir untuk Sarah, tak terkecuali Adibah. Perempuan itu merasa rasanya benar-benar salah, berani menjatuhkan hatinya ke seseorang yang bahkan sampai sekarang tidak pernah mengungkapkan perasaannya, dan sekarang kenyataan yang harus diterimanya membuka matanya bahwa laki-laki itu tidak pernah membalas rasanya, sampai kapanpun, karena dirinya hanyalah sekelumpit dari perempuan yang akan mudah hilang didalam hidup laki-laki itu. Adibah berlari keluar, menuju mobilnya dan melaju sekencang-kencangnya. "Zufar." Ucap Sarah lirih. "Aku setuju dengan keputusan Umik, mungkin memang Allah mentakdirkan kita bersatu, merawat Naila bersama-sama." Laki-laki itu masih berbicara. Meyakinkan keputusan itu ke Sarah juga dirinya yang masih tidak percaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN