15

1003 Kata
Bukit karang yang menjulang di hadapan keempat orang itu terbentang. Dean, sejauh perjalanan yang dia tempuh saat ini jika dituangkan ke dalam tulisan, mungkin akan menghasilkan puluhan artikel yang dipublish di blog pribadinya. Tidak terhitung berapa pundi pundi rupiah yang akan dia hasilkan dari perjalanan demi perjalanan. Nemun, kini semua itu tidak ada artinya. Di mata Dean, mencari cara agar bisa pulang lebih penting dari apa pun. Lebih berharga dari sekadar tulisan tulisan yang selalu dia suguhkan untuk khalayak. Mahesa, benar yang dia perkirakan jika pertemuannya dengan kakek zumi adalah pertemuan terakhir. Lelaki tua yang nyaris selalu telanjang d**a itu tidak akan pernah lagi Mahesa lihat, bahkan mungkin Ibunya di Surabaya tidak akan pernah melihatnya lagi. Lelaki itu kini sudah ada di titik pasrah. Terlebih setelah melihat bongkahan bukit di hadapannya. Agak sedikit mustahil jika dipanjat. Valen, lelaki ini paling ringan, bukan ringan berat badannya, melainkan ringan pikirannya. Simpel, tidak banyak pikiran dan pejuang sejati. Apa yang ada di hadapannya, hadapi saja jangan takut. Valen memiliki keyakinan bisa pulang dan bisa melanjutkan beasiswa yang sedang dia urus. Jangan pernah tanya bagaimana perasaan Margareta, yang pasti di antara mereka berempat, hanya dia seorang yang merasa senang terdampar dan berjuang mati-matian seperti sekarang ini. Dia merasa Tuhan begitu adil karena di tengah pelariannya perempuan itu diberikan tempat persembunyian yang bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu ada di mana. “Buruan panjat!” Ajakan Valen yang terdengar begitu antusias. Dean yang biasa menjelajah banyak tempat tentu saja memiliki banyak pengalaman, memanjat, menyelam bahkan tanpa alat pengaman seperti yang akan mereka lakukan saat ini. Jangan pernah membayangkan rock climbing, tidak ada teknik teknik yang mereka lalui seperti olahraga tersebut. Ini naik tanpa gaya, tanpa teknik, hanya memilih permukaan bukit karang yang tidak licin karena lumut. Mencari permukaan yang lebih landai dan berusaha mencari tahu apa yang ada di balik bukit ini. Debur ombak mengiringi perjalanan ini. Lautan yang berbeda di pandangan empat orang yang sedang berjuang itu. Mereka yang memiliki Segara Biru melihat semua ini adalah hal yang paling mengerikan. Seperti di laut selatan dengan ombak yang terus menyambar minta tumbal kematian. Sedangkan dari penglihatan dua lainnya seperti di tempat wisata yang sering dikunjungi turis-turis. Seandainya saja bisa membagi segara biru hingga semuanya bisa melihat pemandangan yang mungkin adalah pemandangan yang sesungguhnya. Tidak ada yang sia-sia dalam hidup, pun dengan memanjat. Valen yang lebih dulu sampai di puncak tidak sanggup lagi berkata-kata. Dari matanya yang besar dan indah terlihat butiran bening yang terus meleleh melewati pipinya. “Adikmu,” senggol Mahesa. Dean menoleh dan melihat tangisan itu. Margareta tiba-tiba saja diserang rasa takut. Takut kalau ternyata apa yang Valen lihat adalah sesuatu yang mengecewakan. Bergegas, semua terus memanjat. Hingga menemukan alasan dibalik tangisan pemuda yang paling ceria di antara keempat orang itu. Pemukiman. Ya, mereka tidak salah lihat. Ada lapangan setelah bibir pantai, kemudian rumah demi rumah terlihat meski jarang tetapi cukup banyak. “Buruan, Len. Nanti kamu jatuh,” ajak Dean. Bukit itu terjal, tajam dan licin. Penuh kehati-hatian ekstra untuk menuruni hingga berada di dasar. Setelah melihat pemukiman, Valen seperti menerima suntikan semangat. Lelaki itu terus berusaha agar segera mencari pertolongan. Tidak mudah untuk kembali menjejak pasir. Tidak mudah bagi mereka untuk menuruni bukit tanpa insiden. Nyatanya, luka menganga di telapak kaki Mahesa adalah bukti bahwa bukit karang yang mereka panjat itu benar-benar sulit di panjat. Beruntung bisa sampai di bawah dan lanjut perjalanan meuju pemukiman penduduk. Setelah ini, mereka akan menemukan alat untuk berkomunikasi sehingga kemungkinan untuk pulang semakin terbuka lebar. “Lanjut saja, nanti minta obat ke penduduk sini.” Mahesa berjinjit, perih rasanya, luka sayatan sepanjang kita-kira sepuluh sentimeter itu melintang di telapak kakinya. Memang sejak tersesat di hutan, tidak ada lagi sepatu yang dia pakai karena rusak parah. “Setidaknya tutup dulu, gue khawatir ada kuman yang masuk saat jalan nanti,” ucap Margareta. Perempuan itu mencari bagaimana caranya. Tidak ada apa pun yang mereka bawa selain pakaian yang melekat di badan masing-masing. “Seriusan, di tutup pakai apa, udahlah jalan aja. Gue jinjit biar lukanya gak nyentuh pasir.” Mahesa berusaha menolak dan kemudian dia menerima uluran tangan Margareta untuk berdiri. Dean merogoh kantongnya. Mahesa yang melihat pergerakan itu menggelengkan kepala. Dia tidak mau apa yang sekarang dilihat berubah. Jangan pernah sentuh lagi liontin itu. Setidaknya sekarang saat mereka melihat dengan kepala sendiri deretan rumah kayu yang ada di dekat pantai. Sebut saja mereka adalah seorang pemenang. Setelah berhari-hari mempertaruhkan nyawa, setelah berhari-hari terjebak ilusi. Semakin dekat dengan pemukiman itu semakin menyenangkan bagi mereka. Debaran jantungnya sebagai ueforia keempat anak manusia ini. Rumah kayu dengan atap daun kering. Rumah yang sering mereka lihat dalam dongeng. Rumah yang sering Mahesa lihat dekat indekosnya di kalimantan. “Permisi,” ucap Margareta. “Permisi,” ulangnya. Di sekeliling lingkungan rumah, terdapat pagar hidup yang terbuat dari tumbuhan hijau. Rumah sebelah tertutup jendelanya, jadi kemungkinan hanya rumah yang mereka kunjungi saja yang berpenghuni itupun setelah beberapa lama diketuk sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau rumah itu berpenghuni. “Mungkin sebaiknya kita cari rumah di dalam pemukiman, mungkin di sana banyak penduduk.” Dean memberi usul. “Kasihan Mahesa, kakinya akan infeksi jika dibawa jalan jauh-jauh,” jawab Margareta. “Jangan jadikan gue sebagai penghalang, luka begini sebentar lagi juga sembuh. Tenanglah, Dean benar sebaiknya kita mencari rumah lain.” Lalu, mereka menembus melewati pagar pembatas, lebih tepatnya melompati mengingat tinggi tumbuhan itu hanyalah sekitar lima puluh sentimeter. Saat itulah mereka sadar, mereka benar-benar akan selamat. Tidak hanya satu dua rumah yang ada di pemukiman tersebut, ada puluhan rumah di sana. Perjalanan yang menakutkan akhirnya segera berakhir. Hidup mereka yang berharga bisa dipertahankan dengan kegigihan dan kemauan untuk terus bergerak. Rasa haru merayapi perasaan keempat orang itu, terlebih ketika satu dua orang yang muncul dari balik rumah-rumah tersebut. Memberikan sambutan tanpa ucap, tanpa senyum dan tanpa ekspresi. Rasa senang Dean dan Mahesa berakhir. Di mata mereka semua terlihat berbeda. Pemukiman ini memang berpenghuni, namun bukan penghuni biasa yang ada di dalamnya. Segara biru tetap memberikan pandangan yang berbeda, entah ini nyata atau hanya sebuah ilusi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN