KEBUN KOSONG AKTIVITAS AWAL

1064 Kata
“Aa’! Malu, ih,” sahut Esih seraya menatap Tara. Namun, Tara tak bisa lama-lama menggoda istrinya karena ada sebuah kewajiban yang harus dilakukannya segera. Dia bergegas turun dari motor dan pada saat akan melangkah pergi, lengannya ditarik oleh Esih. “Bade kamana?” “Aa’ mau lakuin sesuatu agar usaha kita bisa maju,” jawab Tara sambil mengusap rambut Esih lembut. “Esih ikut, Aa’!” rengek wanita berambut lebat sepinggang tersebut “Di rumah saja. Biar cepat sembuh. Mana bisa jalan-jalan macam kitu? Lagian meski Aa’ kasep, teu perlu cemburu. Aa’ mah, setia ka Neng.” Esih yang mendengar ucapan suaminya jadi tersipu malu. Wanita ini mengakui dalam hati bahwa Tara adalah pria idaman dari bentuk fisik dan tutur kata dibanding para pria di kampungnya. Namun, tiap kali dirinya memikirkan tentang kisah cinta mereka dan aktivitas intim akhir-akhir ini, ada rasa yang ganjil. Perasaan itu buru-buru ia tepiskan. Esih masih percaya kepada suaminya. Tara buru-buru mencium kening istrinya lalu berjalan menuju kebun yang merupakan harta warisan yang masih tersisa. Sertifikat tanah tersebut telah jadi jaminan di bank. Jika dirinya tidak segera melunasi utang, secara otomatis tanah akan diambil alih oleh bank. Tara berniat menjadikan tanahnya sebagai tempat ritual persembahan. Tara menggali gundukan baru lalu mengambil botol berisi cairan darah dan tulang belulang mungil. Ia amati isi dalam botol bening tersebut. Benar-benar ajaib! Air bening yang kutaruh sudah diisi oleh Sinuhun, batin Tara dengan dua mata berbinar-binar. Dalam otak Tara hanya tersimpan harta. Seperti rencana awal dirinya, mencari pesugihan di Gunung Ceremay. Hari ini dirinya tersenyum bahagia, proses awal menuju kaya telah tergenggam tangan. Saran dari Iwan memang alternatif terbaik yang harus lakukan, jika ingin segera dari masalah keuangan. Tara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Apa pun asal bisa membuatnya lebih kaya dan sukses, akan dijabani. Dia telah mampu korbankan si istri, apalagi yang lain. Tara menimbun galian kembali. Kini, dirinya beranjak menuju rumah dengan botol yang disembunyikan dalam saku celana. Botol bekas obat batuk tersebut berasa bergetar. Pria ini paham betul bahwa proses penyiraman harus segera dilakukan. Sesampai halaman rumah, Tara melihat ada Hendra yang sedang membantu mengatur barang dagangan. Sedangkan Esih sibuk melayani pembeli yang mulai berdatangan. Pria ini tidak menyangka bahwa efek ritual bisa bekerja secepat ini. Tampak Esih yang mulai kewalahan melayani pembeli segera dibantu Hendra. Tara melafalkan mantra pemujaan lalu dengan langkah mengendap-endap menyiramkan seluruh cairan dalam botol ke sekeliling toko. Setelah itu, dirinya mengisi botol sampai penuh dengan air keran. Kemudian, Tara setengah berlari menuju kebun untuk mengubur kembali botol. Dia tersenyum bangga. Impiannya untuk menjadi seorang saudagar material akan terwujud. Kesibukan toko sepanjang hari ini benar-benar menguras tenaga Tara, Esih dan juga Hendra. Bahkan Hendra sampai harus mengambil sendiri pasir ke temannya karena toko sampai kehabisan stok. Raut wajah Esih berseri-seri. Wanita cantik ini merasa bahwa usaha suaminya untuk mengembalikan perekonomian keluarga telah berhasil. “Akhir bulan kalo pembeli semakin ramai, Abang mau kasih bonus buat Hendra dan Kang Engkus,” ucap Tara setelah Hendra berpamitan untuk pulang. Pasangan suami istri ini sedang duduk di beranda sambil menikmati cahaya bulan purnama. “Alhamdulillah, Aa’. Aamiin ya robbal alamin,” balas Esih yang buru-buru ditutup mulutnya oleh Tara. “Mulai saat ini, Aa’ minta jangan pernah ucapkan doa apa pun dari Al Quran. Itu pantangan kita.” Esih kaget mendengar penjelasan dari suaminya. Baru sekarang Tara memberi saran yang berlawanan dengan agama mereka. “Ulah kitu, Aa’. Kita harus bersyukur kepada Allah kare ...,” Ucapan Esih belum selesai, sudah keburu ditutup mulutnya dengan telapak tangan Tara. Kali ini, ekspresi pria tersebut memperlihatkan kemarahan. “Sudah dibilang, enggak usah disebut apa pun soal agama. Turuti omonganku kalo masih ingin toko rame kembali,” ucap Tara dengan intonasi tinggi. Akhirnya, Esih terpaksa mengalah agar tidak terjadi pertengkaran. Meskipun tingkah laku si suami semakin di luar kebiasaan. Dia berniat menegur kembali saat hati Tara telah stabil. Esih maklum bahwa kondisi ekonomi keluarga yang hancur telah membuat si suami stres. Pukul 19.00 WIB Tara mengajak Esih untuk jalan-jalan. Mereka telah lama tidak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Esih merasa bahwa yang dilakukan oleh suaminya adalah bentuk dari permintaan maaf saat berselisih paham tadi. Seusai menghabiskan waktu menikmati keramaian kota, Tara mengajak Esih untuk melakukan sebuah petualangan. Wanita ini semakin bahagia dengan ajakan suaminya. Dia anggap itu adalah sebuah suprise. Namun, alangkah kaget hati Esih ketika motor yang dikemudikan oleh Tara memasuki jalan setapak lalu berhenti di sebuah kebun kosong. “Aa’ aya naon atuh, berhenti di sini?” tanya Esih sambil turun dari boncengan. Tara turun dari motor lalu membuka gembok pintu kebun. Kebun tersebut dikelilingi oleh pagar besi. “Sesekali Aa’ pengen kita lakuin di alam terbuka,”bisik Tara yang lalu menuntun motor memasuki kebun. Pria ini lalu mengunci kembali pintu pagar. Esih mengikuti dengan raut wajah cemas. “Ini kebun siapa, Aa’?” Tara yang telah memarkir motor di tempat aman, menoleh ke arah si istri. Pria membuka jok lalu mengambil sebuah kantung plastik. “Ini kebun punya Iwan. Sebentar lagi akan jadi milik kita,” ucap Tara penuh percaya diri sambil menenteng kantung plastik. “Aa’ bercanda?” Esih menatap dengan kedua mata membulat sempurna. “Aa’ serius. Surat perjanjiannya ada di rumah.” “Uang dari mana, Aa’? Toko saja baru bisa jalan.” “Itu urusan Aa’. Yang penting sekarang, teh, kamu nurut kata Aa’. “Esih, ikut apa kata Aa’. Tara menggandeng tangan Esih menuju ke sebuah gazebo yang berada di tengah kebun. Tara mengeluarkan dua kain panjang dari kantung tersebut. “Lepasin baju kamu lalu ganti dengan ini,” ujar Tara. Meski bingung dengan permintaan Tara, tetapi Esih segera mengikutinya. Tara pun cekatan bertukar pakaian dengan kain. Tubuh mereka kini telah berbalut kain panjang sebatas d**a sampai lutut. Pasangan suami istri ini gegas berjalan sembari membawa senter menuju sungai yang terletak tak jauh dari gazebo. Setelah sampai bibir sungai mereka melepas kain penutup tubuh dan segera berendam di air sungai yang membeku. “Sebelum berhubungan, kita berendam sampai dapat tanda,” bisik Tara ke telinga Esih. “Tanda? Dari siapa? Ada orang lain di sini?” tanya Esih sembari mengedarkan pandangan mata ke sekeliling. Sunyi senyap. “Hanya ada kita. Nanti kamu yang merasakan tanda itu. Ini salah satu syarat agar kita cepat kaya,” jelas Tara yang tentu saja semakin membuat Esih kebingungan. “Kita berendam sambil memejamkan mata sampai ada tanda yang terasa di tubuh kamu.” Lanjut Tara sambil menatap Esih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN