"Maaf kalau saya mengganggu sholat anda. Silahkan teruskan sholatnya." Ucap Zufar dengan sopan, dia tahu dirinya seharusnya tidak ada ditempat itu, apalagi batas pemisah antara makmum perempuan dan laki-laki dengan sengaja dilewatinya.
Perempuan itu kembali menundukkan wajahnya sembari menengadahkan tangannya, tidak membalas ucapan maaf dari Zufar.
Zufar mengernyitkan dahinya dan kembali melangkahkan kakinya ke tempat sholat makmum laki-laki.
***
Sudah saatnya hasil dari kerja kerasmu ini untuk keluargamu Far." Wanita paruh baya itu sedang duduk dikursi didepan Zufar yang sedang sibuk menghadap laptop untuk menginput hasil diagnosa dari pasien barunya bernama Anisa.
Disampingnya terdapat sebuah pigura berisi foto dua orang yang terlihat mesra dan seorang anak kecil digendongan si wanita. Itu adalah foto dirinya bersama Abi dan Umiknya. Abinya yang sudah meninggalkannya sejak 10tahun yang lalu, yang membuatnya menjadi seperti sekarang, menjadi seorang dokter yang menyelamatkan nyawa orang yang berjuang untuk hidup seperti halnya, Abinya.
"Umik kan keluarga Zufar, dan selama ini hasil kerja keras Zufar insyaallah sudah Umik rasakan, iya kan?" Jawab laki-laki itu dengan wajah santainya. Bukannya tidak menanggapi serius omongan Umiknya itu, tapi hal itu bisa diomongkan lain waktu.
"Kamu sebenarnya tau apa yang dimaksud Umik." Suara wanita itu berubah mendatar, rasanya dia sudah lelah membicarakan hal ini dan hanya guyonan yang dia dapatkan dari anak tunggalnya itu.
Zufar tersenyum.
"Mik, Zufar belum memikirkan hal itu."
"Kamu harus memikirkan hal itu, islam menganjurkannya Zufar. Seperti dalam Quran Surat A-Ruum ayat 21 'Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.'" Ucap Wanita itu dengan sabar menghadapi anak tunggal yang sangat disayanginya itu.
"Umiik," Zufar memandang wanita yang sudah 26 tahun menemani hidupnya, sebenarnya hanya dengan Umiknya saja, hidupnya sudah sangat tenang dan tentram, tapi ada suatu tuntutan untuk dirinya meminang perempuan dan menjadikannya bidadari disurganya nanti. "Pasti, Zufar pasti akan menikah. Tapi apa Zufar salah kalau masih ingin membahagiakan Umik tanpa ada wanita lain?" Laki-laki itu memegang erat kedua tangan yang sudah keriput, dipandangnya dengan mata yang teduh. Dan dilihatnya mata wanita itu berair.
"Kebahagian Umik, kalau kamu sudah menikah dan bisa menjadi imam yang baik untuk istrimu. Umik hanya ingin itu. Umik tidak mau kalau kamu buta hati karena dunia, sedangkan kamu mengingkari akhirat-Nya. Kamu lebih memilih pekerjaan tapi menganggap enteng yang sebenarnya kewajiban." Ucap wanita itu dengan berlinangan air mata. Dia takut anaknya gila harta sampai-sampai tidak perduli lagi dengan kewajibannya.
"Iya Umik, Zufar mengerti itu. Tapi sekarang Zufar belum menemukan yang pas untuk menjadi istri." Ucap Zufar.
Wanita itu mengusap airmatanya.
"Umik tidak ingin menjodoh-jodohkanmu, mencari calon istri untukmu. Umik mau, kamu mendapatkan sendiri perempuan yang benar-benar membuatmu nyaman dan mampu mengingatkanmu dengan Allah." Ucap Fara, Umik Zufar.
Tiba-tiba Zufar teringat perempuan yang ia temui di musholla rumah sakit. Dia masih penasaran dengan perempuan itu, apa dia pengunjung? Atau pasien? Atau hanya orang yang lewat dan numpang sholat? Dia tidak tahu.
"Zufar? Kamu kenapa?... Apa kamu sudah punya bayangan perempuan yang akan jadi calon istrimu?" Ucap Fara.
"Umiik, tidak... Sudahlah, setelah ini Zufar mau memeriksa pasien yang tadi masih Zufar tinggal." Ucap Zufar mengelus pipi wanita yang masih terlihat cantik itu.
"Ya? Ya sudahlah, Umik balik ke kantor lagi. Nanti sore kalau kamu sudah pulang, mampir kesana ya." Ucap wanita itu sembari membenahi jilbabnya.
"Iya, Umik jaga kesehatan ya. Kalau capek, istirahat, jangan terlalu memaksa." Ucap Zufar. Sebenarnya dia tidak tega melihat Umiknya itu masih memimpin perusahaan sendiri, dengan umurnya yang sudah menua dia seharusnya sudah mendapat pengganti. Tapi Zufar bisa apa, dia lebih memilih mengejar cita-citanya jadi dokter, dan Fara sendiri tidak pernah membatasi anak tunggalnya itu dalam menggapai cita-cita.
Fara tersenyum.
"Kamu juga jaga kesehatan. Umik balik dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warrahmatullah." Jawab Zufar sembari mencium punggung tangan Fara.
***
Perempuan itu melamun, dengan pandangan kosongnya, dia seperti mencari sebuah jalan kedamaian dihatinya. Kalut dan menyedihkan, adalah kata pertama yang diucapkan sebagian orang yang sekilas melihat perempuan itu dengan wajah tersebut.
Dia terhenyak ketika sebuah pintu terbuka dan pandangannya nyalang saat sosok tinggi tegap ada diambang pintu sembari memegang gagangnya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu disini?"
Laki-laki itu mengernyitkan dahinya.
"Pergi dari sini, atau saya teriak." Ucapnya lagi. Dan laki-laki itu menutup pintu.
"Tolong dengar omonganku. Pergi dari sini." Ucapnya lagi tidak bosan.
"Saya Zufar Aliman, dokter yang akan memeriksa anda." Ucap Zufar memperkenalkan dirinya.
"Dokter? Suster tidak bilang kalau dokternya laki-laki." Protes perempuan itu.
"Jadwal dokter umum hari ini adalah saya, jadi saya yang akan memeriksa anda." Jelas Zufar.
"Tidak. Saya tidak mau." Jawab perempuan itu dengan berlalu begitu saja.
"Apa perempuan itu punya trauma dengan laki-laki? Sampai-sampai melihatku saja seperti itu." Ucap Zufar pelan.
Setelah kepergian perempuan itu, suster datang dan cengok karena berpapasan dengan pasiennya yang masih belum sehat betul.
"Dokter Zufar, yang tadi adalah pasien Dokter." Ucap Suster itu.
"Iya, saya tahu." Jawab Zufar.
"Tapi kenapa tidak anda tangani? Lukanya masih belum diperban?" Tanya Suster itu bingung.
"Dia tidak mau saya tangani, dia melarikan diri." Jawab Zufar. "Apa ada pasien lain lagi?"
"Tidak Dok, perempuan tadi pasien terakhir." Ucap Suster.
"Baiklah kalau tidak ada pasien lagi. Saya mau ngecek pasien baru yang bernama Anisa, dan setelah itu saya akan pulang." Ucap Zufar sembari berjalan keluar kamar diikuti Suster.