Gaun berkilauan, kelopak mawar yang ditabur sepanjang jalan, dan nuansa yang dibuat mirip negeri dongeng. Semuanya mendekati pernikahan impian Selin. Seandainya dia tak harus menikah dengan Jean, melainkan dengan orang yang dia benar-benar cintai, mungkin semuanya akan terasa sempurna.
"Selin, sebentar lagi Handoko mulai akadnya, kamu siap-siap ya," kata Tante Regina yang kini ia panggil bunda. Selin mengangguk walau sebenarnya dia tak ingin akad itu terucap.
Dari ruangnya dia bisa mendengar prosesi di luar sana. Mulai dari pembacaan doa hingga sekarang hampir sesi akad nikah. Walau ini bukan pernikahan yang dia mau, namun debar-debar gugup memenuhi rongga dadanya.
"Saya terima nikahnya Selindyah Asthaparayya binti Hadi Asthaparayya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Jean di luar sana.
Ketika semua saksi menyatakan sah, maka sudah sah-lah pernikahan mereka. Hingga 6 bulan nanti, Selin akan menyandang gelar sebagai istri dari seorang penyanyi papan atas, Jean Masabumi.
Selin segera berjalan menuju venue, diiringi Mama yang tak berkata apa-apa sejak tadi pagi. Perang dingin masih saja terjadi, tapi acara harus tetap dilaksanakan. Gadis itu menggandeng tangan Mamanya. Berjalan menyusuri jalan berbunga yang akan membawanya pada Jean.
Semua mata tertuju pada Selin. Begitu pula milik Jean, matanya menatap lekat Selin sambil tersenyum. Berpura-pura pada banyak orang bahwa pernikahan ini memang dia inginkan.
Mama menyerahkan tangan Selin pada Jean untuk digandeng. Segera Jean mengaitkan tangan Selin pada lengannya lalu naik ke atas panggung pelaminan. Sesampainya di atas, Jean mencium pipi Selin, lalu berbisik padanya, "Selamat bermain peran buat 6 bulan ke depan."
...
"Heuhh ...."
Akhirnya Selin bisa bernapas lega. Acara laknat itu pun telah berakhir. Acara laknat? Iya, acara pernikahan adalah acara laknat bagi Selin Gara-gara acara itu kakinya melepuh. Belum lagi tebaran senyum pura-pura yang harus ia pertahankan seharian.
Tamu undangan memang tak begitu banyak. Hanya keluarga beberapa orang dari agensi, dan teman-teman dekat Jean. Tapi karena tamu undangan sedikit, maka segala sesuatu jadi lebih eksklusif. Baik Selin maupun Jean harus lebih ekstra dalam berpura-pura.
Selin dan Jean kini berada di sebuah mobil sport putih berkursi dua yang melaju menuju rumah Jean. Di tengah jalanan sepi tiba-tiba Jean menghentikan mobilnya.
Selin jadi curiga, Nih orang mau nurunin gue di sini ya?
"Gue rasa ada satu peraturan lagi yang ketinggalan," ucap Jean tiba-tiba.
"Apa?" tanya Selin.
"Lo nggak boleh jatuh cinta sama gue apa pun yang terjadi," lanjut Jean.
Tawa Selin meledak. Gadis itu menggeleng-geleng heran.
"Lo bercanda? Nggak usah dibuat peraturan juga gue nggak bakal jatuh cinta sama lo," jawabnya.
Ia menaikkan alis sebelah kirinya. Seperti heran mendengar perkataan Selin.
"Who knows? Gue ganteng jadi lo bisa aja naksir, kan? Apalagi lo pernah jadi stalker gue," katanya.
"Ih! Udah gue bilang ya, gue bukan stalker!"
Narsisme Jean yang tinggi sekali membuatnya merutuki keputusannya mengidolakan Jean dahulu.
"Dengar ya, Tuan Jean Masabumi yang terhormat, saya Selindyah Asthaparayya bersumpah untuk tidak sedikitpun jatuh cinta pada Anda," katanya dramatis.
Gelegar! Tepat setelah perkataan Selin selesai diucapkan, terdengar suara petir yang menyambar sangat nyaring. Seolah perkataannya didengar oleh Yang Maha Kuasa.
"Bagus deh. Gue juga nggak minat sama lo." kata Jean seraya kembali mengendarai mobilnya.
Beberapa waktu kemudian mereka sampai di kediaman Jean. Langkah kecil Selin mengekor memasuki rumah. Tak seberapa asing karena beberapa waktu lalu ia pernah kemari.
Jean dengan cepat melepas dasinya dan hanya menyisakan kemeja putih press body yang terkena keringat. Membuat abs nya terlihat sangat jelas dari luar. Selin tanpa sadar melihat abs Jean dan pipinya memerah sendiri karena malu.
"Mikir jorok ya lo?" pertanyaan Jean seakan menyadarkan Selin dari lamunannya.
"Nggak mikirin apa-apa kok! Dimana kamar gue? Pegel nih punggung," elak Selin.
"Pertanyaan lo salah deh kayaknya. Seharusnya lo tuh nanyanya gini 'Dimana kamar kita?' Karena di rumah ini cuma ada satu kamar. Itu artinya kita bakal sekamar dan mungkin itu bagus," ucap Jean setengah berbisik di bagian akhir.
"Bagus? Apanya yang bagus?" tanya Selin.
"Astaga! Jangan sok polos deh. We can do that every night. Apalagi kamar gue kedap suara." goda Jean sambil menunjuk salah satu ruangan yang tertutup rapat.
Selin membulatkan matanya. Pengalamannya sebagai Fangirl jelas membawanya belajar kehidupan liar. Setidaknya ia paham apa maksud Jean.
"Dasar, m***m! Bakal gue bunuh kalau lo nyentuh gue sedikit aja!" seru Selin
Jean tertawa puas. Ia berhasil menggoda Selin.
"Dih! Sadar dong! Lo tuh datar kayak aspal dan gue nggak bakal menyentuh lo sama sekali! Ya udah sana mandi habis itu buatin gue makanan," perintah Jean.
Selin mendengus.
"Terserah! Tapi gue bukan pembantu lo ya, Handoko Pribadi Masabumi. Gue capek jadi buat makanan sendiri sana," bantah Selin.
Jean menyunggingkan smirk yang mungkin akan membuat para penggarnya terpesona dan pingsan saat melihatnya. Namun sebaliknya, Selin malah bergidik ngeri melihat smirk Jean yang sudah jelas ditujukan untuknya itu.
Jean berdiri dari tempat duduknya. Berjalan menuju Selin. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Selin. Membuat Selin membatu dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia bagaikan terhipnotis saat Jean mendekatinya. Apalagi saat bau Jean yang mirip raspberry menyapa hidung nya.
"Lo nggak inget perjanjian nomor 5? Selin bertanggung jawab atas gizi Jean tanpa mengeluh," bisik Jean. "Kalau lo ngelanggar, maka gue juga bakal ngelanggar. Gimana kalau gue ngelanggar peraturan nomor satu aja?"
Napas Selin rasanya tercekat. Jantungnya berdegup berpuluh-puluh kali lebih cepat dari biasa. Apalagi saat mendengar kata 'peraturan nomor satu' yang cukup sakral untuk kesejahteraan hidup Selin.
"O-oke. Gue bikinin. M-minggir dulu, gue mau mandi," ujar Selin gagap.
Jean tersenyum menang. Sementara Selin menyadari bahwa ia sedang terjebak dalam permainan Jean. Permainan tak berujung yang harus ia tahan selama 6 bulam ke depan.
...
Selin merendam dirinya di bathub yang dipenuhi gelembung sabun beraroma bunga mawar. Terakhir kali Selin tinggal di rumah dengan bathub di dalamnya adalah 2 tahun lalu, ketika ayahnya masih ada dan keadaan ekonomi keluarga aman-aman saja. Ia tak pernah menyangka kesempatan seperti ini datang lagi padanya.
Selin berendam sambil merutuki responnya pada Jean barusan. Ia sadar bahwa kebodohan telah menguasainya. Ia merutuki suaranya yang tergagap ketika menjawab Jean tadi. Sangat tidak terhormat, pikirnya.
g****k! Selin g****k! Gimana kalau dia makin manfaatin gue nanti-nantinya?
Selin menyudahi mandinya ketika ia menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 6 yang artinya dia telah berendam kurang lebih 2 jam. Bisa-bisa Jean--yang b******k dan cerewet itu--marah karena kelaparan dan malah membuat malapetaka lainnya.
Selin cepat-cepat membalut tubuhnya dengan bathrobe berwarna putih bersih. Selin keluar dari kamar mandi lalu menuji ke sebuah lemari yang merupakan walk in closet. Sebuah lemari berwarna kuning cerah menonjol di antara lemari-lemari lain yang berwarna putih. Melihatnya dari jauh saja sudah membuat Selin senang.
Menurut penuturan Jean, lemari itu memang dibuat khusus untuknya. Sengaja dibuat berwarna kuning cerah karena seluruh rumah didominasi warna hitam putih yang menurut Bundanya membosankan. Bunda alias Tante Regina juga sudah memindahkan beberapa baju Selin ke dalam sana.
Selin berjalan menuju lemari pakaiannya dengan langkah yang riang, namun begitu ia membuka pintu pertama, Selin terkejut bukan main.
Lho? Mana baju-baju gue? Katanya udah dipindahin? Batinnya histeris.
Selin membuka seluruh bagian lemari, mengamatinya secara teliti namun tetap tak menghasilkan apa-apa. Dengan kata lain, kosong. Tidak kosong sepenuhnya juga. Masih ada beberapa pasang underware. Tapi masa iya Selin hanya memakai underware?
Gadis itu menautkan alisnya, berpikir keras tentang apa yang harus ia pakai jika tak ada pakaian sama sekali seperti ini. Ia mulai panik. Bukan apa, masalahnya ia tidak sedang sendirian di rumah ini. Ia bahkan sekamar dengan seorang laki-laki m***m yang Selin sudah tau tingkah lakunya.
Selin membuka bagian laci, berharap menemukan sesuatu yang lebih masuk akal di dalam sana. Dan ya, ia menemukan sebuah kotak berwarna merah dengan selembar kartu bertuliskan 'Selindyah Asthaparayya' di atasnya. Selin mengernyit, penasaran dengan apa isinya.
Jemarinya membuka kotak itu perlahan. Matanya melotot sempurna begitu melihat apa yang ada di dalam sana. Otomatis, kotak itu terlepas dari gengamman dan bibir mungilnya berteriak, "Argghhhhhh!!!"
Sedetik kemudian Jean masuk ke dalam walk in closet sambil berlari.
"Ngapain sih lo teriak-teriak? Orang enak-enak rebahan juga ribut banget. Gue kira ada maling!" gerutu Jean.
Selin tak menjawab. Namun tatapan horornya ke arah lantai membuat Jean akhirnya menyadari sesuatu bermotif leopard yang sedang tergeletak di atas sana.
Jean mendekati benda itu dan mengangkatnya.
"Lingerie? Motif ini? Are you trying to seduce me?"