Bab 22

2210 Kata

Setidaknya, itulah yang ada di pikiranku saat ini. Tamat riwayatku. Bagaimana aku dengan begonya menanggalkan helmku, sih? Kenapa aku tidak sadar bahwa sekarang aku sedang bersama Padang? Laki-laki angkuh yang mengira bahwa aku ini pria. Laki-laki angkuh yang selalu melecehkanku dengan makian mengganyang perasaan jika aku berwujud rupa perempuan. Ya, Tuhan. Oke, Jen. Riwayatmu benar-benar kelar. Kalau sampai Padang tahu bahwa kamu adalah perempuan cacingan yang sudah dua kali mengacau pertemuannya dengan rekan kerjanya. Jadi, sekarang, daripada kau membego-begokan biji otakmu, mending kau berdoa saja, supaya Padang tidak mengingat kenangan pahit yang pernah kautorehkan. Oke. Aku ngaco. “Iya, Pak….” Sebuah ringisan kecil kembali aku sunggingkan. Bokongku terangkat dari kursi. Mengamban

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN