Ulang Tahun Fanya

1259 Kata
Saat ini Fanny Indirah Purnomo sedang bekerja paruh waktu di toserba yang tak jauh dari rumahnya. Fanny duduk sambil mendesign baju yang akan dijualnya nanti. Cita-cita fanny adalah menjadi designer terkenal.  Fanny menjalani hidupnya dengan giat sekali untuk meraih cita-cita nya. Tidak hanya bekerja paruh waktu di toserba, Saat hari libur dan hari besar Fanny akan menjajakan baju dan aksesoris buatannya sendiri dijalanan. Fanny menghentikan kegiatan nya karena kedatangan pelanggan.  "Semuanya Rp27.000 pak." Ujar Fanny sambil tersenyum.  Pelanggan pria itupun melempar uangnya dan pergi begitu saja. "Uangnya pas Rp27.000 pak. Terimakasih. Silahkan datang lagi." Ujar Fanny mencoba menahan diri karena pelanggan kasar itu. Yah, ini bukan sekali atau dua kali Fanny dihadapkan oleh pelanggan kasar seperti itu.  Sepulang dari bekerja paruh waktu di toserba, Fanny berjalan pulang menuju kerumah nya. Seperti yang biasa dilakukan Fanny setiap hari, Fanny pun berhenti di Butik dan Perhiasan Starlight untuk memandang gaun putih dilapisi dengan berlian beserta kalung berlian yang  melengkapi nya terlihat sangat mewah dan indah bak putri negeri dongeng.  "Apa yang putriku lakukan disini?" Tanya Yanti saat melihat Fanny memandang gaun putih berserta kalung berlian yang sangat indah tersebut. Fanny pun tersenyum melihat sang ibu yang menghampiri nya dan menggandeng lengan Yanti. "Kira-kira berapa harga gaun dan kalung itu Bu?" Tanya Fanny penasaran pada Yanti yang merupakan Manager Senior Starlight Group. "Kenapa? Apa putriku menginginkan nya?" Tanya balik Yanti pada Fanny yang hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Yanti.  "Untuk orang seperti kita jika ingin membeli nya kita harus menjual rumah dan meminjam dari bank." Ujar Yanti pada Fanny.  "Apakah itu begitu mahal bu?" Tanya Fanny lagi. "Hmmm sangat mahal. Untuk gaunnya seharga rumah kita dan untuk kalungnya kita harus meminjam dari bank. Ujar Yanti menjelaskan.  "Wahh sangat mahal sekali ya Bu. Siapa kah wanita yang akan memakai nya? Beruntung sekali wanita itu." Ujar Fanny menghela napas panjang sambil memandang takjub gaun dan kalung yang mungkin tidak akan pernah dipakai oleh Fanny dalam hidup nya. "Seseorang dari dunia yang sangat berbeda dengan kita. Ayo pulang." Ujar Yanti sambil tersenyum pada sang putri.  Keesokan harinya di Starlight Group, Yanti sedang menunggu Mayang Ningsih Renanda, nyonya dari Starlight Group, istri sirih dari Bagas Hendro Renanda, Pimpinan Starlight Group tempat Yanti mengabdikan diri selama lebih dari 20 tahun. Tampak dari kejauhan mobil Mayang pun terlihat. Saat Mayang keluar dari mobil nya, Yanti pun langsung menghampiri nya.  "Selamat siang Nyonya." Sapa Yanti pada Mayang sambil membungkuk memberi hormat. "Ya siang, bagaimana dengan yang kuminta?" Tanya Mayang pada Yanti yang merupakan Manager Senior di perusahaan suaminya itu. "Saya sudah menyiapkan nya nyonya, silahkan ikuti saya." Ujar Yanti sambil mengajak Mayang ke ruangannya.  Yanti dan Mayang pun berjalan menuju ruangan Yanti. Di ruangan Yanti sudah terdapat Gaun dan Kalung berlian yang selama ini selalu di pandang oleh putrinya, Fanny. Yahh beberapa hari yang lalu Mayang meminta Yanti mencari kado ulang tahun yang bagus untuk menantu tertua nya. "Karena saya belum pernah berjumpa dengannya jadi saya tidak tahu kesukaannya. Dia bahkan belum pernah mengunjungi perusahaan. Jadi saya memilih ini untuknya." Ujar Yanti sambil menunjuk Gaun dan Kalung berlian di depannya. "Karena menantu tertuaku tidak tertarik dengan urusan perusahaan jadi dia tidak pernah datang kesini. Gaun dan Kalung itu terlihat indah. Suamiku pun pasti juga akan menyukainya. Kalau gitu aku ambil yang itu." Ujar Mayang.  "Baik nyonya saya akan membungkus nya dengan indah." Balas Yanti.  "Seperti yang diharapkan, kamu memang tidak pernah mengecewakan." Puji Mayang.  "Terima kasih nyonya." Ujar Yanti.  Saat ini Yanti dan Fanny sedang menyiapkan makan malam. Fanny pun bercerita tentang gaun dan kalung yang selama ini selalu dilihat nya sudah tiada lagi. "Hmmm Nyonya sudah membelinya untuk dihadiahkan pada menantu tertua nya." Ujar Yanti menjelaskan.  "Sungguh bu? Wahh beruntung sekali wanita itu." Ujar Fanny.  "Panggil lah yang lain. Sisanya biar ibu yang lakukan." Pinta Yanti pada putri tertua nya. "Nenek, Ayah, Fitri, Fajar keluarlah. Makan malam sudah siap." Teriak Fanny. Mendengar teriakan sang putri, Yanti pun memukul pelan pundak Fanny.  "Maksud ibu panggil lah mereka bukan teriak" seperti itu. Bagaimana bisa seorang wanita memiliki suara yang begitu besar." Tegur Yanti lembut pada sang putri.  Fanny pun hanya tersenyum mendengar omelan ibu tersayang nya, tak lama kemudian sang nenek Sri Wulandari Santoso, sang ayah Budi Satria Purnomo, kedua adiknya Fitri Intan Purnomo dan Fajar Lesmana Purnomo pun keluar untuk makan malam.  Suasana makan malam pun dipenuhi dengan canda tawa dan kehangatan keluarga Purnomo yang sederhana namun harmonis.  Sedangkan di lain tempat keluarga Renanda pun sedang makan malam untuk merayakan ulang tahun menantu tertua Starlight Group, Fanya Ayudia Renanda yang wajahnya terlihat sama persis seperti Fanny. Fanya yang sudah memakai Gaun putih dilapisi berlian yang selama ini selalu dipandang oleh Fanny duduk disamping Dhafin. Dhafin pun berdiri dari kursi dan memakai kan kalung berlian ke leher Fanya. "Aku tahu itu akan terlihat indah dilehermu." Ujar Dhafin Arya Renanda  pada sang istri, Fanya Ayudia Renanda.  "Iya itu memang indah di lehermu. Selamat ulang tahun." Ujar Bagas Hendro Renanda,  Pimpinan Starlight Group pada menantu tertua nya, Fanya. "Selamat ulang tahun, kakak ipar." Ujar Farrel Candra Renanda, putra kedua Bagas. "Selamat ulang tahun, kak." Tambah istri Farrel, Nadia Larasati Renanda. "Selamat ulang tahun kakak iparku." Timpal Gilang Arga Renanda, putra bungsu Bagas yang  belum menikah.  Mendengar ucapan selamat dari keluarga iparnya tidak membuat Fanya tersenyum malah menghela napas panjang.  "Apa kamu tidak suka hadiahnya?" Tanya Bagas yang duduk didepan Fanya setelah mendengar menantu nya menghela napas panjang.  "Saya minta maaf ayah mertua." Ujar Fanya sambil cemberut dan terlihat tidak tulus dengan permintaan maaf nya. "Ayah mertuamu ingin memberikan hadiah spesial untukmu. Bersyukur dan tersenyum lah. Hadiahnya sangat mahal." Ujar Mayang pada Fanya yang terlihat tidak bersyukur.  Fanya tidak menjawab perkataan Mayang dan masih terlihat cemberut.  Suasana makan malam pun berubah menjadi tidak nyaman bagi semua orang.  "Bagaimana keadaan kedua orangtua mu di Amerika? Apakah mereka baik-baik saja? Aku terlalu sibuk untuk menghubungi mereka." Tanya Bagas pada Fanya untuk mengubah suasana.  "Aku yakin mereka baik-baik saja. Sudah cukup lama juga aku tidak berbicara dengan mereka." Jawab Fanya acuh tak acuh.  Bagas hanya menghela napas melihat tingkah menantu tertua nya.  "Akhir pekan ini kita akan membuat pesta besar untuk merayakan ulang tahun mu. Ayah sudah mengundang beberapa orang penting di perusahaan, kamu bisa menambah beberapa teman terdekat mu." Ujar Bagas. "Saya tidak akan mengadakan pesta jadi batalkanlah semuanya ayah mertua." Ujar Fanya cuek yang membuat semua orang memandang ke arahnya. "Saya akan pergi ke clubbing dengan beberapa teman dekatku." Tambah Fanya.  "Kamu tidak boleh membatalkan pesta dan pergi clubbing Fanya. Yang akan hadir adalah orang-orang penting bagi perusahaan." Ujar Bagas sedikit kesal. "Itu adalah urusan ayah mertua, bukan urusan saya. Mendapat kan ucapan selamat ulang tahun dari orang asing akan melelahkan." Jawab Fanya berani. Bagas terkejut dengan jawaban Fanya dan memandang marah kearah Dhafin. Dhafin hanya bisa tertunduk merasakan tatapan kemarahan sang ayah padanya. "Hahaha inilah sebabnya aku sangat menyukai kakar ipar tertuaku. Kakak sangat berterus terang. Harusnya aku mencari club untuk kakak?" Ujar Gilang untuk memecahkan suasana dingin di ruangan tersebut namun Fanya hanya diam tidak menanggapi ucapan Gilang. "Menantu, aku paham kamu tidak mengerti etika orang Indonesia karena besar di Amerika tapi tidak sopan berbicara begitu pada ayah mertua mu. Orang-orang akan berpikir kamu tidak dididik dengan baik oleh kedua orangtua mu padahal kamu dari keluarga terpandang." Ujar Mayang pada Fanya. "Aku hanya lah anak adopsi jadi apa yang kamu harapkan dariku? Selain itu, orang tua angkatku bahkan tidak peduli padaku, mereka hanya peduli dengan urusan dan pekerjaan mereka saja." Ujar Fanya cuek. Perkataan Fanya membuat suasana kembali berubah canggung.  "Ngomong-ngomong bukankah daging kita sudah terlalu matang?" Tanya Bagas pada Mayang untuk kembali mengubah suasana.  "Saya datang kesini untuk meminta sesuatu ayah mertua." Ujar Fanya pada ayah mertua nya. "Tidak biasanya kamu meminta sesuatu padaku. Tentu saja, mintalah apapun, aku akan memberikan nya. Beritahu aku apa yang kamu inginkan." Ujar Bagas senang pada menantu tertua nya.  "Ijinkan aku dan Dhafin untuk bercerai ayah mertua." Ujar Fanya berani yang membuat semua orang memandang ke arahnya termasuk Dhafin yang sedang duduk disamping nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN