CHAPTER 11 : DUEL 1

1235 Kata
Haoran masih setia terlelap mendekap Niyi padahal sang surya telah menunjukkan cahayanya. "Hubby bangun!" Niyi berusaha membangunkan suaminya. Hari ini adalah penutupan pendaftaran kandidat Kaisar yang akan disambung dengan duel. Haoran hanya bergumam tak jelas sambil mengeratkan pelukannya. Niyi mencoba berbisik di telinga sang suami. "Hubby hari ini ada duel, kalau gugur karena telat, aku tidak jadi melakukan itu bersama Hubby. " Meski malu mengatakannya, tapi Niyi merasa suamimu akan bangun karena kata-katanya dan benar saja Haoran bahkan segera bangkit. Pria itu tidak lupa mengecup pipi sang istri dan berlari ke kamar mandi, membuat Niyi terkikik geli. Namun, setelahnya wajah wanita itu merona hebat. Meski nanti suaminya kalah Niyi berjanji pada dirinya sendiri tetap akan menyerahkan dirinya seutuhnya pada Haoran. Hal ini membuat ia berdebar. Sementara di kamar lain, tidak ada aksi membangunkan karena tentu Hongli sudah bangun lebih dulu daripada sang istri. Sekarang Yueer sedang merapikan pakaian Hongli. Bukan berarti pria itu tidak bisa merapikan sendiri setelah hampir sebulan di dunia ini, tapi meminta istri menurutnya lebih menyenangkan. "Sudah rapi, Ge. Semangat," ucap Yueer tersenyum malu-malu. "Hmmm." Dibalas hanya dengan gumaman oleh Hongli. Namun, tidak masalah bagi wanita itu. Sekarang waktunya Yueer bersiap-siap. Hari ini ia kembali tak mengenakan cadar dan berusaha menutupi luka di pipinya dengan riasan. "Sudah siap?" tanya Hongli ketika melihat sang istri telah selesai merias wajahnya. "Siap, Ge." Keduanya berjalan bergandengan tangan. Yueer sangat gugup. Meski bukan ia yang bertanding, namun sang suami akan melawan kekuatan-kekuatan level lebih tinggi, tentu perasaan cemas melandanya. Padahal di masa lalu, suaminya juga sering bertanding, tapi tidak ada perasaan apa-apa ketika Hongli yang dulu melawan pangeran-pangeran lain. Namun, Hongli yang sekarang membuatnya cemas, meski ia tahu suaminya tak akan kalah semudah itu seperti sebelumnya. Pangeran ketiga, keempat, dan kelima sampai ke area penutupan bersama. Kedatangan mereka pun menjadi perhatian penghuni istana. Seperti biasa mereka akan memberi salam pada Kaisar, Permaisuri, dan para selir. Penutupan pendaftaran kandidat kaisar pun resmi diselenggarakan. Diumumkan jika kandidat kali ini adalah Chenyu, Junhao, dan Xiaowen. Setelah itu ketujuh pangeran mengambil sebuah kertas berwarna di dalam kotak. Siapa yang mengambil warna sama itulah yang akan berduel. "Ge, ini membuat gugup, hubunganku yang lebih serius dengan Niyi tergantung hasil pertandingan," ungkap Haoran. Seperti biasa Hongli tidak menjawab, namun sedikit mengernyit tak mengerti maksudnya. Lawan yang Haoran hindari adalah Chenyu yang berelemen petir dan Junhao yang berelemen api, serta Xiaowen, entah kenapa dia merasa akan kalah jika melawan Xiaowen sendiri. Kalau melawan kakaknya mungkin dirinya bisa membuat skor seri. Ternyata Haoran melawan Yelu, pangeran keenam yang berelemen tanah. Kalau dari elemen harusnya bisa bersahabat, tapi tidak dengan orang yang mempunyai itu. Lihat saja Yelu memandang remeh ke arahnya. Bagaimana dengan Hongli? Dia akan berduel melawan salah satu kandidat Kaisar paling banyak pendukung yaitu Junhao. Hongli bahkan tetap tenang dan datar ketika mengetahui itu. Sebenarnya dia merasa sedikit diuntungkan karena meski Junhao dikabarkan sangat kuat, elemen mereka bertolak belakang. Junhao sendiri awalnya menghindari bertarung dengan Hongli untuk saat ini. Ia merasa pertarungannya dengan Hongli tidak akan semudah itu. Xiaowen tidak mendapat warna yang sama dengan salah satu pangeran akhirnya diminta melawan Zhefan sepupunya yang berelemen angin. Xiaowen mengangguk dan terlihat tersenyum pada sang sepupu yang selalu tampak enggan berdekatan dengannya. Entah Xiaowen juga tidak tahu alasannya. Setelah itu, Xiaowen sempat melirik istrinya yang mengedipkan mata padanya. Dia jadi ingat akan diberi apa oleh sang istri ketika ia menang nanti, kepuasan. Mendengar saja sudah ngeri-ngeri sedap. Xiaowen tahu sang istri pikirannya selalu liar. Xiaowen dan Zhefan berduel lebih dulu. Pangeran lain akan kembali ke bangku masing-masing. "Menurut Dage siapa yang menang?" tanya Haoran. Fangyin segera menoleh pada dagenya juga. Yueer dan Niyi pun sama, seperti jawaban Hongli adalah penentu. "Sudah jelas Xiaowen." Hongli bisa melihat Zhefan ini sedikit takut dengan Xiaowen. Entah apa alasannya. Apa karena Xiaowen berlevel lebih tinggi? Hanya satu tingkat sebenarnya. Pertandingan pun dimulai. Zhefan mengeluarkan jurus-jurusnya mulai dari tiupan angin, panah dari udara yang tak kasat mata dan melukai, bahkan sampai badai angin. Namun, ketika Xiaowen mengeluarkan cahayanya semua serangan itu terasa tidak berguna. Yang lain pun cukup terkejut dengan ini. Xiaowen tampak begitu kuat di mata mereka dan dengan beberapa serangan sinar pamungkas dari lelaki itu Zhefan berhasil dilumpuhkan dengan sangat cepat. Kaisar langsung bertepuk tangan melihatnya. Ternyata Xiaowen begitu hebat. Sementara Chenyu di sana cukup waswas. Jika serangan Zhefan sama sekali tidak mempan terhadap Xiaowen berarti akan susah nantinya mereka melawan tim pria itu. Xiaowen sendiri antara percaya dan tidak percaya. Apa benar ia sekuat itu? Tapi, anggaplah demikian, ia bahkan tidak tahan untuk kembali ke tempat duduk melirik sang istri yang sedang berbinar melihatnya. "Pemenangnya adalah Pangeran ke lima Zhang Xiaowen!" ucap Kasim Zu pemandu acara kali ini. Semua bertepuk tangan. Xiaowen dengan cepat pergi ke arah bangku sang istri. Fangyin tanpa tahu malu berlari menuju suaminya dan dengan cepat mengecup bibir pria itu. Tentu membuat Xiaowen sendiri terbelalak. "Sayang …," tegur Xiaowen yang seperti bukan teguran. "Sorry, Sayang," balas Fangyin merangkul lengan suaminya. Xiaowen hanya bisa menggeleng. Istrinya hampir sama dengan Haoran yang selalu mengeluarkan kata-kata aneh. "Aku tidak sabar nanti malam," bisik Fangyin menggoda seketika wajah suaminya itu merona dan tampak sangat lucu di mata Fangyin hingga wanita itu mengecup kembali pipi suaminya. Xiaowen ingin menegur lagi, namun istrinya itu sudah merebahkan kepala di bahunya. Sudahlah tidak perlu dipikirkan tanggapan orang kepada mereka, anggap saja karena masih pengantin baru. Sebenarnya para istri cukup iri dengan Xiaowen dan Fangyin, mengapa mereka tak bisa seromantis pasangan pengantin baru tersebut. Sementara Renyu hanya tersenyum sambil menggeleng. Bagi Renyu kebahagiaan putranya itu yang terpenting dan sekarang bersama Fangyin putranya itu tampak sangat bahagia. "Aneh," gumam Hongli yang hanya bisa didengar Yueer disebelahnya. "Aneh kenapa, Ge?" tanya Yueer. "Apa kekuatan angin selemah itu?" Maksudnya tidak mungkin jika Zhefan lemah, Chenyu mempertahankannya. "Aku juga heran, dulu Zhefan sudah pernah mengalahkan pangeran keenam, ketujuh, keempat, dan Hongli Ge—" Yueer sendiri ragu menyebut nama suaminya. Takut tersinggung. Ternyata tidak, kening Hongli malah semakin mengernyit, berpikir kenapa serangan-serangan yang luar biasa tadi tidak mempan pada cahaya Xiaowen. "Menurut Dage siapa yang menang?" Pertanyaan Haoran membuyarkan lamunan Hongli. Pria itu melihat ke arah Chenyu dan Zhuting yang sedang berduel. "Sudah jelas Chenyu," jawab Hongli singkat. Mereka yang mendengar mengangguk. Hongli seperti cenayang di sini. Tidak lama kemudian, Zhuting memang kalah. Mengapa Hongli bisa tahu, bukan hanya karena level kekuatan petir dari Chenyu lebih tinggi satu tingkat. Namun, karena Zhuting sama sekali tidak punya strategi bertarung. Dia selalu menyerang dengan menggebu-gebu akhirnya kehabisan tenaga dan kalah. Berakhirnya pertandingan Chenyu dan Zhuting membuat Haoran semakin tegang. Ia memeluk sang istri untuk menurunkan ketegangan. Niyi sendiri hanya berharap agar suaminya tidak terluka. Tak penting menang atau kalah. Tidak lupa Haoran sebelum masuk ke arena pertandingan mengecup kening Niyi. "Doakan, Wifey." Niyi pun mengangguk. "Iya Hubby, hati-hati." Haoran juga tidak lupa memberi hormat pada sang kakak. Dia seperti akan pergi berperang. Hongli pun mengangguk untuk sang adik, tentu dia juga mendoakan. Fangyin menepuk bahu Niyi yang tampak pucat karena rasa cemas melanda takut suaminya terluka. "Tenang, yang aku tahu, meski jatuh bagaimana pun Hao Ge akan tetap bangkit," ungkap wanita itu. Niyi pun mengangguk dia percaya suaminya tak akan kenapa-napa. Semua mata memandang remeh pertandingan kali ini karena Yelu selalu berhasil mengalahkan Haoran dalam duel dengan mudah. Namun, Haoran sudah bertekad akan menang kali ini. Demi tujuan besar yaitu menikmati malam panas bersama istri cantiknya. Yelu, kamu harus lihat kehebatan seorang wakil ketua mafia yang paling ditakuti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN