Mas Arka mengalihkan tatapannya yang tadi sempat terpaku pada Dokter Wina kemudian berpura melihat ke arah jam yang ad aid pergelangan tangannya.
“Sudah waktunya jam praktek. Sebaiknya kita masuk,” ucap Mas Arka yang kemudian berjalan meninggalkan aku dan Dokter Wina.
Aku bingung melihat sikap Mas Arka yang begitu dingin.
“Saya permisi duluan, Dokter,” ucapku pada Dokter Wina yang masih berdiri terdiam.
Dokter Wina bergeming seakan tidak mendengar apa-apa. Aku mengabaikannya dan segera berjalan dengan cepat mengejar Mas Arka yang sudah menjauh masuk ke dalam rumah sakit.
Aku mulai terengah-engah menatap punggung Mas Arka yang semakin menghilang. Dengan tungkak sepatu yang tinggi, mana bisa aku melangkahkan kakiku lebih cepat lagi.
“Kalau gak pakai sepatu ini pasti jalanku bisa lebih cepat,” dumelku dalam hati sambil mulai berjalan pelan. Kakiku juga sudah mulai terasa nyeri karena sepatu itu.
“Kamu kenapa berjalan seperti itu, Kin?” tanya Maya, asisten Mas Arka begitu aku tiba di depan stasi polinya.
Aku menatap pintu ruangan praktek Mas Arka yang baru saja ditutupnya dengan agak kasar.
“Astaga, berapa ronde? Gede ya?” Wajah Maya berubah menegang dengan mata yang semakin membulat kearahku.
Aku mengambil sebuah map yang ada di atas mejanya dan memukul kepalanya.
“Otakmu itu ya, May. Kakiku sakit karena tadi lari-lari dengan sepatu ini,” ucapku memberi penjelasan agar otak temanku itu bisa lebih jernih.
Maya melihat ke arah kakinya kemudian tertawa.
“Lagian ngapain juga kerja pakai sepatu kayak supermodel begitu. Kamu itu laki-laki yang terjebak dalam tubuh perempuan, Kinan. Mana pantes pakai sepatu ala Kate Middleton begitu. Melawan takdir sih, jadi sakit kan kaki.”
Aku menatap tajam wajah Maya. Kalau bukan teman sendiri, sudah aku cakar bibir lebarnya itu.
“Tapi kayaknya mood Dokter Arka lagi gak bagus deh. Tadi aku lihat wajahnya begitu tegang dan kayak marah gitu. Kalian bertengkar ya?” tanya Maya lagi.
“Gak kok,” aku menggelengkan kepalaku, “Tadi pagi masih sarapan bareng. Mas Arka ketawa begitu lepas.”
“Mungkin karena hari pertama praktek setelah honeymoon kali ya. Ntar malem kasih yang spesial dong, Kinan. Biar mood Dokter Arka bagus. Aku kan jadi takut kalau wajahnya begitu.”
Aku terdiam beberapa saat. Kenapa mood Mas Arka berubah drastis? Sewaktu berangkat tadi masih baik-baik saja. Apa karena tidak tidur semalaman itu ya?”
“Kinan! Eh, malah melamun,” ucap Maya menyadarkanku. Tangannya melambai tepat di depan wajahku.
“Sudah, Ah. Aku mau kerja.”
Aku segera berjalan meninggalkan Maya yang masih komat kamit di depanku. Entah apa yang diucapkannnya lagi, aku tidak terlalu fokus.
Setibanya di stasiku, aku segera mengganti sepatu yang sedang aku pakai dengan flatshoes yang aku simpan di dalam loker. Aku merasa lega begitu sepatu itu terlepas dari kakiku.
“Entah sampai kapan aku haru memakai sepatu seperti ini ke tempat kerja,” gumamku sambil memasukkan sepatu pemberian suamiku itu ke dalam loker.
Aku mulai mengerjakan pekerjaanku. Para pasien sudah mulai berdatangaan dan duduk berjejer di kursi tunggu depan stasiku. Aku mempercepat gerakanku mengurus rekam medis pasien yang akan berkonsultasi hari itu dan segera berjalan menuju ruang Adrian.
“Permisi, Dokter,” ucapku begitu membuka pintu ruangan Adrian setelah mengetuknya beberapa kali.
“Ini rekam medis pasien yang akan berkonsultasi hari ini, Dokter,” ucapku sambil meletakkan tumpukan kertas yang aku pegang ke atas meja Adrian.
“Oke. Kita mulai saja prakteknya, Sus,” ucap Adrian sambil berdiri dari tempat duduknya dan mengambil jas putihnya dari atas gantungan.
Saat Adrian mengibaskan jas putihnya, tanpa sengaja selembar kertas jatuh dari atas meja kerjanya. Aku menangkap kertas itu yang memang terbang ke arahku.
Aku membaca kertas itu. Keningku mengernyit seketika begitu membaca kertas yang aku tangkap tadi.
“Ini sepertinya tiket pesawat milikmu, Ian,” ucapku sambil terus membaca tiket pesawat yang masih aku pegang.
Adrian yang sedang merapikan jas putihnya melihat langsung melihat ke arahku. Kertas yang tadinya aku pegang berhasil di rampasnya dengan cepat.
“Oh ini tiket pesawat Mama. Kemarin mama minta di belikan tiket pesawat,” jawab Adrian sambil memasukkan tiket itu asal ke dalam kantong jas putihnya..
“Tante Dian mau ke Bali?”
“Iya rencananya. Gak tahu kalau mama nanti berubah pikiran lagi. Ayo buruan panggil pasien pertama. Sudah waktunya praktek. Nanti mereka marah-marah lagi.” Adrian mendorong punggungku ke arah pintu lalu membuka pintu itu untukku.
Aku menatapnya sekilas kemudian berjalan keluar dari ruangan itu menuju ke stasiku.
“Aku sangat yakin tadi membaca nama Adrian di tiket itu, bukan nama Tante Dian. Tanggal 14 Januari, bukankah tepat saat hari pernikahanku? Apa Adrian sebenarnya tidak jadi berangkat ke Bali saat itu? Tapi kenapa dia berbohong padaku?”
Aku masih berdiri mematung, terdiam dalam pikiranku sendiri sampai seorang pasien datang menemuiku.
“Dokternya sudah datang kan, Sus?” tanya seorang pasien padaku.
“Iya sudah, Bu,” jawabku sambil mengambil buku catatan yang berisi deretan nama pasien yang sudah mendaftar hari ini. Aku mulai memanggil nama pasien satu persatu untuk maasuk ke ruangan praktek Adrian.
Hampir tiga jam berlalu. Pasien yang tadinya menyesak di ruangan tunggu mulai sunyi. Aku menyusun lembaran rekam medis pasien yang sudah selesai berkonsultasi hari ini.
Drtakan bunyi hak sepatu terdengar begitu anggun mendekati stasiku. Kepalaku secara otomati melihat ke arah sumber suara.
“Dokter Wina? Kenapa cepat sekali datangnya? Bukankah jam prakteknya satu setengah jam lagi?” gumamku sambil melihat jam yang ada di pergelangan tanganku.
“Asistennya saja belum datang,” pikirku sambil bergerak lebih cepat membereskan pekerjaanku.
Dokter Wina berjalan melewatiku begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Bahkan hampir saja aku menegur sapanya karena mengira dia akan datang mendekatiku karena setelah ini adalah jam prakteknya.
Netraku mengikuti kemana arah Dokter wina berjalan. Dia terlihat berbicara beberapa saat dengan Maya kemudian masuk ke dalam ruangan Mas Arka.
“Sepertinya Mas Arka dan Dokter Wina saling mengenal, tapi kenapa Mas Arka bersikap begitu dingin dengan Dokter Wina tadi pagi ya?”
Aku menghelakan napasnku. Pikiranku terasa begitu penuh.
“Ada apa dengan hari ini? Kenapa semua orang terasa seperti penuh dengan teka-teki?” Aku kembali duduk di tempat dudukku sambil memijat lembut kepalaku yang mulai terasa pusing.
Baru saja aku mulai menyelesaikan tugasku, Mas Arka keluar dari dalam ruangannya dan berjalan ke arahku.
“Sudah selesai?” tanya Mas Arka sambil berdiri di depanku.
“Sudah, Mas. Sebentar ya.” Aku segera menyimpan rekam medis terkahir di dalam rak dan mengambil tasku dari atas meja.
“Aku pamit dulu dengan Dokter Adrian sebentar.”
“Tidak perlu. Ayo kita pulang.” Mas Arka menarik tanganku keluar dari stasi.
Kami berjalan pergi. Dokter Wina melihat ke arah kami sambil tersenyum. Aku segera masuk ke dalam mobil begitu kami tiba di parkiran.
“Mas tidak ada jadwal operasi setelah ini?” tanyaku berusaha memecahkan suasana tegang dan hening di dalam mobil.
“Mas antar kamu pulang dulu baru ke rumah sakit lagi.”
“Aku bisa kok pulang naik taksi kalau Mas sedang sibuk,” ucapku lagi.
“Selagi Mas bisa antar kamu pulang, kamu tidak perlu naik taksi.”
Aku menyipitkan mataku. Ada noda merah samar di pipi Mas Arka.
“Pipi Mas kenapa merah?” tanyaku.
“Merah? Mungkin di gigit nyamuk tadi,” jawab Mas Arka dengan sedikit panik. Tangannya dengan cepat mengusap pipinya.
Aku mendekatkan kepalaku agar bisa melihat lebih jelas. Tidak ada bentol di sana. Hanya tersisa warna kemerahan yang sudah menipis karena usapan tangan Mas Arka tadi.
“Hanya gigitan nyamuk kok sayang,” ucap Mas Arka meyakinkan aku.