Thalia’s POV
Pagi itu dingin.
Aku terbangun bukan oleh suara alarm atau cahaya matahari, melainkan oleh napas hangat yang jatuh teratur di tengkukku. Tubuhku menegang seketika. Ada berat yang asing di belakangku—bukan menindih, hanya hadir.
Aku menoleh perlahan.
Abian.
Ia tidur di sebelahku, masih dengan pakaian lengkapnya semalam. Jasnya sudah dilepas, tapi kemeja kerjanya kusut, dasinya entah ke mana. Lengannya melingkar longgar di pinggangku, tidak erat, tidak juga sepenuhnya menjaga jarak. Seolah ia memilih berada cukup dekat untuk merasa, tapi cukup jauh untuk tidak melanggar.
Dadaku berdesir aneh.
Hujan mengetuk kaca jendela dengan ritme kencang. Langit abu-abu menurunkan dinginnya ke dalam apartemen. Aku baru menyadari selimutku tertarik sampai sebahu—entah oleh siapa—dan tubuh kami tanpa sadar saling menghangatkan diri sepanjang malam.
Aku menelan ludah.
Wajah Abian tampak tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ada bayangan lelah. Ketika ia bergerak sedikit, aku melihatnya lebih jelas—matanya sembab, seperti seseorang yang kurang tidur bukan karena begadang, melainkan karena terlalu banyak berpikir.
Aku hendak bergeser, perlahan, hati-hati, ketika lengannya mengencang sepersekian detik.
“Pagi,” suaranya serak, masih setengah terjebak di antara mimpi dan sadar.
Aku membeku.
“Pagi,” balasku pelan, nyaris berbisik.
Ia membuka mata. Menatapku dari jarak yang terlalu dekat untuk sekadar teman. Ada jeda canggung yang menggantung di udara, diisi oleh suara hujan dan napas kami yang sama-sama tertahan.
“Maaf,” katanya akhirnya. “Aku ketiduran.”
Aku mengangguk. “Nggak apa-apa.”
Dan itu bohong kecil yang langsung kuterima sebagai kebenaran.
Ia melepaskan lengannya, tapi dingin segera menyelinap. Aku merapatkan selimut refleks. Abian melihat gerakanku, lalu tersenyum tipis.
“Hujannya deras,” katanya, mencoba ringan. “Kayaknya Jakarta lagi pengin kita malas.”
Aku terkekeh kecil. “Ya, untung aku libur.”
Ia bergeser sedikit, menyandar ke kepala ranjang. Rambutnya acak-acakan, wajahnya masih menyimpan sisa malam.
“Kamu nggak marah aku tidur di sini?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Kalau marah, kamu sudah bangun sendirian di sofa. Lagi, sudah terlanjur dan sudah kejadian..”
Ia tertawa pelan, lalu menghela napas. “Aku niat pulang. Sumpah. Tapi sepertinya aku agak tipsy, dan capek.”
Aku tidak bertanya capek karena apa. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan tetap samar.
Kami diam lagi. Hening yang tidak canggung, justru hangat. Aku bisa merasakan panas tubuhnya meski tidak bersentuhan.
“Thalia,” panggilnya tiba-tiba. “Kamu kedinginan?”
Aku mengangguk tanpa berpikir.
Ia menoleh, lalu—dengan gerakan ragu—menarik selimut ke arahnya. Lengannya kembali melingkar, kali ini sedikit lebih dekat. Bukan pelukan yang menuntut. Lebih seperti permintaan izin.
Aku tidak menolak.
Hujan semakin deras. Apartemen kecilku terasa lebih sempit, lebih sunyi, lebih penuh. Aku bisa merasakan dadanya bergetar pelan di punggungku. Hangat. Terlalu hangat.
“Boleh manja sebentar?” katanya tiba-tiba, nadanya setengah bercanda, setengah sungguh-sungguh.
Aku terdiam. Kata itu—manja—jatuh dengan cara yang berbahaya.
“Kamu sudah besar, masa manja..” kataku, mencoba menjaga jarak dengan humor.
“Sebentar aja,” pintanya. “Aku janji nggak macam-macam.” pelukkannya mengerat.
Janji yang tidak seharusnya kuberi ruang.
Ia menunduk, dagunya menyentuh bahuku. Napasnya menghangatkan kulitku. Tangannya bergerak pelan, bukan menjelajah, hanya mengusap seolah menjeratku pada kenyamanan. Menyiratkan bahwa ia ingin diingatkan bahwa ada seseorang di dunia ini yang mau diam bersama tanpa menuntut apa-apa.
Dan di situlah aku goyah.
Aku berbalik menghadapnya. Jarak kami menyempit tanpa kata. Wajahnya begitu dekat—mata yang sedikit sembab itu menatapku, jujur, lelah, dan… berharap.
“Kita nggak seharusnya,” bisikku.
“Aku tahu,” jawabnya sama pelannya.
Tapi hujan di luar tidak peduli pada apa yang seharusnya. Dingin di dalam kamar membuat logika kami rapuh. Dan ketika tangannya menyentuh pipiku, lembut, hampir ragu, aku tahu—
Ini akan terjadi lagi.
Bukan karena nafsu. Bukan karena kebiasaan.
Tapi karena dua orang yang sama-sama lelah, memilih hangat yang salah untuk bertahan sedikit lebih lama.
Dan pagi itu, di antara suara hujan dan napas yang saling mencari, kami mengulang sesuatu yang seharusnya cukup sekali.
Aku menutup mata.
Membiarkan diri tenggelam—meski tahu, setiap kali aku memilih hangat seperti ini, aku semakin dekat pada mati rasa yang kucintai dan kutakuti bersamaan.
Lalu ia mendekat.
Ciumannya jatuh pelan, hampir seperti hembusan napas yang tersesat. Tidak dalam, tidak terburu-buru. Bibirnya menyentuhku dengan kehati-hatian yang membuat dadaku terasa sesak. Seakan ia sedang meminta izin pada sesuatu yang lebih besar dari kami berdua.
Aku tidak membalas.
Bukan karena tak ingin—melainkan karena terlalu banyak yang kurasakan sekaligus. Hangatnya bibir itu, aroma hujan yang masih melekat di rambutnya, cara ia berhenti tepat ketika sadar aku diam. Ia tidak menuntut balasan, tidak memperdalam ciuman itu. Ia hanya tinggal di sana, sepersekian detik lebih lama dari yang aman.
Seperti ingin berkata, aku tidak memaksa, tanpa memintaku mengatakan apa pun.
Abian menarik diri perlahan. Dahi kami masih bersentuhan. Napas kami bertemu di ruang sempit yang terasa terlalu intim untuk disebut kebetulan.
“Maaf,” katanya lirih.
Aku menggeleng kecil.
Ia tersenyum tipis—senyum yang tidak menang, tidak juga kecewa. Senyum seseorang yang menerima keadaan apa adanya. Tangannya turun, kembali melingkar longgar di pinggangku, kali ini lebih sebagai penyangga daripada ajakan.
Kami berbaring berdampingan, menghadap satu sama lain. Hujan belum berhenti. Dingin masih ada, tapi tubuh kami sudah menemukan ritmenya sendiri.
Abian kembali menempelkan dahinya padaku. “Aku nggak butuh kamu membalas,” katanya pelan. “Aku cuma… ingin ada di sini sebentar.”
Aku menutup mata. Mendengarkan detak suara beratnya pelan, stabil—kontras dengan kepalaku yang berisik.
Dan di antara keheningan itu, aku menyadari sesuatu yang membuatku takut:
Ciuman tanpa balasan itu terasa lebih berbahaya
daripada ciuman yang kuinginkan. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa digunakan— melainkan dipilih untuk tetap tinggal.
Aku mengangkat tanganku, agak ragu, tapi tetap aku lakukan. Aku melingkarkan tanganku pada tubuhnya, mempersempit jarak kami. Lebih tepatnya, memangkas seluruh jarak yang ada. Tubuh kami sepenuhnya bersentuhan. Tatapannya menjadi lebih teduh dan aku menutup mataku agar tidak tenggelam lebih jauh pada keteduhan itu.
Dengan sangat pelan ia menyelipkan tangannya yang semula hanya melingkar, kini menyentuh kulit punggungku langsung. Telapak tangan yang dingin itu mengusap punggungku, naik dan turun, pelan dan hati-hati, menciptakan kehangatan tersendiri.
“Abian..” erangku pelan menyebut namanya saat usapan punggung itu menyelinap ke bagian depan. Aku mencengkram kemejanya saat ibu jarinya mengusap salah satu titik sensitifku. Mataku terpejam erat.
Tangan itu kembali turun, mengusap perutku, lalu bergerak ke arah pinggangku. Ia berhenti sejenak, menatapku dengan napas yang tetap tenang. Lagi-lagi seakan meminta persetujuanku sebelum ia lebih jauh lagi dari ini.
Pikiranku ingin berteriak berhenti sekarang, tetapi batinku berkhianat.
Tanganku bergerak dari melingkar di tubuhnya menjadi lingkaran di lehernya. Seakan memberi persetujuan dan ruang untuknya bergerak lebih leluasa. Ia tersenyum tipis, lalu kembali bergerak.
Tangannya yang dingin itu, kali ini mengusap pinggangku, pinggul, lalu turun hingga titik pusat sensitifku. Jarinya menyeliap tepat di tengah, di antara apitan kakiku. Aku meremas bahunya dan menggigit bibir bawahku reflek saat jari tengahnya bergerak naik dan turun. Aku bergetar karena darahku mengalir lebih deras.
“Kamu.. hangat.” Bisiknya tetap menggerakkan jarinya, kali ini ia menambahkan gerakan melingkar di titik itu, membuat mulutku terbuka, kepalaku mengadah ke atas, dan mencengkram bahunya lebih kuat. Sialnya, ia justru mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada leherku.
“Ab-ab.. bhian..” ucapku dengan suara yang mulai berpacu dengan nafas yang tidak beraturan, saat jari yang semula naik turun dan sesekali melingkar itu, kini berhasil masuk ke dalam.
“Sangat hangat…” bisiknya lagi lalu mengecup telingaku.
Kuakui aku kalah. Gerakannya, sentuhannya, napasnya, tatapannya, bahkan kecupannya, tidak berisik namun seakan berbisik, jangan ditahan, nikmati saja, aku tidak akan buru-buru.
Hanya dengannya, aku benar-benar menikmati hal ini tanpa tergesa, bahkan tanpa mengingat kilatan trauma pernikahanku yang gagal itu.
— to be continue —