Bab 4. Malam Pertama

1115 Kata
Haruskah sekarang? Fira menelan salivanya kasar, tidak berani membalas tatapan tajam nan gelap milik Kenan, dirinya kini terjebak dan tidak mempunyai pilihan selain pasrah pada kemauan Kenan. Malam hangat itu harus terjadi secepatnya, tidak ada penundaan meskipun kecanggungan merajalela. Perlahan, Fira mulai membalas tatapan Kenan yang gelap, bola matanya tampak gentar dan berkaca-kaca. Anggun hanya memberinya waktu singkat, dia harus bisa seperti Kenan yang telah memainkan perannya. Namun, berulang kali mencoba fokus, Fira selalu gagal. Bahkan, kedua tangannya mencengkram kuat baju Kenan dan wajahnya seakan menghindar saat Kenan hendak mencium bibirnya. Kenan menjatuhkan kembali kepalanya, lalu tersenyum dan mengusap lembut kepala Fira. "Maaf, aku bikin kamu takut," kata Kenan kembali menatap hangat. Fira menunduk malu, tidak seharusnya dia seperti itu, tugasnya menggoda dan melayani Kenan seperti yang telah mereka sepakati di perjanjian kontrak itu, bukan menjadi si jinak-jinak merpati. "Nggak apa, kita makan dulu aja yuk!" putus Kenan sembari mengajak Fira untuk beranjak bangun, meninggalkan kamar panas itu. Fira masih diam, tetapi dia mengekor di belakang Kenan hingga keduanya berada di dapur. Semua bahan makanan lengkap di sana, Fira bisa memasak apa saja yang dia mau selama tinggal di rumah itu. Hanya saja, kejadian tadi membuatnya merasa bodoh dan tidak enak pada Kenan yang telah membayar semua keperluannya kemarin sesuai kontrak, dia menggagalkan misi utama Kenan. "Ken, maafin aku!" ucapnya menyesal. Kenan tersenyum sembari mengusap kepala Fira. "Nggak apa," jawabnya. "Aku janji nggak akan gitu lagi, kasih aku kesempatan lagi nanti! Aku janji pasti hari ini!" kata Fira mengangkat tinggi kedua jarinya. "Ra, jangan dipaksakan! Aku tahu itu semua butuh waktu, kita makan aja, kamu masak gih!" balas Kenan berusaha menenangkan Fira, begitu juga dirinya yang jauh lebih gugup, seandainya Fira tahu. Di depan Kenan, gadis itu mengangguk, tetapi jauh di dalam hati Fira bertekad bahwa nanti sebelum Kenan meninggalkan rumah yang dia tempati, mereka harus sudah selesai berbagi peluh. Fira membuat menu makanan sederhana yang tidak membutuhkan waktu lama dan bisa segera dia nikmati bersama Kenan, dia mulai mencuri-curi pandang, mencoba membuat Kenan terfokus padanya. Dan setiap Kenan menatap ke arahnya, Fira mengembangkan senyuman termanis yang dia punya, setidaknya itu yang bisa dia lakukan agar Kenan menangkap sinyal-sinyal sial dari dirinya untuk malam panas itu. "Oh ya, Ra … kamu mandi dulu aja, terus istirahat ya!" kata Kenan sengaja membuat jarak, selain memberikan waktu santai pada Fira, dia juga butuh waktu untuk dirinya sendiri, tidak mudah berada di situasi seperti tadi, apalagi setelah melihat bagaimana takutnya Fira. Fira mengangguk, dia akan mandi dan mempersiapkan diri, itu yang ada di kepala Fira. Kenan telah membayar sisa hutang dan tunggakan biaya rumah sakit, rasanya kurang tepat bila dia diam saja dan membuat Kenan menunggu. Setelah mandi, Fira memilih baju terbaik yang dia punya untuk menggoda Kenan meskipun tidak terlalu terbuka, setidaknya bukan sekadar memakai baju rumahan biasa. Daster pendek itu dia lebarkan, tangan dan kakinya mulai berkeringat saat pikirannya kembali membayangkan bagaimana Kenan menyentuhnya nanti, tetapi sekali lagi Fira tekankan pada dirinya, malam panas itu harus berhasil, dia harus mampu membuat Kenan dan dirinya menyatu dengan cara yang natural. Tadi, udah bagus main mawar, aku yang bikin gagal! "Ini parfum mahal, pasti enak!" gumam Fira mempersiapkan diri, sederetan parfum dia coba, tidak lupa memakai body lotion agar harum dan lembut. "Udah, aku samperin dia aja. Semangat, Fir!" Dengan langkah gemetaran dan tangan yang tak henti meremat kuat ujung daster itu Fira terus bertekad menghampiri Kenan, senyumnya mengembang dan tatapannya berubah genit lagi berani saat tubuh kecilnya berada tepat di belakang Kenan yang sedang merokok. Wajah Fira berubah jelek, senyuman itu lenyap. "Sini!" ucapnya merebut rokok itu, lalu dia injak kasar. Kenan melongo, bingung itu terlalu tiba-tiba, tetapi dia lebih bingung lagi dengan penampilan Fira yang berubah memakai daster pendek, bukan piyama panjang dengan gambar kartun favorit gadis itu, Kenan ingat apa kesukaan Fira dulu dan dia rasa Fira tidak semudah itu mengubah kebiasaan. Namun, belum sempat dia bertanya, Fira sudah mengomel panjang masalah rokok, dia tidak suka ada yang merokok di dekatnya, apalagi itu orang terdekat, termasuk Kenan. Sedangkan, baru kali ini ada yang menegur Kenan dengan raut cemas seperti Fira, sangat tulus dilihatnya, Kenan kembali terpancing karena perhatian tulus itu. "Kamu itu masih muda ya, Ken. Emangnya, kamu mau sakit parah karena rokok, hah? Kamu juga bikin bahaya orang yang ada di deket kamu, nggak baik kayak gini loh! Udah ya, kamu jangan ngerokok lagi! Kamu mau apa, hah? Biar aku buatin, bilang aja!" omelnya membersihkan sisa-sisa putung rokok itu. Kenan diam terkesima dengan perhatian itu, hal kecil dan sepele, tetapi hadirnya perhatian itu pernah dia harapkan. "Ra," panggilnya, memperhatikan Fira dari ujung rambut hingga kaki. "Y-ya, Ken?" sahutnya gagap, tatapan Kenan dirasa berubah. Kenan tersenyum, sebagai laki-laki yang sudah pernah menikah, tidak sulit baginya mengerti dan mengartikan gelagat Fira. Malam itu memang harus mereka lewati meskipun ada rasa takut lagi gugup, mereka telah terikat perjanjian dan akan lebih baik kalau diselesaikan dengan cepat. "Kita main mawar!" ajak Kenan menarik tangan Fira. "Iy-iya, ayo main!" balas Fira gugup, dia ikut berlari ke kamar dengan keringat dingin yang mulai membanjiri tubuhnya. Tenang, Fir, tenang! Jangan gagal lagi! Jangan bikin Kenan kecewa! Di kamar itu, Fira memberanikan diri memeluk Kenan lebih dulu dari belakang, membuang semua rasa gugup dan ragunya. Bahkan, kedua tangannya bergerak mengusap perut hingga d**a Kenan, menggoda sahabat sekaligus suaminya itu agar tujuan mereka malam ini tercapai. "Ra, jangan maksa mancing aku!" ucap Kenan penuh penekanan. "Gimana kalau aku mancing kamu?" balas Fira bersuara lirih, menempelkan wajahnya di punggung Kenan, memberikan kecupan singkat di sana. "Kita perang mawar lagi!" *** "Ken—" "Tidur, Nggun, aku capek!" Fira terdiam mendengar itu, setelah terbuai dan terbang tinggi, dia seperti terhempaskan begitu saja ke tanah, hancur. Paginya, Kenan meraup wajahnya dua kali, lalu menoleh ke samping kanan, seorang gadis baru saja dia sentuh semalam dan entah seperti apa mereka menghabiskan waktu untuk menyatu lagi meniadakan batas diantara keduanya, satu hal yang pasti bahwa dirinya telah menjamah Fira seutuhnya, setelah mereka sempat bercanda dan saling kejar. Semalam, Fira berhasil meleburkan batas diantara mereka dan membuat Kenan melakukan hal yang semestinya terjadi pada pasangan pengantin baru. "Maafin aku, Ra," ucapnya lirih sembari menoleh ke arah Fira yang masih terlelap, gadis itu terlihat sangat lelah. "Maafin aku," ucap Kenan sekali lagi, lalu dia memutuskan beranjak pergi karena Anggun pasti sudah menunggunya di rumah utama. Dia tidak bermaksud membuat Fira merasa tidak berharga, tetapi dia sendiri tidak siap dan tahu harus berbuat apa saat Fira terbangun nanti. Beberapa saat setelah Kenan pergi, Fira mengerjap kecil membuka matanya, rasa lelah seakan menumpuk bercampur dengan perih di pangkal pahanya, tetapi yang lebih dari itu masih ada, yaitu kekosongan yang dia rasakan setelah malam panas itu berlalu, Kenan tak ada di sampingnya. "Ke-en?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN