Andra menggebrak meja begitu sambungan telepon itu dimatikan secara sepihak. Ucapan Ananta itu berhasil memancing emosinya. Sebenarnya Andra sudah kesal sejak tadi. Sejak dirinya menerima informasi bahwa tender itu dimenangkan oleh perusahaan Mira. “Kenapa?” tanya Andika. Lelaki itu tahu Andra sedang kesal. Akan tetapi melihat raut wajah anak kedua itu, Andika yakin ada lagi hal lain yang membuatnya semakin kesal. “Ananta semakin arogan saja,” ucap Andra kesal. “Ananta? Bukannya kamu menelpon Mira?” “Ada Ananta bersamanya.” Andika pun menghela napas. “Mereka sepertinya bekerja sama.” Andra langsung bangkit dari duduknya. Ia duduk di sofa sementara Andika duduk di kursi kerjanya. Mereka sedang di ruang kerja rumah utama. Andra datang berkunjung untuk membicarakan situasi perusahaan

