Grisse menggeliat. Berkas cahaya yang menyeruak penglihatannya membuat ia harus mengerjap lebih intens. Tunggu! Kening Grisse terasa hangat. Sesekali ia bisa merasakan serupa embusan angin yang bertiup lembut. Embusan angin yang ternyata adalah napas yang teratur. Tunggu, apa tadi? Embusan napas? Embusan napas siapa? Belum juga Grisse memperoleh jawaban, sepasang telinganya menangkap suara dengkuran halus. Siapa, siapa yang tidur bersamaku? Di mana aku? Beragam pertanyaan menjejali otak Grisse. Grisse juga berusaha keras mengingat semua peristiwa yang telah dilaluinya. Kepingan memori serupa puzzle berserakan, berusaha ia satukan kembali. Begitu akhirnya Grisse mampu mengingat semuanya, bahwa ia sedang bersama Krish, Grisse semringah lalu mengulas senyuman tipis. Grisse ingat

