6 | Pedang

1907 Kata
"Apakah kau mengenal wanita tadi? Wanita paruh baya yang bergaun biru. Perawakannya agak mirip dengan Call-maksudku, Paduka Callan." "Oh, beliau adalah ratu Adela, nona Myra. Ibunda Yang Mulia Callan," jawab Edelyn sambil mengeringkan rambut gadis itu dengan handuk. "Beliau yang mengatur seluruh istana Warrington sekarang." Mendengar itu, jemari Myra mengeras. Jadi dia calon mertuaku? Ratu Adela? Astaga. Sudah kuduga sikapnya akan seperti itu. Setelahnya, pelayan itu memakaikan gaun biasa untuk Myra. Jauh lebih sederhana daripada yang dulu sering gadis itu pakai. Tapi setidaknya Myra merasa bersih. Mereka beranjak ke perpustakaan. Sepanjang perjalanan, ia terus mencoba berbicara dengan Edelyn, tapi pelayan itu kerap menghindarinya. Jawabannya pendek, dan nada suaranya netral. Seperti menghindari percakapan yang terlewat panjang. Bertahun-tahun menjadi putri di istana sudah memberikan Myra banyak pengalaman. d**a Myra terasa lesu. Padahal, baru saja ia ingin menjadikan Edelyn sebagai teman. Ia akhirnya membiarkan Edelyn sendiri. Perpustakaan Warrington masih persis seperti yang Myra ingat. Tinggi, lebar, dengan rak-rak kokoh dari kayu ek yang menjulang ke langit. Perlu tangga panjang untuk mencapai rak teratas. Ia sering menghabiskan waktu di sini ketika bosan; membaca dongeng, novel, atau belajar politik dan etiket istana. Namun untuk hari ini, di atas meja perpustakaan, tiga buku tebal terlampir di meja untuk Myra pelajari. Melihat itu, putri itu memutar bola matanya dalam-dalam. Buku-buku itu tidak akan habis dalam sehari. Jadi ini yang akan dia lakukan selama dua minggu ke depan? Astaga. Setelah membujuk dirinya sendiri, ia duduk, dan mulai membaca buku yang paling tebal untuk gambaran. Daftar isinya adalah : sejarah asal mula bunga Lavender, siapa pendiri klan, dan silsilah ke dalam klan Lavendar membuat Myra pening. Lebih membosankan daripada saat Godwin memaksanya untuk belajar politik. Kedua pelajaran ini mempunyai satu kesamaan: membuat Myra ingin berteriak : Siapa peduli??? Lantang-lantang. Namun di satu sisi, ia hanya akan memancing murka berlebih dari Adela jika ia tidak menurut. Jadilah ia duduk, menekuri buku-buku itu seharian. Sebagian besar waktu, ia terlihat rajin, menulis dan merangkum hal-hal yang baginya penting di kertas kosong. Namun, terkadang kantuk berhasil merayunya. Myra lantas jatuh tertidur di atas buku yang terbuka, sebelum Edelyn membangunkannya lagi dengan panik. Begitu terus terjadi sepanjang hari. Malamnya, ia kembali ke kamar dengan wajah lesu. Informasi dari buku terus berputar-putar di kepalanya. Lavender berwarna ungu. Lavendar adalah salah satu klan yang pertama mendirikan Avendra. Petinggi Lavendar paling agung yang pernah dianugrahi kesatria adalah... lupa. Otak Myra terasa penuh. Dan perutnya keroncongan. Aduh, apakah orang-orang yang tinggal di lantai ini memang tidak pernah makan malam bersama? Perutnya terasa diremas. Setelah menimbang-nimbang, ia akhirnya memutuskan untuk mencari makanan di dapur, namun gelak tawa sekumpulan pelayan menghentikan langkahnya. "Jadi kau dengan sukarela mengusap tubuh tuan putri sialan itu? Dan ia tidak mencegahnya? Astaga Edelyn, seharusnya kau tidak melakukannya! Kau bodoh atau apa? Putri itu memanfaatkanmu, tahu!" canda seorang pelayan sambil tergelak. Myra terkesiap mendengar namanya disebut. Langsung ia menyembunyikan badannya di balik pintu dapur, menguping. Di dekat kompor, terlihat Edelyn yang berdiri bermuka masam. "Bukan salahku. Aku 'kan tidak tahu kalau tidak wajib memandikan orang yang bukan anggota keluarga istana!" "Tidak apa-apa," ujar pelayan yang lain. "Setidaknya, sekarang kau tahu tubuh putri seperti apa," canda pelayan itu sambil mengedip. Myra memandang Edelyn yang awalnya enggan bercerita, kelihatan tidak nyaman. Namun seorang pelayan menceletuk. "Oh betul juga!" Mata pelayan yang bertubuh besar itu seketika berbinar. "Ceritakan kepada kami! Benarkah ia..." Sebelum kalimat itu selesai, Myra bergegas kembali ke kamarnya. Rasa lapar di perutnya sudah hilang. Dia membanting pintu dan menutupi kepalanya dengan selimut. Rasa lapar tadi benar-benar sudah hilang. Diganti dengan sakit hati. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Hari-hari Myra selanjutnya terasa sangat monoton. Rasanya sama saja. Sejak menguping percakapan di dapur, Myra meminta Edelyn untuk tidak usah repot membantunya siap-siap. Kini, setiap pagi ia akan mandi sendiri dan juga berpakaian sendiri. Tugas Edelyn sekarang hanya mengawasinya saja di perpustakaan. Begitu terus selama seminggu. Myra bangun pagi, membersihkan diri, dan belajar di perpustakaan. Berulang-ulang. Dia akan mengambil makanan di dapur kalau lapar, karena makanan tidak pernah diantarkan ke kamarnya. Namun ia selalu menunggu hingga dapur sepi. Ia tidak kuat kalau harus mendengar celotehan pelayan yang bergosip setiap hari. Sebagai ganti tidak membantunya mandi, Myra meminta Edelyn untuk mengumpulkan kayu bakar untuknya saja. Membuat kamarnya sudah cukup hangat, tidak membuatnya menggigil lagi. Juga dalam waktu beberapa hari, buku-buku sejarah itu hampir dilahapnya tuntas. Yang tersisa hanya silsilah Lavendar yang terbaru saja. Myra sudah mulai beradaptasi dengan hidupnya yang ini. Entah bagaimana hidupnya saat sudah menikah nanti. Hari ini, ia berniat untuk menuntaskan pelajarannya. Oke, jadi... Duke Callahan menikah dengan Adela, si cerewet, dan keturunan mereka berdua adalah Callan dan Camdyn Lavendar. Tunggu. Kenapa Callan dan Camdyn lahir di tahun yang sama? Apakah mereka.... Myra menerawang, sebelum bertemu kesimpulan yang mengejutkan. Callan memiliki kembaran? Tapi aku tak pernah melihat Camdyn? Ia dimana? Mungkin ia sudah mati. Tunggu. Seingatnya, panglima itu menyimpan dendam pada keluarganya, bukan? Tatapan tajamnya kepada Myra waktu itu sangat jelas. Namun, dari semua anggota Rosean, hanya Godwin yang ia serang hingga babak belur. Itu berarti... Apakah Godwin yang membunuh saudara kembar Callan? Myra membuka bagian riwayat. Ia ingin mencari tahu. Ternyata, bukan Camden. Hanya Duke Callahan yang tercatat dieksekusi beberapa tahun yang lalu. Pasti pamannya yang memberikan perintah. Myra mengingat-ngingat tahun pertamanya menjadi puteri makhota selepas Teror Mawar Berdarah. Pamannya yang paranoid mencurigai semua rivalnya. Semua orang yang bertingkah salah langsung ia eksekusi, tanpa pertimbangan yang adil. Apalagi setelah terbongkar kalau klan Lavendar terlibat dalam peristiwa itu. Ayah Callan pasti termasuk. Tapi, Myra tetap tidak menemukan nasib Camdyn, saudara kembar Callan bahkan setelah buku itu ia bolak-balik. Tidak kunjung menemukan jawaban, Myra menyerah. Ia menutup buku-buku itu dan turun dari kursinya. Akhirnya, pelajarannya tuntas juga. Mengingat tugas itu akhirnya selesai, ia menghela napas. Buku itu berat, dan menyita banyak waktu. Myra tidak biasa hidup seperti ini. Ia terbiasa berkuda di pagi hari, menghirup aroma bunga mawar yang segar di siang hari, kemudian bercengkrama dengan pengikut-pengikut setianya di malam hari. Hidupnya memang sudah berubah, namun tetap saja. Tidak ada temannya untuk bicara, karena keluarganya ditahan di sayap kiri istana yang jauh. Tidak ada juga yang ia lakukan selain belajar dari pagi hingga petang. Akan tetapi, karena pelajarannya sudah tuntas, mungkin ia sudah diizinkan melakukan hal yang lain? Myra langsung terpikir hobi favoritnya: berburu. Hmm, tapi dia belum memiliki anak panah yang layak. Apa hal lain yang bisa dilakukan selain berburu? Memutuskan untuk mencari tahu, gadis itu keluar dari perpustakaan. Edelyn yang awalnya terkantuk-kantuk menunggu langsung berdiri kaget, berusaha untuk menghentikan Myra. "Tunggu, nona Myra. Kita tidak boleh keluar dari perpustakaan. Kembalilah ke dalam." "Aku tahu, Edelyn. Pelajaranku sudah selesai," sergah Myra. "Makanya aku keluar, hanya ingin melihat-lihat saja. Aku bosan." Berkali-kali Edelyn yang takut amarah Adela mencoba mencoba menghentikannya, namun Myra tidak menggubrisnya. Ah, tidak mungkin aku kena masalah. Pelajaranku sudah selesai, plus aku tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Setelah menyusuri lorong, gadis itu justru menemukan sebilah pedang usang. Walaupun bersarung, sepertinya pedang itu ditinggalkan. Matanya langsung bersinar. Pelajaran berpedang oleh pelatihnya dulu sudah selesai, padahal banyak teknik yang belum ia sempat praktekan. Langsung Myra mengambil pedang itu dan membawanya ke lapangan istana. Di lapangan pinggir yang memiliki samsak kayu, disitulah Myra mengulang latihan pedangnya lagi. Edelyn yang pasrah mengikutinya membulatkan mata, bercampur kesal dan takut. Ia akan mampus jika ratu Adela datang, semua karena seorang tuan puteri yang tidak bisa berpikir. Sementara itu, di lorong tadi, Arthur sibuk mondar mandir. Pedang miliknya tadi diletakkannya di sini. Sekarang dimana? Ia berkeringat. Pedang itu warisan dari kakeknya. Terlalu berharga untuk hilang. Pemuda itu melayangkan pandangannya ke lapangan. Dan nampaklah Myra yang sedang berlatih pedang dengan pelayannya yang duduk dengan pucat. Sinar matahari yang tinggi membuat pedang itu mengilat, kilatan yang Arthur sangat kenal. Membuat ia membulatkan matanya. Itu pedangku! Pikirannya lantas dipenuhi amarah. Mengapa putri itu menggunakannya? Langsung ia bergegas ke arah Myra. "Permisi, Tuan Putri Myra," ujar Arthur berusaha sopan, namun ia menahan kekesalannya di ujung tenggorokan. Myra langsung berhenti. Ia menoleh ke arah Arthur yang mengenakan baju zirah lengkap, terpana sambil masih menggenggam pedang itu di tangan kanannya. "Ya? Ada apa?" ujarnya sambil tersenyum sopan. "Darimana kau mendapat pedang itu?" "Oh," Myra mengangkat pedang itu sekali, "tadi ditinggalkan di lorong istana. Sepertinya tidak ada yang memilikinya, sebab pedang ini terlihat usang. Mengapa?" Mendengar pedang warisannya dihina, wajah Arthur berubah merah padam. Dengan suara yang mencoba menahan murka, ia berkata lagi. "Yang Mulia, itu adalah pedangku. Itu warisan." Ucapan itu membuat Myra terkesiap. Buru-buru ia meletakkan pedang itu dan memasukkan pedang itu ke dalam sarungnya. Namun sudah terlambat. Arthur yang marah masih merasa segan kepada Myra, sehingga ia mengalihkan amarahnya pada Edelyn. "Kau, pelayan!" Arthur menggeram. "Bisa-bisanya kau membiarkan sang putri mengambil barang orang!" Edelyn ketakutan, ia duduk bersimpuh. "Maafkan aku tuan! Aku sudah susah payah mencegahnya, tetapi, nona Myra tidak menggubris." "Tetap saja! Seharusnya kau cegah sekuat tenaga!" Melihat Edelyn yang bersimpuh panik, Myra yang kaget langsung mendekati Arthur segera. "Tolong, Tuan, jangan salahkan Edelyn. Benar ia sudah mencegahku sekuat tenaga, aku saja yang tidak memperhatikan-" "Ada ribut-ribut apa ini?" gelegar suara seorang wanita membuat Myra hampir terlompat. Suara tegas Adela. Sebelum yang lain sempat berucap, Arthur langsung menyambar. "Maaf membuat kegaduhan, Yang Mulia, akan tetapi Tuan putri Myra mengambil pedang saya tanpa izin, " hormatnya kepada ibu sahabatnya itu. Mereka sudah lama mengenal satu sama lain. "Sehingga saya menyalahkan pelayan ini, seharusnya dia melarang Tuan Put-eh, nona Myra." Arthur hampir lupa ucapan Callan tempo hari. Mendengar itu, Adela berubah berang. "Hah, seharusnya kau justru memarahi gadis tidak tahu aturan ini, Arthur!" tampik wanita itu. "Bukan malah menyalahkan pelayannya. Mantan putri, tapi tidak tahu cara bersikap." Myra mencoba menyela, namun Edelyn justru menyela duluan. Emosi bangkit dari dalam dirinya setelah dimarahi habis-habisan oleh Arthur. "Be-benar sekali, Yang Mulia!" ia tunduk, tapi suaranya lantang "Aku sudah berkali-kali menegur, namun nona Myra tetap bersikukuh mengambil pedang itu. Tolong ampuni aku." "Tidak usah minta maaf," ketus Adela. "Gadis amburadul ini yang harusnya minta maaf." Arthur mengangguk, lantas menyindir. "Benar, sepertinya kepalanya masih berpikir ia keponakan raja." Myra makin bergetar mendengar itu. Ia mengangkat kepalanya, dan ketiga orang itu menatapnya sinis, bahkan Edelyn, ia langsung tertunduk. "Maafkan aku!" Myra langsung berlutut, suaranya makin bergetar. "Aku tidak bermaksud, sungguh. Maafkan aku." "Tidak usah percaya perkataan seorang Rosean," sergah Adela sinis. Wanita itu lantas menunjuk Edelyn. "Kau, pelayan, mulai sekarang jangan kau melayaninya lagi. Aku salah. Seharusnya yang mengurus gadis ini prajurit dengan penjagaan ketat, biar dia tidak usah mencari gara-gara lagi. Aku muak dengan sikapnya." Mendengar itu, Myra membulatkan matanya. Ia menengadah ingin protes, namun ternyata sudah ada sekumpulan warga istana yang menonton mereka di sisi, dan kebanyakan memandangnya dengan tatapan, bisik-bisik, dan tawa yang tertahan. Ia tertunduk malu. Edelyn mengangguk, dan langsung menunduk pamit. "Dengan senang hati, Yang Mulia." Akhirnya ia bisa kembali jadi pelayan dapur. Ia merasa lega tidak perlu mengurus gadis itu lagi. Sebelum beranjak, Arthur mengambil pedang yang tergeletak di samping Myra dengan ketus, dan ia berkata dengan nada sinis. "Terima kasih, Tuan Putri," ujarnya dengan nada yang jelas mengejek . Adela membuang napas kasar, dan berkata kepada Myra untuk yang terakhir kali. "Kau benar-benar bersikap seenaknya, ya? Maka dari itu, mulai besok, tidak akan ada pelayan yang melayanimu lagi. Kau harus paham betul posisimu mulai sekarang, Myra Rosean," cibir Adela sebelum menunjuk istana. "Kembali ke kamarmu. Sekarang," geramnya. Myra yang berkaca-kaca, langsung bangkit berdiri. Ia berlari kembali ke istana sambil menutupi wajahnya. Mencoba tidak menghiraukan tatapan warga istana yang berkerumun menontonnya tadi. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN