Episode 15

1345 Kata

"Bu Nisa, ibu nggak papa?" Usai Mas Arman menanda tangani berkas pengalihan hak atas usaha percetakan ini dan keluar dari ruangan, Aditya muncul dengan wajah terlihat khawatir. Aku menggelengkan kepala lalu menyimpan kembali berkas ke dalam tas. Aman. Mulai hari ini tak ada lagi yang bisa mengganggu gugat kepemilikan usaha percetakan ini. Aku tersenyum puas. "Nggak papa. Oh ya, gimana? Kita lanjutkan briefingnya atau kamu bisa menghandle semuanya, Dit?" Tanyaku sembari membenahi meja dari kertas-kertas laporan hasil usaha yang tadi diserahkan Aditya padaku. Hari sudah pukul lima sore. Aku harus segera pulang kalau tak mau kemalaman di perjalanan. Jarak dari tempat usaha menuju kediaman ibu memang lumayan jauh. Sekitar dua puluh kilometer. Maklum rumah ibu termasuk di daerah pinggiran

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN