Selamat membaca! Sepanjang jalan menyusuri koridor apartemen menuju lift, Dania terus menahan air matanya agar tak menetes. Ia tak ingin malu jika sampai tangisannya harus dilihat penghuni apartemen lain. Namun, siapa pun pasti sudah bisa menebak hanya dengan melihat dari raut wajah Dania jika wanita itu saat ini tengah bersedih. "Aku tuh harusnya emang nggak boleh berharap lebih sama Nathan. Aku itu bukan siapa-siapa buat dia. Lagian dia cuma nganggap aku b***k seksnya aja." Dania langsung masuk begitu tiba di depan pintu lift, di belakang seorang pria yang sudah masuk lebih dulu. Setibanya di lobi, Dania mempercepat langkahnya keluar dari lift. Rasanya sulit menahan lebih lama air mata yang seolah terus mendesak. Bahkan, sepanjang berada di lift, Dania harus menekan kuat dadanya yang

