Bab 1 Petaka Mengantarkan Ayam Krispi

1290 Kata
“Casilda! Tolong antarkan pesanannya sekarang juga!” Seorang perempuan dengan wajah galak berteriak dari arah dapur, sendirian dan terlihat sangat sibuk. Di badannya tersemat celemek merah bergambar ayam potong sedang tiduran dengan pose lucu menggemaskan. Ada tulisan ‘Ayam Krispi Yummy’ di atas gambar ayam tersebut. Si peneriak berwajah galak ini baru saja menyisihkan hasil gorengan ayamnya ke atas keranjang berjaring. “Baik! Tolong tunggu sebentar!” teriak perempuan bernama Casilda, keras dan tegas bagaikan sebuah terompet nyaring di udara. 'Aku harus cepat-cepat jika ingin mendapatkan bonus!' batin Casilda dengan raut wajah penuh tekad. Dengan cepat dia membersihkan meja di depannya, dan meraih peralatan kebersihan untuk dimasukkan ke dalam sebuah ember biru besar. Casilda merupakan pekerja lepas di kedai kecil ayam krispi yang sudah lumayan terkenal, dan memiliki 5 cabang di beberapa kota lain. Dia merasa beruntung sudah bisa bekerja di tempat itu dengan gaji memuaskan. Perempuan bernama Casilda tersebut memiliki penampilan rapi dan sedikit ketinggalan jaman. Postur tubuhnya gemuk, tapi tidak begitu gemuk juga, lebih tepatnya berisi dengan pipi menyerupai bakpao kecil. Meski begitu, kulitnya putih bagaikan pualam dan sangat bersih di balik kemeja merah kotak-kotak lengan panjangnya yang digulung sebatas siku. Bawahannya berupa jeans biru tua dan robek di bagian ujung bawahnya, bukan karena mengikuti gaya tapi karena sudah termakan usia. Penampilannya tidak begitu menarik, bahkan rambut hitam legamnya pun dikepang satu dengan poni menutupi dahinya sebatas kening. Sayang, meski kulit tubuhnya memang bagus, tapi tidak dengan wajahnya: berjerawat dan agak berminyak. Sungguh penampilan yang sangat tidak manis dan cantik bagi perempuan seusianya. Ditambah kacamata tebal yang menghiasi wajahnya, maka nilai minus perempuan ini semakin meroket di mata lawan jenisnya. “Hari ini adalah jadwal syuting perdana untuk drama terbaru aktor tampan idaman wanita negeri ini! Kami akan meliputnya khusus untuk Anda semua langsung dari kediaman mewahnya! Jadi, tetaplah bersama kami. Jangan ganti saluran TV Anda!” Itu adalah suara pembawa acara TV gosip yang sedang diputar pada layar TV kedai yang menempel tinggi di dinding. Sementara beberapa pengunjung kedai menonton penuh antusias acara gosip tersebut, berbeda dengan Casilda yang sibuk, sama sekali tak memerhatikan apa yang ada di layar TV. Pikirannya fokus menghitung berapa bonus yang akan diterimanya jika melakukan pengantaran yang sudah kedua puluh satu di hari itu. “Apakah semua ini pesanan yang harus saya antar?” tanyanya riang, melihat tumpukan kotak ayam krispi begitu banyak di atas meja depan dapur. “Tentu! Tentu! Ini adalah pesanan khusus! Jika kamu berhasil mengantarkan semua ini tanpa masalah, maka kamu akan mendapatkan bonus besar dariku!” Sebuah senyum cerah melengkung indah di wajah Casilda. “Bu! Kenapa bukan aku saja yang mengantarnya?!” rajuk seorang pria muda berkaos kuning di seberang ruangan, pada kedua tangannya membawa senampan piring kotor, melirik Casilda dengan tatapan bermusuhan. “Bicara apa kamu? Kerjamu saja tidak becus, mau mengantarkan pesanan penting ini? Kamu ingin membuat ibu gila, hah?!” koar sang ibu yang merupakan satu-satunya juru masak di kedai itu. Rambut panjang halusnya diikat satu, mempertegas aura sangar wajahnya. Tangan kanannya membanting handuk ke atas meja, dan memberikan pelototan tajam ke arah sang anak. “Kita sudah kekurangan tenaga, jika kamu mengacau pada bisnisku, aku akan mencoretmu dari daftar kartu keluarga!” Suara keras terdengar dari meja. Sang anak tak mau kalah, membanting keras nampan yang dibawanya ke atas meja di depan dapur, berkacak pinggang dengan kening ditautkan. Orang-orang menolehkan kepala melihat pertengkaran itu. Mereka bisik-bisik satu sama lain, ada yang terkikik geli, dan ada pula yang menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa ibu selalu meremehkanku? Aku sudah berusaha keras bekerja di sini, tapi apa yang kudapatkan? Perempuan jelek ini lebih dipercaya dibandingkan aku? Anak kandung ibu sendiri?” “Apa kamu tak bisa melihat situasi? Masih ada pembeli di kedai! Kecilkan suaramu!” Casilda buru-buru memasukkan dan mengatur kotak-kotak ayam krispi ke dalam troli dorong. Memberikan ekspresi aneh dengan sudut-sudut bibir ditekuk dalam, kedua keningnya terangkat dramatis. Lehernya menegang hebat, muak dengan pertengkaran ibu-anak itu yang hampir setiap hari terjadi bagaikan drama yang diputar untuk episode kesekian ratus kalinya. “Bertengkar saja terus sampai ayamnya gosong!” gumam Casilda pada diri sendiri. “Bu! Biarkan aku membantunya! Pesanannya, kan, sangat banyak. Keterlaluan sekali kalau dia yang harus mengambil semua bonus itu!” “Memang kamu bisa apa? Cas sudah terbiasa melakukan banyak pekerjaan kasar dan berat seperti ini. Dan kamu? Meski seorang pria sehat, kerjamu hanya bisa berteriak-teriak sambil bermain game seperti orang gila!” cerocos sang ibu, menyentil dahi sang anak dengan penuh tekanan. “Auch! Sakit!” rintihnya mengelus cepat bagian yang disentil ibunya, lalu memandang Casilda marah ketika melewatinya, “awas saja kalau kamu pulang nanti!” Casilda menghela napas berat. Itu bukan ancaman pertama yang didapatnya, sudah berulang kali. Tapi, toh, pria yang lebih muda setahun darinya itu hanya berani menggertak saja. Tak pernah satu kali pun dari kata-katanya benar-benar dibuktikan dan memberinya pelajaran. Dia adalah Ryan, pemuda yang lumayan tampan tapi sangat pemalas. “Baiklah, Bu Hamidah. Saya berangkat dulu!” Casilda tersenyum ringan meraih kertas tujuan tanpa sempat membacanya, melambaikan tangan meninggalkan dapur seraya mendorong troli barang penuh kotak pesanan istimewa mereka menuju pintu keluar. “Iya! Hati-hati, ya! Ingat untuk berlaku sopan kepada pemesan kita! Mereka adalah klien penting!” Bu Hamidah berteriak di belakang sang pekerja, wajahnya sangat cerah dan dalam hati penuh harap pemesan istimewa mereka itu akan menjadi peIanggan setia untuk beberapa hari ke depannya. *** Di sebuah kawasan elit baru ibukota. Tempat para orang kaya memiliki hunian mewah dan megah dengan halaman belakang yang luas, serta taman publik yang indah, terlihat sebuah mobil pengantar ayam krispi tengah berjalan pelan di jalan beraspal di sana. “Eh? Ini benar alamatnya?” Casilda menengok keluar jendela depan mobil van putihnya, bingung dengan jejeran rumah-rumah mewah yang ada sepanjang jalan menuju tempat tujuan. Perempuan berkacamata tebal ini merogoh saku celana jeans-nya, memeriksa tulisan di atas secarik kertas kecil. “Sudah benar, kok. Pak satpam tadi juga bilang orangnya sudah menunggu. Orang kaya mana yang memesan ayam krispi sebanyak ini? Apa mereka sedang berpesta? Kenapa tidak memesan KEEFCE saja, ya? Selera orang kaya akhir-akhir ini sungguh aneh,” gumam Casilda pelan, matanya masih sibuk mencari-cari alamat sang pemesan. Casilda sangat heran mendapati orang yang tinggal di kawasan elit itu memesan ayam di kedai kecil pinggir jalan. Walau mencoba memikirkan alasan masuk akalnya dengan ketenaran kedai itu yang bisa dibilang cukup viral, dia tak juga bisa mendapatkan jawaban masuk akal. Beberapa menit setelah mobil van putih berlogo ayam potong itu menyusuri jalanan indah perumahan mewah di sana, akhirnya berhenti tepat di depan sebuah gerbang tinggi dengan besi-besi hitam bersapu warna emas pada puncak-puncak runcingnya. Casilda mematikan mesin mobil, mengecek kembali alamat di kertasnya, kemudian turun memencet bel,menekan interkom dan berteriak keras di depan tembok pagar: “Permisi! Saya dari kedai Ayam Krispi Yummy! Apakah benar Anda memesan 50 kotak ayam di tempat kami?” Sunyi. “Aneh. Ini benar tidak, sih?” gumam Casilda pelan, menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Saat Casilda mencoba menelepon kedai, tiba-tiba saja suara di interkom terdengar. “Maaf! Apakah Anda membawa pesanan ayam krispi?” tanya sebuah suara perempuan. Casilda berbalik, kedua alisnya terangkat dan membalas interkom itu: “Iya! Benar! Saya dari kedai Ayam Krispi Yummy! Apa benar Anda memesan 50 kotak ayam krispi atas nama Tuan Abian Pratama?” Kepalanya didongakkan menatap kamera CCTV di atas pagar. “Oh, ternyata benar itu pesanan kita!” seru sang wanita di interkom, sepertinya sedang berbicara dengan seseorang di dalam ruangan, detik berikutnya kembali berbicara kepada Casilda,”itu benar kami! Masuklah!” Pintu pagar secara pelan dan otomatis terbuka di hadapannya. “Apa mereka benar sedang berpesta, ya?” gumam Casilda penasaran, berjalan ke arah mobilnya. Mobil van putih itu pun bergerak memasuki halaman depan mansion mewah dan megah tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN