Ariez berusaha keras untuk tidak mengambil ponselnya yang sudah berdering sejak tadi. Dia sangat ingin mematikan ponselnya dan terlepas dari rentetan telepon maupun pesan yang dikirim oleh Riva, tapi entah kenapa hati dan pikirannya melakukan hal yang berbeda. Ponselnya masih berada di atas nakas, tidak tersentuh sedikitpun sejak tadi pagi. Hanya taku day. Takut jika dia menyentuh ponselnya, dia tidak bisa menahan diri untuk mengabaikan telepon dari Riva. Dia takut jika tembok kokoh yang sudah dibangunnya selama tiga hari ini hancur hanya karena suara Riva. Ariez terlalu takut dengan segala kemungkinan buruk ada di dalam pikirannya. "Ponsel kamu bunyi terus, nggak diangkat, Ar?" Tegur Bu Liana karena Ariez tak kunjung mengambil ponselnya. "Enggak." "More Iva, now?" "Riva, Bun. Bukan

