Malam semakin larut saat mobil hitam yang membawa Skyler memasuki pekarangan rumah pribadinya yang luas. Bangunan mewah bergaya modern itu berdiri megah di kawasan elit kerajaan. Biasanya, suasana malam di sini selalu terasa tenang dan damai baginya. Namun malam ini berbeda. Sangat berbeda.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Pengawal kerajaan yang mengawal sejak dari istana langsung turun lebih dulu untuk berjaga. Di dalam mobil, Damian meregangkan tubuhnya sambil menguap lebar.
"Ya Tuhan..." keluhnya.
Skyler melirik sekilas. "Kenapa Lo?"
"Gue capek banget."
Skyler turun dan berjalan masuk ke dalam rumah. "Siapa suruh hidup lo bareng gue."
Damian langsung melotot kaget mengikuti dari belakang. "Jahat banget mulut lo."
Skyler tidak menjawab. Pikirannya melayang jauh, masih tertinggal di tempat kejadian tadi—di istana, di tengah kobaran api, dan pada suara dentuman keras yang sampai detik ini masih terngiang jelas di kepalanya.
Mereka berdua masuk ke ruang keluarga. Beberapa staf rumah yang masih bertugas langsung membungkuk hormat menyambut kedatangannya.
"Selamat malam, Yang Mulia."
Skyler mengangguk kecil. "Semua staf lain sudah pulang?"
"Sudah, Yang Mulia."
"Bagus."
Damian langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa panjang dengan napas lega. "Sumpah... gue sampai sekarang masih gak percaya kejadian malam ini."
Skyler mulai membuka kancing dan melepas jasnya. "Apanya yang gak percaya?"
"Kebakaran itu."
Skyler terdiam sejenak, lalu berjalan menuju meja minum. Ia menuangkan segelas air dingin.
"Kalau itu cuma kecelakaan biasa, rasanya jadi aneh banget," lanjut Damian.
Skyler meneguk airnya perlahan. "Terlalu aneh untuk sekadar kecelakaan."
"Nah kan! Lo juga merasakan hal yang sama kan?" Damian mengangguk cepat. "Memang api bisa saja terjadi karena kelalaian..."
"Tapi ada suara dentuman itu," potong Skyler pelan.
"Itu dia! Itu yang bikin gue gak tenang dari tadi." Damian menunjuk wajah temannya. "Ada ledakan sebelum api membesar, kan?"
Skyler menyandarkan punggungnya ke tepi meja minum, tatapannya kosong dan jauh. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, hingga ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari kepala keamanan kerajaan. Skyler membaca isinya: Semua tamu yang berada di lokasi sedang dimintai keterangan. Rekaman CCTV sedang diperiksa.
Skyler menghela napas panjang. Belum ada hasil, belum ada petunjuk, dan belum ada nama tersangka yang jelas.
"Lo curiga siapa?" tanya Damian memecah keheningan.
Skyler menggeleng pelan. "Belum tahu."
"Musuh kerajaan?"
"Bisa saja."
"Saingan bisnis?"
"Bisa juga."
"Atau orang gila yang iseng?"
"Itu pun bisa."
Damian mengusap wajahnya lelah. "Wah, jawaban lo sangat membantu banget ternyata."
Skyler menatapnya datar. "Gue bukan cenayang yang bisa baca pikiran orang."
Damian mendecak kesal, lalu tiba-tiba menyeringai jahil. "Atau jangan-jangan..."
Skyler langsung menatap curiga. "Apaan?"
"Lo dari tadi diam dan kelihatan banget lagi mikirin sesuatu."
"Terus?"
"Yang lo pikirin bukan cuma soal kebakaran itu kan?"
Skyler diam saja, tidak menyahut.
Damian makin bersemangat menebak. "Hayooo... bener kan?"
"Damian."
"Hm?"
"Diam sana."
Damian tertawa puas.
Skyler tahu persis ke mana arah pembicaraan itu. Dan ia sungguh malas meladeni pikiran iseng temannya itu. Namun sialnya—tepat saat itu juga, bayangan seseorang kembali muncul begitu saja di kepalanya: gaun berwarna sampanye, sepasang mata bulat yang cantik, serta suara kecil yang terdengar panik saat kejadian tadi.
Skyler mendecak pelan kesal. Menyebalkan sekali. Kenapa justru hal itu yang muncul dan memenuhi kepalanya saat ini?
Sementara itu, di kediaman keluarga Beaumont, suasana terasa jauh lebih hangat dan tenang.
Ansel baru saja selesai mandi. Rambut panjangnya masih sedikit basah dan berantakan, wajahnya sudah bersih dari riasan. Ia mengenakan piyama longgar berwarna biru muda kesayangannya, dan saat ini masih duduk memeluk erat lengan kakaknya, Alex.
Alex sampai menghela napas panjang karena merasa terbebani pelukan itu. "Sel..."
"Hm?" jawab Ansel tanpa melepaskan pelukannya.
"Lo kayak koala yang nempel banget."
Ansel malah mempererat pelukannya. "Gue takut, Bang."
Nada suara itu langsung membuat hati Alex luluh dan melunak. "Yaudah, nggak apa-apa."
"Bang..."
"Hm?"
"Lo tidur sama gue aja malam ini ya."
Alex tertawa kecil mendengar permintaan itu. "Anjir, manja banget sih lo."
"Beneran, Bang. Gue masih kaget."
"Iya iya, boleh."
Ansel langsung tersenyum lebar lega. "Beneran ya?"
"Iya. Tapi bentar dulu ya..."
"Hm? Kenapa?"
"Gue mau telepon cewek gue dulu lewat video call."
Ansel langsung melepaskan pelukannya dan menunjuk pintu kamar dengan sigap. "Oke Bang, silakan."
Alex berdiri sambil tersenyum geli. "Kok langsung ngusir gue?"
"Soalnya kasihan Kak Rere kalau nunggu."
Alex tertawa renyah. "Dasar anak manja."
"Bang..."
"Apa lagi?"
"Kabari Kak Rere ya, kalau gue sayang sama dia."
"Lo aja yang bilang sendiri nanti."
"Ah, malas ah."
Alex menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan keluar kamar. Begitu pintu tertutup rapat, Ansel langsung mengambil bungkusan makanan yang tadi dibeli saat pulang.
"Akhirnya... sendirian juga," gumamnya senang.
Ia membuka bungkusan itu, menggigit pelan isinya, dan matanya langsung berbinar puas. "Mmm... enak banget." Rasanya nikmat sekali, apalagi setelah melewati hari yang panjang dan melelahkan penuh ketakutan tadi.
Tak lama kemudian ia mengambil ponselnya, memotret roti lapis itu, lalu memotret juga segelas s**u dingin yang tersedia di meja. Setelah itu ia membuka aplikasi media sosialnya, mengunggah foto ke beranda cerita:
📸 Sandwich
"Hari yang panjang banget. Untung ada makanan favorit penyelamat suasana hati."
Selesai.
Tak lama beranda itu ramai berkomentar. Banyak teman yang ternyata sudah mendengar berita kebakaran di istana.
«Lo gapapa???»
«Selamat ya lo masih aman.»
«Gue lihat berita tadi, serem banget.»
«Kamu gak kenapa-napa kan?»
Ansel hanya membalas singkat: Aku aman kok ❤️
Beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka kembali. Alex masuk sambil membawa dua botol air mineral.
"Udah selesai teleponnya?" tanya Ansel.
Alex mengangguk duduk di samping adiknya. "Udah."
"Kak Rere sehat?"
"Sehat dan tanya kabar lo juga."
"Titip salam ya."
"Iya sudah."
Alex melihat roti lapis di tangan Ansel. "Lapar banget ternyata ya lo."
Ansel mengangguk antusias. "Banget."
Alex ikut mengambil satu potong. Mereka makan bersama dalam suasana santai dan tenang, sampai akhirnya Alex tiba-tiba berbicara dengan nada yang berubah sedikit serius.
"Dek..."
"Hm?" Ansel menoleh.
"Kalau gue tahu bakal kejadian begini..." Alex menghela napas panjang. "...Gue gak bakal ajak lo datang ke sana tadi."
Ansel diam mendengarnya.
"Dan gue sendiri pun gak bakal datang ke tempat itu," tambah Alex pelan.
Ansel menatap rotinya sebentar, lalu tersenyum kecil. "Gue juga, Bang."
Alex mengangkat alis. "Hah?"
"Kalau tahu bakal ada kebakaran dan ledakan..." Ansel menggigit makanannya lagi dengan santai. "...Gue juga gak mau ikut-ikutan ke sana."
Alex terkekeh pelan lega. "Nah kan, sama saja kita."
"Capek banget rasanya."
"Dan takut juga kan?"
"Iya."
Mereka saling pandang sejenak, lalu tertawa kecil bersamaan. Suasana canggung dan tegang perlahan hilang. Alex mengusap kepala adiknya penuh kasih.
"Besok jangan keluar rumah dulu ya."
"Hm? Kenapa?"
"Mama sama Papa sudah bilang. Katanya situasi belum aman dan banyak yang bertanya-tanya soal kejadian itu."
Ansel mengangguk paham. "Oh iya bener juga."
"Terus..." Alex menyeringai jahil. "Muka kita berdua lagi terpampang besar di berita-berita media."
Ansel langsung menutup wajahnya rapat-rapat menggunakan bantal sofa. "Aduh... malu banget."
"Bukan cuma lo yang terpampang," ujar Alex sambil menunjuk dirinya sendiri. "Gue juga ikut jadi berita."
Ansel mengintip dari balik celah bantal. "Apalagi..."
"Apalagi lo sama Skyler," sambung Alex cepat dengan nada menggoda.
"ABANG!" seru Ansel kesal.
"Apa? Emang bener kan?"
Ansel langsung melempar bantal tepat ke arah wajah kakaknya.
Alex tertawa keras menghindar. "Itu fakta lho! Foto kalian berdua pas kejadian itu udah nyebar ke mana-mana."
Ansel memejamkan mata pasrah. "Ya Tuhan... sial banget nasib gue."
Alex masih tertawa puas melihat tingkah adiknya. "Makanya besok di rumah aja ya, jangan ke mana-mana dulu."
Ansel mengangguk pasrah. "Iya, gue nurut aja deh Bang. Gak masalah kalau gak keluar rumah dulu."
"Bagus dong," puji Alex sambil menunjuk sisa makanan di tangan adiknya.
Ansel lalu berdiri tegak, mengangkat kedua tangannya seolah memberi komando. "Siap."
Alex ikut berdiri. "Siap apaan nih?"
"Sekarang kita bergerak," kata Ansel tegas sambil menunjuk arah kamar mandi. "Langkah pertama: cuci muka."
"Baik, Komandan."
"Langkah kedua: sikat gigi."
"Siap dilaksanakan."
"Langkah ketiga: pakai perawatan wajah."
"Siap."
"Dan langkah terakhir: tidur nyenyak."
Alex memberi hormat pura-pura hormat. "Siap, adek abang yang paling cantik."
Ansel langsung tertawa renyah mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian menakutkan itu, rasa takut yang menghantui hatinya perlahan mulai hilang dan berkurang. Karena setidaknya malam ini... ia tidak sendirian.