Hujan rintik-rintik...
Cherry masih setia bersimpuh di samping pusara sang Ibu. Tak menghiraukan bajunya yang kotor dan mulai basah. Kepergian Ibunya yang mendadak sungguh menghancurkan hatinya. Meninggalkan Cherry dalam penyesalan mendalam. Ibunya pergi tanpa meninggalkan pesan apapun. Ibunya bahkan tidak pernah mengeluhkan rasa sakit yang ternyata telah lama dideritanya. Yang Cherry tahu adalah, sang Ibu tiba-tiba saja pingsan dan di diagnosa maag kronis lalu mendapatkan perawatan. Namun menurut hasil observasi dari dokter yang menanganinya diketahui bahwa penyakit itu sudah kronis dan menyerang fungsi lambung dan livernya. Sungguh Cherry tak menyangka karena Ibunya tak pernah mengeluh atau menampakkan tanda beliau sakit saat di depannya. Cherry merasa bersalah. Sungguh bukan karena dia tak sayang dan perhatian pada sang Ibu, sungguh dia tak tahu. Apalagi sifat Ibunya yang tak pernah mau merepotkan orang lain menjadikan dia berpikir semua baik-baik saja.
"Maafkan aku, Mommy..." Lirih Cherry bergumam. Berat sekali rasanya meninggalkan pusara sang Ibu. Cherry melangkah pelan meninggalkan pusara sang Ibu. Berjalan ke arah Ethan yang berdiri sambil menyilangkan kaki, melipat tangan di d**a dan bersandar pada mobilnya.
"Ethan, aku minta ijin...tidak ke apartemenmu dulu beberapa hari ini. Ada yang harus aku selesaikan..."
Ethan diam dan menghela napas. Cherry menunggu jawaban Ethan.
"Tidak." Ethan menjawab sambil membuka pintu mobil menyuruh Cherry masuk. Cherry tertegun. Sampai dirasakan tangan Ethan menariknya pelan. Mendudukkannya di mobil dan memasangkan sabuk pengaman, lalu melangkah memutar masuk mobil dari sisi lainnya. Ethan menjalankan mobilnya keluar dari kompleks pemakaman. Diam. Dingin.
"Ethan, aku..." Ucapan Cherry menggantung, lalu terhenti karena tatapan Ethan yang mengintimidasi. Cherry sebal dengan tatapan itu.
"Hutangmu masih banyak...jadi laksanakan perjanjian kita dengan baik!." Kata - kata Ethan tegas, tak terbantah.
Cherry terhenyak mendengar kata-kata Ethan. Sungguh...keterlaluan!
Tak bisakah Ethan memberinya ruang dan kelonggaran waktu? What the hell...dia sedang berkabung dan membutuhkan beberapa hari untuk menenangkan diri. Dan Ethan dengan tak berhati mengingatkannya pada hutangnya. Keterlaluan! Cherry bahkan tak berpikir untuk melarikan diri seperti seorang pengecut, tapi Ethan tega berkata seperti itu padanya.
Huuufftt...
Cherry menghela napas pelan. Dia harus ekstra sabar. Beruang kutub percuma kalau dilawan. Cherry memilih mengalihkan pandangan matanya ke kaca mobil. Menekuri pemandangan jalanan dan lalu lalang orang. Ethan sesekali menoleh ke arah Cherry yang terlihat kesal.
Maaf, tapi aku butuh kau tetap bersamaku. Hingga aku benar - benar yakin dengan apa yang aku rasakan sekarang, batin Ethan.
Cherry tak lagi berkata-kata bahkan sesampainya mereka di apartemen. Cuma berguman mengucapkan terimakasih pada Philip yang memberinya secangkir teh ber aroma jasmine. Cherry masuk ke kamarnya diiringi pandangan prihatin Philip dan helaan napas putus asa Ethan.
"Apakah mau makan siang sekarang, Sir?." Dan Ethan menggeleng.
" A cup of tea please, Philip...tolong bawa ke rooftop. Dan tolong pastikan Cherry makan dengan benar...kalau perlu tolong kau suapi." Ethan melangkah menuju rooftop.
Philip mengangguk dan segera berjalan menuju dapur membuatkan Ethan teh dan segera membawanya ke atas. Setelah itu dia membawa semangkuk macaroni scottel dan segelas mango juice kearah kamar Cherry. Dia akan memastikan gadis itu makan dengan benar sesuai dengan perintah Ethan.
Sementara itu di rooftop, Ethan menyesap tehnya, menyandarkan badan ke kursi malasnya. Dia butuh terlelap walau sebentar.
----------------------------------
Keesokan harinya semua berjalan seperti biasanya. Cherry yang mengerjakan tugasnya dengan baik, Philip yang memasak tepat waktu dan selalu menghidangkan makanan yang lezat dan menggugah selera. Normal dengan sedikit perubahan...wajah Cherry yang seringkali terlihat murung, dan...itu sangat mengganggu Ethan.
Tak terasa sudah 3 bulan berjalan seperti ini. Dengan sepihak Ethan bahkan memutuskan kontrak kerja Cherry dengan pihak Cafe tempat Cherry bekerja dengan membayar uang kompensasi yang tidak sedikit. Cherry yang mengetahui hal itu diam saja, tak mengeluarkan bantahan atau kekesalan.
Hari berlalu begitu saja....
Ethan yang baru pulang dari rumah sakit disuguhi pemandangan yang... membuatnya entah apa namanya...kesal mungkin. Ethan membuka pintu dan melihat Henry sahabatnya sekaligus direktur dan pemilik rumah sakit tempatnya bekerja sedang tertawa bersama...Cherry. Cherry bahkan sampai mengusap airmatanya karena sepertinya terlalu banyak tertawa. Henry dan Cherry menoleh ke arah Ethan tanpa berhenti tertawa.
"Ethan." Henry menyapa.
Ethan mengangguk dan melangkah menuju kamarnya. Ethan mandi dan keluar lagi menuju ruang tamu dan hanya ada Henry yang sedang menonton TV. Ethan melihat kelebat Cherry dalam kamarnya yang tidak tertutup. Ethan mengamati apartemennya...rapi...bahkan sangat rapi, dia tak bisa menemukan celah untuk menyuruh Cherry mengerjakan ini dan itu.
"Ada apa Henry? Ada yang penting?." Ethan bertanya sambil menyugar rambutnya yang masih sedikit basah.
"Oh...jadi harus ada yang penting kalau aku datang ke sini? Tidak ada yang penting kalau kau mau tahu."
Ethan bergabung dengan Henry. Menyandarkan badan ke sofa dan menyelonjorkan kedua kakinya bertumpu pada meja.
"Cherry...cantik dan ramah. Dia bilang 3 bulan lagi kontrak kerjanya denganmu selesai. Dia boleh bekerja di rumah sakit kalau dia mau. Atau di apartemenku." Henry berkata dengan nada serius. Tubuhnya sedikit merunduk. Condong ke arah Ethan menandakan dia sangat serius dengan apa yang dibicarakannya.
Ethan menggeleng dan memukul lengan Henry.
"Kenapa? Kau tak bermaksud menahannya lebih lama bukan?."
Ethan menghela napas. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan mulai mengusap dagunya.
"Aku tidak tahu... aku sedang memastikan sesuatu dulu."
Henry tergelak. Ethan teringat Cherry yang begitu mudah tergelak saat berbicara dengan Henry. Dengannya...Cherry bahkan irit senyum, irit bicara, apalagi tertawa.
"Bagaimana Cherry akan dekat denganmu kalau masih saja wanita-wanita itu hilir mudik, silih berganti keluar masuk kamarmu?."Henry terkekeh sambil menoleh ke arah kamar Cherry. Ethan tertegun. Cherry bahkan tak pernah memprotesnya.
"Pekalah sedikit, Ethan Leandro."
"Aku hanya merasa ini terlalu cepat."
"Tidak ada istilah terlalu cepat untuk orang yang jatuh cinta. Cinta tidak bisa tahu kapan, dan memilih di mana dia akan jatuh. Kau hanya terlalu kaku untuk mengakuinya."
Ethan percaya dengan semua omongan Henry karena Ethan tahu Henry berpengalaman dengan hal itu. Ethan selalu ingat bagaimana kehidupan Henry yang selalu berganti-ganti wanita. Bukan karena dia playboy atau apa...tapi karena wanita-wanita selalu mengejarnya tanpa lelah. Henry hanya ingin bersikap ramah. Sehingga orang yang tidak tahu akan menganggapnya playboy. Hal itu berlangsung bertahun-tahun sampai Henry menemukan cintanya. Cinta yang tidak disangka sudah ada begitu dekat dengannya. Sudah berada dekat dengannya bertahun-tahun lamanya tapi secara tak sengaja diabaikannya. Siapa yang akan menyangka kalau Henry jatuh cinta pada Hyung Moon wanita mungil ras Asia yang notabene selalu berada di dekatnya karena Hyung Moon adalah sekretarisnya, bahkan teman masa kuliahnya dan 6 bulan ini adalah tunangannya.
Yah...siapa yang akan tahu di mana sang cinta berlabuh. Bahkan untuk Henry yang butuh waktu sekian lama untuk akhirnya menyadari bahwa dermaganya tak jauh dari dirinya. Dan karena itu Ethan percaya pada Henry.
Henry beranjak dari sofa menyentak lamunan Ethan.
"Aku pulang dulu. Ada janji makan malam dengan kesayangan".
Ethan selalu geli mendengar panggilan Henry untuk Hyung Moon.
"Peka...Satu hal yang harus kau tahu, Cherry blushing saat kami membicarakanmu." Henry menonjok lengan Ethan pelan lengkap dengan tawanya.
Ethan menutup pintu apartemen saat Henry sudah keluar. Ethan melangkah menuju kamarnya. Tadi dia melihat pintu kamar Cherry telah tertutup. Ethan tersenyum memikirkan perkataan Henry. Cherry?
Blushing?
Dia memang bukan orang yang mempunyai kepekaan yang mumpuni kalau sudah menyangkut masalah perasaan. Mungkin sekarang saatnya berdamai dengan hatinya sendiri dan mengakui bahwa kehadiran Cherry menggelitik hatinya.
Cinta? Mungkin...
-------------------------------------
Pukul 20:00
Hujan turun tiba-tiba dengan derasnya. Petir dan kilat menyambar-nyambar. Terlihat jelas oleh Ethan yang sedang berada di rooftop. Ethan baru selesai menelpon Dean dan Ayahnya membuat janji temu dengan mereka besok siang. Sekedar makan dan mengobrol.
Lalu hujan turun deras tanpa peringatan apa-apa seperti mendung atau gelap.
(ya elaaaaaah...Ethan... lo tahu ga sih pepatah "mendung tak berarti hujan?" *Author)
"Aaaaaaaaaa...!! Terdengar suara teriakan Cherry. Ethan kaget mendengar suara teriakan Cherry dari lantai bawah. Melengking mencoba mengalahkan suara hujan. Ethan berlari turun ke lantai bawah dan mendengar tangisan Cherry. Ethan menerobos ke kamar Cherry dan menemukan Cherry yang menutup rapat badannya dengan dengan selimut sambil terus menangis.
"Cherry...kenapa?." Ethan menyingkap selimut yang menutup seluruh badan Cherry, menemukan Cherry yang menangis dengan wajah pucat.
"Ethan..." Lirih suara Cherry tertelan bunyi derasnya hujan. Ethan beringsut ke atas ranjang dan segera mengangkat tubuh Cherry. Cherry kaget tapi tak memprotes tindakan Ethan. Cherry lebih ngeri dengan hujan dan petir yang masih menggelegar bagaikan naga raksasa yang mengamuk dengan suara mencekam. Ethan menggendong tubuh Cherry bagaikan seorang pria membawa pengantinnya. Ringan tanpa beban mengingat tubuh Cherry yang kelihatan mungil di dalam dekapan Ethan. Ethan membawa Cherry ke rooftop, menurunkan gadis itu tepat di tengah ruangan. Ethan melingkarkan tangannya di pinggang Cherry.
"Lihat ke atas Cherry. Tidak usah takut, ada aku". Ethan berbisik lirih. Cherry yang masih memejamkan mata mencoba membuka matanya pelan, dan menemukan pemandangan luar biasa. Hujan turun seakan menari dengan atap kaca tebal rooftop.
"Cobalah nikmati hujan dengan rasa yang lain. Nikmati hantaman suara petir dan kilat dengan sisi hati yang lain. Sisi hati pemberanimu. Istirahatkan sejenak sisi hati penakutmu. Ada aku..." Ethan berbisik lagi. Cherry membuka matanya lebar, mencoba menatap dan mendengarkan hujan yang ditingkahi kilat dan petir. Tangannya terus memegang tangan Ethan. Sesekali masih merasakan rasa takut, tapi Ethan mengeratkan pelukan di pinggangnya memberi kekuatan. Lama kelamaan Cherry bisa menikmati hujan yang bersahabat dengan kilat dan petir. Hal yang tidak bisa dilakukannya sepanjang hidupnya. Saat hujan turun dengan pasukan petir dan kilat dia akan selalu bersembunyi di balik selimut atau pelukan Mommynya. Mulut mungilnya mulai menyunggingkan senyum.
"Indah..." Cherry bergumam.
"Hmm..."
Cherry tersentak dan melepaskan pelukan Ethan, canggung menyelimuti. Cherry memilih menatap sekeliling rooftop. Takjub dengan isinya.
Tiba-tiba Ethan meraih tangannya dan menariknya ke arah sebuah tenda super besar yang ada di ruangan itu. Mengajaknya duduk di dalam tenda.
"Nikmatilah hujan dari sini. Aku sering melakukannya." Ethan menyingkap pintu tenda. Membukanya lebar-lebar dengan memasang pengaitnya. Cherry memandang hujan yang masih deras turun. Petir dan kilat juga masih terdengar dan terlihat. Seperti tarian saja. Saling meningkahi satu sama lain. Ethan memandang wajah Cherry yang mulai terlihat memerah, tak lagi pucat seperti saat Ethan menemukannya.
Tiba-tiba Cherry menoleh dan menemukan betapa jarak wajahnya dan wajah Ethan begitu dekat. Boleh jadi...mereka duduk berhimpit seperti ini. Mata sehitam malam milik Ethan entah mengapa terlihat lebih lembut kali ini di mata Cherry. Ethan berusaha sekuat tenaga menenangkan debaran jantungnya. Cherry juga melakukan hal yang sama.
Apa itu? Dalam temaram cahaya perapian...benarkah yang dilihat Ethan? Cherry blushing?
Wajahnya memerah. Merah yang menggemaskan. Ethan menyelipkan rambut nakal ke belakang telinga Cherry. Menyentuh pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Cherry terdiam dengan perlakuan Ethan. Terkesima dengan aura yang Ethan pendarkan. Feromon yang begitu berpendar. Kuat menghantam seluruh indera di tubuh Cherry.
Memabukkan.
Deru napas halus Ethan dan Cherry seakan mengalahkan suara hujan yang masih betah turun.
(hujannya di formalin jadi betah dan awet...cieeeee..pada serius nih yang baca *Author nya lagi Somplak...maafkeun ).
Ethan mengikis jaraknya dengan wajah Cherry. Napas hangat menerpa wajahnya. Menggelitik, mengirimkan pendar-pendar cahaya dan percikan listrik skala kecil ke tubuh mereka.
Dan...
Ethan mencium lembut bibir Cherry yang begitu didambanya, seiring terpejamnya mata Cherry. Ethan menarik leher Cherry memperdalam ciumannya. Gerakan halus bibir Cherry membalas. Saling menautkan rasa dengan kehalusan gerak yang luar biasa. Begitu halus seakan takut akan saling melukai dan menghancurkan. Cherry mencengkeram pinggang kemeja Ethan seakan takut terjatuh.
Ethan melepaskan ciumannya, menempelkan dahinya ke dahi Cherry. Menikmati deru napas mereka. Menikmati wajah Cherry yang memerah dengan mata terpejam.
"Ethan..." Lirih Cherry berbisik.
"Hmm..."
"Ada apa denganmu?." Cherry bertanya keheranan.
"Tidak ada apa-apa."
"Kau menciumku." Cherry berbisik lirih. Suaranya tercekat rasa yang entah apa namanya.
"Well...ya. Aku baru saja menciummu'."
"Kenapa menciumku?."
"That was love." Kalimat singkat yang mampu membuat Cherry membeku. Pikirannya berkerja cepat dan keras mencerna setiap kata dalam kalimat singkat itu sementara Ethan masih menatapnya dengan kedua manik mata hitam yang terlihat sangat redup. Kupu-kupu itu benar serasa beterbangan di dalam perut Cherry. Ternyata benar apa yang ditulis oleh author novel-novel romance yang sering dia baca. Bahwa kupu-kupu serasa beterbangan di dalam perut orang yang tengah jatuh cinta. Berputar-putar membuat mual dan sensasi pening di kepala karena terlalu bahagia.
Jatuh cinta?
Apa artinya Cherry jatuh cinta pada Ethan. Sejak kapan? Ethan mengelus pipi Cherry pelan. Mencium lagi bibir Cherry sekilas. Mengacak rambut Cherry gemas.
"Tidurlah." Ethan berbisik lembut tepat di telinga Cherry. Cherry tertegun. Ingin beranjak dari tenda tapi justru Ethan menariknya ke dalam pelukannya. Membaringkan tubuh Cherry dan memeluknya erat.
"Ethan..."
"Tidurlah."
"Tapi..." Cherry hendak membantah.
" Tidur." Suara Ethan terdengar berat dan tegas. Cherry berbalik memunggungi Ethan. Ethan menarik selimut, memeluk pinggang Cherry erat. Tak berapa lama terdengar deru halus napas Ethan. Tertidur dengan tangan memeluk erat Cherry. Cherry yang masih terjaga tersenyum. Mengingat lagi kejadian barusan.
Hujan masih deras turun mengiringi Cherry yang perlahan ikut terlelap.
Tak ada lagi rasa takut akan kilat dan petir ataupun suara gemuruh yang meningkahi hujan. Walaupun masih tersisa, namun hanya sedikit.
Yang akan lenyap seiring waktu yang bergulir.
--------------------------