Adegan semalam seperti tidak nyata di hati Casilda. Walaupun apa yang Arkan lakukan terbilang sebagai suami yang penuh perhatian, dia tidak akan lupa bagaimana dia menyiksanya di kamar hotel itu. “Kamu mau ke mana?” tanya Arkan tiba-tiba yang mencegatnya bangun dari kasur. Casilda terdiam sebentar menatap bekas jarum infus yang baru saja dicabut dari salah satu tangannya. “Toilet.” “Biar aku antar,” katanya pelan, bergegas bangun dari tidurnya dan hendak memapah Casilda. Wanita berpipi bakpao tidak protes sama sekali. Sepertinya, karena ucapan dokter Archer semalam tentang donor jantung adiknya, entah kenapa membuatnya merasa sudah seharusnya pasrah di tangan Arkan. Kalau dia mau membunuhnya, maka bunuh saja. Bukankah dia sudah berhutang nyawa kepadanya gara-gara kejadian di kolam re

