Begitu mobil yang ditumpangi Udin dan ayahnya berhenti di depan gerbang sekolah. Sebelum ke luar dari mobil, Udin menatap ayahnya, “Setelah kupikir-pikir, aku mau ayah menunggu anak baru itu sampai datang, untuk memastikan kemiripan ayah dengannya.” Deg, d**a Altaf rasanya bagaikan di pukul palu mendengar perkataan anaknya itu, “Kamu, ‘kan” Tadi sudah mendengar sendiri, kalau pagi ini ayah ada pertemuan penting dengan klien.” Udin mengambil handphonenya dari saku seragam sekolahnya dan dicarinya kontak asisten ayahnya. Ia lalu menghubungi asisten ayahnya itu, “Selamat pagi, Saya mau kamu yang menangani meeting tuan Altaf pagi ini dengan kliennya, karena ia ada pertemuan sangat penting di sekolah saya.” Klik, Udin memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan ia tersenyum menatap ke a

