Rasa bimbang menyelimuti diri. Bagaimana tidak, saat itu tak hanya ada suara berisik dari sebuah mesin waktu. Melainkan, untuk kesekian suara Kyteler terdengar berseru. “Sampai kapan aku harus menunggu, Leonardo? Bukankah, sudah kukatakan jika kau telah terlambat tiga hari? Lantas, kau hendak pergi ke mana lagi? Bukankah, kepulanganmu ke tempat asal, selalu membawa dampak buruk bagi orang-orang yang kau tinggalkan di masa ini?” Kyteler memprovokasi. Sejatinya, ucapan Kyteler tak salah. Justru, penyihir wanita tersebut berkata apa adanya. Mengingat, lima menit berada di masa depan; sama halnya satu hari di masa lalu. Lagi pula, bukankah kesepakatan antar sang pemuda dan penyihir itu terjadi, karena Leonardo tak ingin Kyteler kembali menjelma menjadi Priscilla? Lantas, apakah Leonardo mas

