Dengan langkah kaki hati-hati, dia menuju pintu belakang yang menghubungkan halaman belakang dengan pintu dapur tetangganya. Dia telah mengamati beberapa hari sebelum berangkat mencari pesugihan.
Tetangga yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya ini, sering menjemur pakaian dalam di samping rumah. Perkiraannya tepat sekali. Di hadapan Tara kini tampak jemuran kecil dari stainless.
Tangannya buru-buru mengambil satu set pakaian dalam si tetangga. Setelahnya, Tara setengah berlari menuju pintu belakang rumah. Setelah sampai di dalam, dia segera mengunci pintu. Kini, pria bertubuh jangkung tersebut menuju kamar ritual lalu menutup tanpa mengunci pintu.
“Aku telah membawa yang kau inginkan. Lekas lepaskan istriku,” ucap Tara sembari membakar pakaian dalam di atas bara kuali. Kedua bibir pria ini melafalkan mantra yang didapat dari kuncen.
Tak lama setelah Tara menyelesaikan bacaan mantra, lampu lilin padam. Tercium bau busuk dan amis yang menyengat hidung, hingga Tara bersin berulang kali.
Terdengar suara aktivitas makan di atas meja. Tara melihat ada makhluk tinggi besar dalam penglihatan yang remang-remang, hanya ada pantulan cahaya dari luar lewat ventilasi di atas jendela. Beberapa menit kemudian, aktivitas tersebut selesai dan makhluk besar sudah tak ada.
Tara bergegas keluar kamar. Tepat pada saat langkah kakinya hampir sampai pintu kamar tempat Esih terdengar jeritan menyayat hati dari tetangga di belakang rumah.
“Abang, anakku mana? Perutku kempis. Mana anakku?”
“Astaghfirullah, Neng!”
Tara tak ambil pusing karena dia berpikir hanya mengambil jemuran baju dalam tetangga tersebut. Bukan suatu kasus besar dan tak ada sangkut pautnya dengan jeritan tetangganya.
Besok dia akan ganti uang seharga pakaian yang telah dicurinya. Tara berjalan menuju dapur untuk mengambil air rendaman lalu dengan botol yang sudah terisi penuh, dia gegas menuju kamar depan.
Tangannya pun segera menekan handle pintu lalu masuk kamar. Dalam ruangan tercium bau anyir darah. Terdengar suara rintih kesakitan Esih. Tara mendekati istrinya yang sedang tidur dengan gelisah.
“Aa ... kamana? Sakit sekali ini,” rintih Esih saat Tara sudah duduk di sampingnya.
Wanita ini meracau dengan kedua mata terpejam. Ada lelehan buliran bening merembes dari kedua sudutnya. Botol berisi air rendaman dibuka tutupnya oleh Tara. Dia percikan airnya dengan tangan ke atas tubuh Esih yang polos tanpa benang sehelai pun. Tampak darah menggenang di area bawah tubuh Esih.
Baunya lebih sekadar anyir, akan tetapi sudah menyengat bagai barang busuk. Tara harus menahan mual selama proses pembersihan sekaligus penyembuhan luka.
“Neng, maafin Aa! Katamu pengen beli mobil seperti punya si Iwan. Bukan sekadar mobil, Neng. Aa akan bikin rumah mewah untuk kamu,” ucap Tara lirih dengan kedua mata berkaca-kaca.
Ada sekitar satu jam lebih, Tara merawat tubuh Esih. Selama itu pula, istrinya tak sadarkan diri. Dengan rasa sesak di d**a, Tara teringat penjelasan Iwan.
“Setelah proses penyatuan diri kedua sampai proses pengobatan, istri kamu tak sadarkan diri. Jadi dia tak tahu apa yang terjadi. Gak usah kasih liat wajah penyesalan di hadapan dia. Belajar bersikap wajar agar istrimu tak curiga. Ritual 40 hari harus tuntas tanpa halangan.”
Kini, Tara hanya bisa menunggu Esih siuman sambil mempersiapkan ramuan khusus buat berendam istrinya. Tadi sesaat sebelum pulang, Iwan sempat mengingatkan Tara. Dia menyuruhnya untuk mempersiapkan ramuan khusus. Kuncen menyuruhnya untuk menanyakan segala hal tentang syarat dan pantangan lebih detail kepada si teman.
Nanti beberapa jam setelah proses penyembuhan selesai, sekujur badan Esih akan berlendir. Tara harus membantu istrinya untuk berendam dengan air lumpur selama tiga puluh menit baru dibilas. Ritual mandi khusus seperti ini dilakukan selama 40 hari.
Tara membayangkan hal itu dan seketika teringat dengan ikan lele besar yang dilihatnya saat berada di pinggir sendang tak jauh dari punden.
“Itu wujud istri kita kelak bila saatnya telah tiba,” jelas Iwan saat itu.
“Mereka akan mati lebih dulu dari kita?” tanya Tara sambil mengamati perilaku puluhan lele raksasa yang berebut makanan tiap kali penziarah datang ke sendang.
“Mereka akan abadi dan jadi selir penguasa Gunung Ceremai. Mereka pula yang akan memakan jasad kita, saatnya tiba.”
“Gila kamu, Wan!” Tanpa sadar Tara berteriak.
Seketika para lele besar mendekat ke arah mereka dan Iwan segera mengajak Tara untuk berlari menjauh. Setelah sampai di tempat aman, Iwan baru berani buka suara.
“Jangan teriak dekat mereka. Pendengaran mereka peka. Saat hari terakhir kita tiba, mulut ini akan berteriak tanpa sadar secara gaib. Para istri kita akan keluar dari air dan segera memangsa kita,” jelas Iwan sambil mengamati seekor lele yang nekat keluar dari air.
“Itu berarti kita dimangsa dalam keadaan hidup?” tanya Tara semakin penasaran.
“Bukan. Teriakan itu adalah efek rasa sakit saat nyawa kita lepas. Dan yang barusan, kamu liat,” ucap Iwan sambil menunjuk ke arah lele yang terkapar di pinggir sendang.
“Ya, aku lihat. Kenapa itu?” Mata Tara mengarah ke lele yang mulai sekarat.
“Dia telah ditumbalkan oleh suaminya untuk meneruskan ritual pesugihan ke anak cucu.”
“Memang bisa?”
“Bisa. Jika anak cucunya menginginkan pesugihan juga.”
“Gimana caranya?” tanya Tara dengan mata tak berkedip melihat lele tersebut digotong oleh beberapa orang menggunakan tandu lalu dipanggang di atas bara api. Seketika bau sangit tertimpa bau busuk bangkai menguar sampai ke indra penciuman kedua pria tersebut.
“Itu caranya. Mereka tadi yang menggotong lele adalah suami dan anak-anaknya. Mereka akan memakan hasil panggangan beramai-ramai sampai tak tersisa. Tinggal tulang belulang dan duri,” jelas Iwan kembali.
“Apa mereka tahu, kalo itu istri dan ibu mereka?”tanya Tara sambil menahan mual. Dia membayangkan, jika harus memakan daging istrinya sendiri.
“Jelas tahu dan memang sudah diniatkan untuk kaya. Kamu sadar, gak? Kita ini telah jadi bagian dari mereka. Kita masih tahap awal. Mereka telah puluhan tahun lakuin ritual.”
Penjelasan Iwan, membuat otak dan nurani Tara bergejolak. Pandangan pria ini nanar. Iwan segera paham dengan kekalutan yang sedang dialami oleh sahabatnya tersebut. Lengan Iwan langsung melingkar ke pundak Tara.
“Katanya pengen kaya. Udah capek dikejar-kejar penagih utang. Bilang sudah nekat. Apa ini?”
Tara pun langsung tersenyum tipis meski terkesan dipaksakan mendengar omongan Iwan barusan.
“Sempat berpikir naif barusan. Maaf,” balas Tara dengan kedua mata tak lepas memperhatikan anggota keluarga yang tampak bahagia setelah berhasil menghabiskan daging lele.
“Nanti tulang lele akan dibawa pulang oleh mereka. Dikubur di pekarangan rumah untuk pelaris usaha,” ucap Iwan.
“Pekarangan rumah bapak atau anaknya?”
“Anaknya yang akan melanjutkan ritual.”
“Itu ada banyak.”
“Salah satu mewakili,” balas Iwan mantap.
“Para istri mereka gimana?”