Bali, Day 1

1714 Kata
Thalia POV Bali menyambut kami dengan matahari yang hangat dan angin asin yang menyelinap lembut ke kulit. Aku berdiri di depan pintu kedatangan bandara, menarik napas panjang. Liburan ini… terasa nyata. “Gila, gue lupa Bali secerah ini,” celetuk Dito sambil membuka kacamata hitamnya, matanya menyipit dramatis. “Jakarta mah kalah jauh. Cerah tapi anyep” Aku tertawa. Tawa yang lepas. Yang tidak aku saring. Yang tidak aku jaga. “Lebay lo,” balasku sambil mendorong koper kecilku. “Biarin sih, jarang-jarang gue ke bali,” sahutnya cepat, lalu refleks menarik koperku. “Sini, bos. Biar anak buah yang dorong.” “Eh, gausah repot-repot sekalian ni ransel gue..” protesku membiarkannya membaaa koperku. “Ye, ngelunjak..” balasnya. Di belakang kami, Gheo berjalan santai dengan ransel hitamnya, kaos putih membingkai tubuh maskulin dengan tato samar di lengannya. Matanya beberapa kali melirik ke arahku—terlalu sering untuk sekadar kebetulan. Sementara Abian… Ia lebih banyak diam. Bukan canggung. Bukan asing. Hanya mengamati. Aku bisa merasakan tatapannya sesekali, seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu benar-benar ada di hadapannya. Mungkin ia masih belum terbiasa berada di tengah kami, bagaimana pun ia baru beberapa minggu belakangan kenal dengan mereka. Perjalanan menuju hotel di Seminyak dipenuhi tawa. Dito mendominasi percakapan dengan cerita receh, mulai dari salah pesan kopi di bandara sampai hampir duduk di kursi orang lain di pesawat. “Gue yakin pramugarinya mikir gue stres,” katanya. “Lo emang,” Gheo menimpali sembari menyetir mobil yang ia sewa sebagai akomodasi kami selama di Bali. “Ya justru karena stress, makanya gue liburan ke Bali. Ya ga?” Kami tertawa. Dito duduk tepat di sebelahku di mobil. “Lo kenapa nempel amat?” tanyaku. “Proteksi,” jawabnya santai. “Gue ngerasa kalo gue ninggalin lo dikit aja, ini mobil bisa jadi arena gladiator.” Aku mengernyit. “Maksud lo?” Ia melirik sekilas ke depan, ke arah Gheo dan Abian, lalu berbisik, “Lo gak ngerasa ada aura kompetisi di udara?” Aku memukul lengannya pelan. “Lo kebanyakan nonton drama.” “Gue bisa denger Dit,” sahut Abian yang membuat Dito kaget. “Gue udah bisik-bisik padahal.” belanya. “Ya jarak kita aja deket, lo berharap apa bisik-bisik ga ke dengeran.” balas Abian. Aku hanya bisa menggelengkan kepada mendengar kekonyolan Dito. “Beneran stress lo to..” sahut Gheo. Setelah check in, kami langsung menuju pantai yang ada di hotel. Pasir hangat, laut biru, dan suara ombak yang konsisten—seperti pengingat bahwa hidup tidak selalu harus gaduh untuk terasa penuh. Aku melepas sandal dan berlari kecil ke tepi air, gaun tipisku terangkat sedikit oleh angin. Tanpa ragu aku menengok ke belakang. “Dito! Cepetan!” “Sabar! Gue belum buka sepatu!” teriaknya sambil membuka sepatu. Gheo tertawa kecil, lalu menyusul langkahku. Ia berdiri di sampingku, bahunya hampir menyentuh bahuku. “Gimana? Hotel pilihan gue the best, kan!” Tanyanya. “Best banget! Mending jadi agent hotel deh lo ghe..” sahut Dito yang sudah membasahi setengah tubuhnya. “Dih gue ga nanya lo!” sahut Gheo. “Yang ditanya siapa, yang jawab siapa.” “Kebiasaan jadi jubir gue dia, kebawa-bawa deh..” jawabku dengan tawa. Momen ini sederhana. Tapi cukup untuk membuat dadaku menghangat. Abian berdiri di antara kami, menyodorkan botol minum ke tanganku. “Nih minum. Nanti pingsan, repot.” Aku tersenyum, tapi menerimanya. “Terima kasih” “Buat gue, mana?” tanya Gheo mengadahkan tangannya ke Abian. Abian menoleh, menatap Gheo cukup lama. Ada ke khawatiran sedikit di benakku. Khawatir memang akan terjadinya perang dunia lain di antara mereka. “Ni buat lo, yang dikasih siapa, yang minta siapa,” jawab Arsen yang memberikan kemejanya pada Gheo lalu berlari menyusul Dito yang sudah berenang hampir ke tengah laut. “Ayo Dit balap renang!” teriaknya. Aku tertawa melihat ke isengan Abian yang berhasil membuat Gheo kesal. Sangat kesal sepertinya. Gheo menyimpan baju Abian di kursi santai tepi pantai dan ia membuka bajunya juga. “Awas aja lo berdua!” pekik Gheo lalu menarik tanganku berlari bergabung bersama mereka. Kami menikmati sore itu dengan bermain di pantai, saling mengusili satu sama lain, dan bersenang-senang. Kami seakan lupa tentang apa yang ada di dalam benak dan pikiran masing-masing, yang kami tau adalah sore itu kami sangat menikmati momen liburan ini. Tatapan mataku menangkap tatapan abian tanpa sengaja. Dan entah kenapa, di antara suara ombak dan tawa Dito, jantungku berdetak sedikit lebih cepat. —— Malamnya, kami makan di beach club yang mulai ramai menemani Gheo yang sedang brief dan check sound untuk penampilannya besok. Lampu temaram, musik akustik, angin laut yang membawa aroma asin bercampur wangi kayu. Dito duduk di antara aku dan Abian. Lagi-lagi dengan sengaja Dito memilih posisi itu. “Lo ngapain sih?” bisikku. “Formasi aman,” jawabnya santai sambil menyeruput minumannya. Gheo berdiri tepat di seberangku. Matanya sering melirik ke arahku seakan memastikan aku masih duduk di sana, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya. Tidak agresif. Tapi intens. “Besok aku mau ke uluwatu,” ucap Abian. “Mungkin akan sewa motor biar lebih efesien waktu, di sana pemandangannya bagus, kamu udah pernah ke sana?” Aku menggelengkan kepala, jujur terakhir kali aku ke Bali adalah saat honeymoon singkat yang masih menyenangkan itu, setidaknya mantan suamiku tidak membuat Bali menjadi kenangan buruk untukku, “Belum, aku belum pernah ke sana” “Nah, pas berarti, besok aku ajak keliling ke uluwatu,” tambahnya cepat. “Eh,” Dito langsung menyela, “gue juga belum pernah ke sana.” Aku menahan tawa. Abian mengaduk minumannya pelan. “Yasudah besok ke uluwatu pakai mobil aja, gue juga ikut.” sela Gheo yang berjalan mendekat. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi depanku. “Tapi bukannya besok lo main, Ghe?” tanyaku pada Gheo yang sedang memakan pizza yang ada di atas meja dan bersandar. “Ya, kan kalian juga harus ada di sini pas gue manggung. Parah banget kalau gue di tinggal bersenang-senang” sahut Gheo santai. Dito menoleh ke mereka berdua, lalu menatapku. “Nah udah, gitu aja, lagi kan liburan ini bareng-bareng, masa wisatanya misah-misah.” Abian menghembuskan nafasnya pelan dan aku tersenyum. Kali ini benar-benar tidak bisa ditahan. Malam semakin larut. Angin semakin dingin. Tapi di antara empat orang dengan dinamika yang rumit ini, ada satu hal yang jelas— Aku hidup. Aku tertawa. Dan untuk sekarang, itu cukup. —— Author POV Malam turun perlahan di Bali, tanpa tergesa. Lampu-lampu hotel menyala tidak begitu terang tapi cukup untuk menjadi cahaya penenang, memantul di permukaan laut yang gelap. Suara ombak menjadi latar yang konsisten, seperti napas panjang yang menenangkan. Thalia melepas sandalnya dan membiarkan kakinya menyentuh pasir yang masih menyimpan sisa hangat siang hari. Ia tidak tahu jam berapa saat akhirnya menyerah pada kasur yang terasa terlalu luas untuk sekadar tidur. Pikirannya tetap berisik. Ada malam-malam yang memang tidak bisa dipaksa untuk tenang—dan ini salah satunya. Bali selalu punya cara mengembalikan ingatan. Ada tawa yang dulu pernah singgah di kota ini. Ada tangan yang pernah menggenggam tangannya sambil menunjuk bintang, seolah mereka bisa memilih masa depan sesuka hati. Ada janji-janji yang terasa begitu dekat dengan langit—terlalu dekat hingga mudah runtuh. Hatinya menghangat. Dan sesaat kemudian, perasaan bodoh itu datang. Bodoh, karena masih mengingat yang manis dari segala hal yang hampir membunuhnya. Ia menghela nafas dan mendongak, mencari satu bintang yang paling terang. Ada sesuatu yang selalu tertahan di sana, tidak pernah benar-benar keluar dari mulutnya. Tidak pada siapa pun. Tidak pada malam. Semoga kamu selalu jadi bintang yang paling bersinar terang, yang membawa tawa dan bahagia. Doa itu selalu sama. Sunyi. Tak bersuara. Di sampingnya, Gheo berjalan santai, tangan dimasukkan ke saku celana pendeknya, kemeja tipisnya berkibar pelan tertiup angin malam. “Lo belum tidur?,” kata Gheo akhirnya, memecah sunyi. Thalia menoleh dan tersenyum kecil. “Gabisa tidur,” “Kenapa?” tanya Gheo lalu duduk di sebelahku. Thalia mengangkat bahu. “Gatau, adaptasi mungkin, gabiasa tidur di tempat baru.” Mereka duduk berdampingan, jarak cukup dekat, tapi tidak saling menyentuh. Gheo menghormati ruang itu—seperti yang selalu ia lakukan sejak lama. Ia tahu, menyentuh Thalia bukan soal kesempatan, tapi soal izin yang belum pernah benar-benar diberikan. “Makasih ya, lo udah mau ikut kali ini. Gue seneng lo ikut,” ujar Gheo pelan. “Biasanya ajakan kayak gini selalu lo tolak.” Thalia tertawa. “Gue juga heran kenapa kali ini gue bilang iya.” Gheo tersenyum. “Apapun alasannya, gue harap lo bisa seneng-seneng di sini.” Thalia menarik kakinya sesaat ombak menyentuh ujung kakinya, dingin. “Semoga,” jawabnya jujur. “Sejauh ini gue happy banget kok.” Gheo tidak mengejar jawaban lebih jauh. Ia hanya mengangguk, lalu merangkul Thalia mendekat ke arahnya, ia menatap ke arah langit. “Bintang dan bulan di sini lebih keliatan ya.” Thalia mendongak. “Iya. Jakarta terlalu terang buat liat yang kayak gini.” Di kejauhan, dari balkon hotel lantai dua, Abian berdiri sendiri. Ia memegang botol beer yang sudah hampir hangat, tapi tidak benar-benar diminum. Tatapannya tertuju ke garis pantai—ke dua sosok yang berjalan pelan, tertawa kecil, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Ia mengenali siluet itu dengan mudah. Thalia dan Gheo. Abian bisa saja turun. Bisa saja berjalan mendekat, menyapa, ikut tertawa. Tapi langkahnya terhenti oleh kesadaran yang mengganjal: kehadirannya akan mengubah sesuatu. Akan memberi nama pada kedekatan yang seharusnya masih samar. Akan membuat hubungan yang belum sempat ia pahami menjadi terlihat terlalu jelas—terlalu berlebihan. Ia meneguk birnya sekali, lebih cepat dari yang ia sadari. Bukan karena alkohol. Tapi karena ada rasa panas yang tidak nyaman di dadanya. Cemburu, pikirnya. Atau takut kehilangan sesuatu yang belum pernah benar-benar ia miliki. Di pantai, Thalia bersandar pada bahu lebar Gheo. Ia menatap laut, membiarkan angin menyibak rambutnya. Gheo ikut menyandarkan kepalanya di atas kepala Thalia, ia mengeratkan rangkulan itu. Thalia menoleh. Senyumnya hangat. “Makasih, Gheo. Next-nya kalau lo ajak gue dan Dito ke acara manggung lo, gue request Jepang boleh juga...” Gheo tertawa pelan, “Lo aja yang di ajak, Dito ngga.” jawabnya. Dari kejauhan, Abian memalingkan wajahnya. Bukan karena marah. Tapi karena ada bagian dalam dirinya yang terasa terusik—dan ia belum siap mengakuinya. Malam pertama di Bali berlalu dengan tenang. Terlalu tenang untuk hati yang sedang belajar jujur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN