Nila mengantar kopi yang dibuatkannya untuk Andika. Hari ini lelaki itu bekerja di rumah. Jadi selesai sarapan, Nila membuatkannya kopi. Lelaki itu tidak bisa bekerja tanpa kopi. Bahkan pagi hari terasa kurang jika tidak minum kopi. “Terima kasih sayang,” ucap Andika begitu Nila meletakkan kopinya di atas meja. Nila mengangguk kemudian melangkah hendak pergi. Lelaki itu kemudian lanjut bicara melalui telepon dengan Andra. “Iya. Pendanaan rumah sakit sudah dihentikan. Tapi sepertinya semua baik-baik saja. Perusahaan obatnya punya revenue yang tinggi.” Langkah Nila langsung berhenti begitu mendengarnya. Ia kemudian berbalik dan menatap suaminya itu. “Benar. Dana itu disimpan untuk kas perusahaan. Seharusnya kita stop pendanaan dari dulu. Ananta terlalu untung banyak, kan?” Andika me

