Bagian 0.2

1071 Kata
"Nay, jangan lupa ya besok pulang sekolah kita kerja kelompok," ucap Akbar, teman satu kelompok Naya sekaligus ketua kelompok. Naya mendongakan kepalanya menatap Akbar yang berdiri di depan mejanya. "Hm oke, di rumah lo, kan?" tanya Naya memastikan sambil memasukan buku-bukunya ke dalam tas karena jam pembelajaran sudah selesai sejak lima menit yang lalu dan kelas sudah sepi karena jam pulang adalah surga bagi kids jaman now. "Iya, nggak papa kan?" tanya Akbar, menatap Naya lekat dengan manik mata hitam pekat miliknya. "Iya nggak papa kok, ya udah gue duluan ya, Bar." Naya bangkit dari duduknya setelah selesai memasukan buku-bukunya ke dalam tas. Akbar mengacungkan jempolnya. "Oke," sahur Akbar sambil tersenyum manis pada Naya yang juga tersenyum ke arah cowok itu. Akbar mungkin tidak setampan Bintang tapi setidaknya dia lebih ramah dan mempesona di mata Naya. Sebenarnya saat pertama masuk SMA, Naya suka pada Akbar tapi karena tiba-tiba saja Bintang mengklaim Naya menjadi miliknya, pupuslah harapan Naya untuk bisa menjalin hubungan dengan Akbar. Naya melangkah ke luar kelas dengan senyum manis di bibir tipis gadis itu. "Udah selesai?" tanya seseorang dingin saat Naya baru keluar kelas. Naya menghela napasnya lelah, ternyata Bintang sudah menunggu Naya di luar kelas, menyandarkan tubuhnya di tembok dengan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celana. Cool. "Apa?" tanya Naya balik karena tak mengerti dengan apa yang diucapkan Bintang. "Pacarannya," tandas Bintang lalu berjalan mendahului Naya membuat kening Naya mengerut lalu sedetik kemudian gadis itu mengangkat bahunya pertanda tak perduli. Hal seperti ini memang sudah biasa terjadi saat Naya berbicara dengan cowok lain. Childish, itulah kata yang sangat tepat untuk Bintang saat ini. Marah untuk hal-hal kecil adalah kebiasaan Bintang. Bahkan saat awal-awal mereka pacaran, cowok itu pernah mengamuk hanya karena Naya memberikan tisu pada Kakak kelas yang selesai bermain basket. Sebenarnya itu hanyalah salah paham, namun Bintang tetaplah Bintang, yang ada di pikiran cowok itu, Naya suka pada Kakak kelas itu dan sedang mencoba mencari perhatian Kakak kelas itu. Naya mendesah pelan. Kenapa harus Naya, kenapa Bintang harus memilih Naya? *** Bintang membukakan pintu mobilnya untuk Naya lalu mendorong pelan tubuh Naya untuk masuk. "Itu terakhir atau kamu akan liat apa yang akan terjadi sama dia," ancam Bintang tegas tanpa menatap Naya karena cowok itu sedang fokus menyetir. "Apa? Siapa?" tanya Naya berpura-pura tak mengerti ucapan Bintang. Bintang menoleh dan menatap Naya sesaat sebelum kembali menatap lurus ke depan. "Jangan dekat apalagi bicara sama Akbar," perintah Bintang sambil melirik Naya sekilas. "Aku nggak dekat-dekat sama dia, tadi dia cuman ngingetin aku kalau besok kami ada kerja kelompok," terang Naya sambil menatap Bintang dari samping. Naya dapat melihat dengan jelas perubahan ekspresi wajah Bintang. "Enggak!" putus Bintang. Naya menggeram kesal, kalau saja Naya memiliki kuku panjang, maka dapat dipastikan wajah tampan Bintang itu kini sudah tak berbentuk lagi. "Enggak? Apa yang enggak?" tanya Naya. Bintang menoleh, menatap Naya dengan tatapan tajam yang Naya benci karena tatapan itu selalu saja membuat jatung Naya berdetak lebih cepat. Bukan karena cinta tapi karena takut, jika Bintang memberikan tatapan seperti itu makan Naya dalam masalah. "Enggak ada kerja kelompok!" cetus Bintang tak terbantahkan. "Hah? Kamu gila? Terus nilai aku gimana?" tanya Naya kesal dan tanpa sadar mengucapkan kata-k********r. "Naya Language!!!" peringat Bintang membuat Naya memutar matanya malas. Naya menarik napasnya panjang seakan dengan menarik napas seperti itu dapat menambah kesabarannya untuk menghadapi Bintang. "Ya terus nilai aku gimana?" tanya Naya lagi dengan lebih lembut. "Terserah," jawab Bintang membuat mata Naya melotot. Sudah di lembutin tetap saja Bintang pada pendiriannya yang tidak memperbolehkan Naya untuk ikut kerja kelompok. "Kalo aku nggak naik kelas gimana?" tanya Naya jengah karena sikap egois Bintang. Selalu saja tidak pernah mau menerima pendapat orang lain. Selalu saja mau menang sendiri, tidak memperdulikan dampaknya bagi orang lain. "Aku nggak suka dibantah!" ujar Bintang tegas sambil menatap tajam Naya seakan ingin menguliti Naya dengan tatapan tajamnya. "Terserah deh, semua itu emang nggak penting dan nggak akan pernah penting juga kan buat kamu!" sergah Naya tanpa menatap Bintang. Naya benar-benar muak dengan wajah cowok itu. Naya benci semua hal yang terkait dengan Bintang. Naya menyesali pertemuannya dengan Bintang. Cowok possessive yang selalu memaksakan kehendaknya. Bintang menghentikan mobilnya tepat di depan rumah bercat putih gading, rumah Naya. Naya hendak keluar membuka pintu mobil Bintang, namun tidak bisa. Naya menoleh dan menatap Bintang dengan malas. "Aku nggak mau tau besok kamu gak boleh kerja kelompok!" ucap Bintang sambil menatap Naya dengan tatapan tajamnya, ingin rasanya Naya mencongkel kedua mata cowok itu. Jangan ini lah, jangan itu lah, apakah Bintang tidak bosan melarang Naya melakukan ini-itu. "Egois," cerca Naya. "Ya, aku egois karena aku cinta kamu!" ucap Bintang masih dengan tatapan tajamnya. Cinta. Kata yang selalu diagungkan oleh Bintang. Kata yang selalu dibanggakan oleh Bintang, tapi semua itu hanya omong kosong karena faktanya mencintai itu adalah bagaimana cara membuat orang yang dicinta bahagia saat bersama kita, bukan menderita seperti yang Naya rasakan. "Itu obsesi bukan cinta!" ucap Naya tak mau kalah dengan mata yang memerah menahan tangis. "Obsesi atau cinta itu nggak penting, yang penting--- You are mine, only mine!!!" ucap Bintang penuh penekanan. Tangan cowok itu bergerak menghapus air mata Naya yang mulai mengalir. Begitulah perdebatan mereka, selalu saja berakhir dengan Naya yang mengalah. Dan kata-kata cewek selalu benar itu tidak bermakna pada hubungan Bintang dan Naya, karena Nayalah yang selalu salah. Selalu. Bintang mencium kening Naya singkat sebagai tanda perpisahan mereka. Hal yang selalu Bintang lakukan saat mereka berpisah. "Jangan lupa makan!" ucap Bintang yang tak diperdulikan oleh Naya. Naya langsung keluar dari mobil Bintang tanpa mengucapkan sepatah katapun. --- Naya menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kasur kamarnya. Empuk sekali, bagi Naya kasur adalah surganya kamar. Mata Naya menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi Bintang. Ya, Bintang--- foto-foto Bintang yang sudah didesain sedemikian rupa hingga terlihat sangat indah di langit-langit kamar Naya apalagi saat dalam kegelapan. Foto-foto kecil itu akan menyala dan nyala lampunya membentuk suatu kalimat yaitu I LOVE YOU. Naya sendiri tidak mengerti bagaimana Bintang bisa melakukan semua itu. Sama seperti di kamar Naya di kamar Bintang pun seperti itu. Foto-foto kecil Naya yang sudah didesain semikian rupalah yang menghiasi langit-langit kamar cowok itu. Mulai dari foto Naya yang terlihat manis sampai foto yang bisa membuat anak-anak nangis. Perlahan namun pasti mata Naya mulai menutup karena rasa kantuk yang mulai menyerang gadis itu. "Semua orang memiliki alasan saat melakukan sesuatu dan begitu juga denganku." "Sebuah alasan ada untuk dipahami bukan? tapi kamu bahkan tidak mengatakan alasan itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN