"Cepat atau lambat. Kejadian hari ini membuktikan bahwa bergerak adalah pilihan yang tepat, lihat saja, mereka yang memilih untuk kembali dan berdiam diri justru menjemput kematian lebih cepat," ucap Mahesa.
Dean yang mendengar ucapan kawannya itu sedikit naik pitam. Dia lelah jika harus kembali bergerak dan menyerahkan diri di dalam rimbunnya hutan.
"Maksud lo kita semua kudu balik lagi ke hutan sana? belum cukup tangan Lo bengkak gitu karena digigit monyet?" Sentak Dean.
"Yang bilang balik lagi ke sana siapa?" tanya Mahesa dengan nada tinggi.
"Itu Lo ngomong barusan, Lo emangnya siapa? Lo siapa sampai bisa nentuin kalau tinggal bakalan mati, Tuhan Lo?"
"Jaga omongan Lo, sat!"
"Jangan ngadi ngadi makanya. Kalau emang Lo mau pergi, pergi aja sana. Tinggal di hutan sana sendirian, cari suara suara yang bikin Lo penasaran setengah mampus itu!"
Mahesa yang hendak terus melawan ditenangkan oleh Margareta. Dan Dean ditenangkan oleh Valen. Sungguh tidak lucu, keadaan sedang genting begini mereka malah saling menyalahkan dan nyaris berkelahi.
"Sorry, maksud gue gak ngajak kalian masuk hutan lagi. Gue juga merasakan susahnya berada di sana. Tapi tidak berdiam diri di sini juga. Nih, adek gue," tunjuk Mahesa tepat di hadapan wajah Valen. "Dia punya sakit lambung, tidak boleh telat makan, bertahan di sini tanpa makanan perlahan lahan akan bunuh dia. Lo gak sayang sama dia, dia yang paling muda dan berjasa di antara kita."
Dean mengangkat wajahnya, rasa kesalnya benar benar menguap ketika melihat wajah polos Valen. Benar, dia yang berusaha menyelamatkan banyak orang sampai lupa dengan dirinya sendiri.
"Lalu, apa rencana Lo?" tanya Dean pada akhirnya.
Sekali lagi dia meraba kalung segara biru yang dia kantongi, berharap dia bisa melihat kenyataan seperti sedia kala, berharap semua ilusi yang menipu segera bisa diakhiri.
"Kita tetap bergerak, tapi di pantai," ucap Mahesa.
"God idea," pekik Margareta. "Kita bisa tetap menunggu tim penyelamat sekaligus mencari barangkali ada rumah penduduk di belahan lain pulau ini."
"Tepat!" Mahesa mengiyakan.
Dean diam sejenak, dia berpikir. Kekurangannya dan juga apa kelebihannya.
"Gue ikut kalau Lo ikut, Kak," cetus Valen.
Dean akhirnya mengangguk, lelaki itu mengingat kembali bagaimana Valen meringkuk kesakitan karena sakit lambung.
Bergerak memang jadi pilihan tepat, mereka akan menyusuri garis pantai berharap bisa bertemu dengan tepian akhir. Berharap ada kejelasan nasib mereka.
"Gue tetep di sini," celetuk Hanum.
"Num!" tegur Margareta.
Angin yang kencang menerbangkan rambut Hanum, perempuan itu terlalu lelah untuk mengadu nasib.
"Di sana ada banyak orang yang butuh pertolongan, lagipula gue udah gak percaya apa apa lagi. Gue mau menghabiskan waktu untuk berbuat kebaikan dengan menjaga mereka," tunjuk Hanum pada sosok sosok yang terbaring lemah di atas hamparan pasir.
"Lo bisa ikut mereka, gue gak apa apa di sini. Diamnya gue di sini jangan sampai jadi penghalang. Pergi saja, kalian. Kalau ada makanan lebih, jangan lupain gue di sini."
Dito mendekat, dia melihat perempuan di hadapannya lekat lekat. Mana tega membiarkan perempuan selemah Hanum tinggal di sini sendirian.
"Gue bareng dia." Dito mantap dengan keputusannya.
"Lo yakin?" tanya Mahesa. Sejujurnya Mahesa tidak tega, tapi tidak bisa dirinya berdiam diri terus menerus di pantai tanpa pangan.
"Lo tega biarin cewek di sini bareng mayat mayat dan mereka yang sekarat?" tanya Dito.
"Iya sih, tapi kita gak bisa diam diri begitu saja."
"Gue bilang pergi ya pergi aja. Jangan jadikan diamnya gue sebagai penghalang kalian. Lo juga." Hanum mengatakan itu, kepada Mahesa dan Valen.
Setelah berdiskusi sekian lama, keputusan diambil dan mereka tetap akan pergi tanpa Hanum dan Dito.
Menyusuri garis pantai, mengadukan nasib mereka dibarengi kencangnya angin, debur ombak, dan terik matahari yang membakar kulit.
Hanum melepaskan kepergian empat teman barunya dengan berat hati. Dia menatap punggung punggung yang selalu optimis itu melawan angin menembus batas kemampuan mereka.
Dito menatap buah buahan sisa yang ditinggalkan oleh Mahesa. Ini cukup untuk hari ini saja, lelaki itu pasrah, entah bagaimana hidupnya nanti.
Mungkin akan bernasib sama dengan jasad jasad terbujur kaku yang mereka kumpulkan di bawah pohon kelapa.
Dalam perjalanan, Valen sesekali melihat ke belakang, dia melihat Hanum dan Dito melambaikan tangannya.
Perih rasanya, sesungguhnya dia lelah dan ingin merebahkan diri di pasir yang empuk. Sayangnya Mahesa benar, diam terlalu lama di sana tidak menjamin mereka bisa selamat dan tahan lebih lama lagi.
"Sudah jangan dilihat terus," ucap Dean. "Ini keputusan Lo, jangan disesali."
Valen mengangguk, asam di lambungnya kembali naik, membuat dorongan rasa sakit hingga dadaa dan leher.
Buru buru lelaki itu meneguk sisa air tawar yang mereka miliki.
"Airnya gue habisin, maaf," ucapnya penuh penyesalan.
"Gak apa apa, kita cari air tawar sama sama, Len."
Mahesa berusaha bijak, dia yang paling dituakan di sini. Lelaki itu dituntut harus bisa mengambil keputusan tepat agar tidak merugikan siapa pun di sini.
Langkah langkah empat orang dewasa itu menyisakan jejak di atas pasir, jejak yang kemudian hilang tersapu ombak.
Harapan yang sebenarnya sebuah kekosongan, mencari ujung pantai yang mereka sendiri pun tidak tahu apakah ada atau tidak.
Margareta berjongkok memungut binatang laut. Seekor kelomang berjalan mengendap, kala didekati tubuhnya bersembunyi di balik cangkang.
Banyak makhluk hidup di tempat ini, salah satu keyakinan Mahesa bahwa dirinya pun bisa bertahan hidup sebagaimana makhluk itu bertahan hidup.
Mahesa berhenti diikuti oleh Valen.
"Bro istirahat dulu!" teriak Mahesa, langkah Dean melambat, alih alih berhenti pria itu balik arah dan mencelupkan kakinya ke dalam air. Lalu dia membuka sepatu yang setia membungkus kakinya, membiarkan kakinya bernapas membiarkan sapuan ombak memijat telapaknya yang kaku karena terlalu lama berjalan menyusuri pantai.
"Setelah mandi air laut kenapa kulit jadi lengket?" tanya Margareta. Ingin rasanya dia berenang, terik matahari membuat dia kegerahan.
"Kan air garam," jawab Dean santai. Dia melihat ke belakang, Valen merebahkan diri di tempat yang teduh sementara Mahesa duduk di sebelahnya.
"Padahal pengen mandi," celetuk Margareta.
"Air laut bisa terkontaminasi dengan kotoran hewan, tumpahan limbah, limpahan air hujan, kotoran, dan kuman.
Apabila itu yang terjadi, peluang lo untuk merasa lengket pada kulit sehabis berenang akan semakin terasa.
Kontaminasi itu juga bisa bikin lo infeksi pada sistem gastrointestinal, masalah kulit, dan sistem pernapasan.
Air laut juga dapat menghilangkan minyak alami kulit lo. Itu sebabnya, jika berniat berenang di laut, lo perlu menambah penggunaan tabir surya."
"Gue udah berhari hari gak pake sunscreen, udah gosong kali, ya sekarang."
"Gue udah gak mikir ke sana, gue pengen pulang, pengen selamat." Tangan lelaki itu seakan ada yang menuntun untuk menyentuh Segara Biru di kantong celananya.
Seketika pemandangan berubah. Pulau Marai yang tadinya cerah tak berawan kini berkabut, angin kencang, dan rasanya semua terlihat begitu mengerikan.