2 | Liontin

957 Kata
Desing demi desing pedang menderu di lapangan istana. Hari ini adalah spesial; para calon prajurit terpilih dari Akademi Militer Avendra diperbolehkan unjuk diri di hadapan Yang Mulia Raja Godwin, sebuah kehormatan yang hanya diberikan sekali seumur hidup. Ia yang menang akan dikonsiderasikan sebagai pejabat perang—mungkin menjadi jenderal, dan di beberapa kasus khusus, panglima. Hal itu bukannya mudah; konon, hanya satu dari lima puluh calon yang bertahan hingga akhir. Di bawah matahari yang membara dan godaan melihat para lelaki yang bertelanjang d**a, para wanita Istana Warrington pun berkerumun di balik jendela—hanya diizinkan menonton dari kejauhan. Di atas mereka, seorang gadis berhelai merah darah bersandar di balkon istana. Gaun terusannya anggun, dikibarkan oleh angin dingin dari utara. Rambutnya disanggul dengan beberapa untaian yang dibiarkan menjuntai dengan indah. Sabuknya penuh permata dan berlian. Terus menatapi salah seorang pemuda gagah yang sedang beradu pedang, meski dingin angin bertiup kencang, ia tidak bisa mengusir hangat yang timbul di pipinya. Bibirnya terus melengkung ke atas. "Bisa kau katakan lagi namanya, Gilder?" Myra, terus tersenyum, memangku wajahnya sembari bersandar pada balkon. "Callan dari Wangsa Lavendar, Yang Mulia." Sang Pelukis Istana itu tak melepaskan pandangannya dari liontin yang sedang ia kerjakan. Callan... Lavendar? Mata pemuda itu ungu—warna yang hanya dimiliki oleh darah Lavendar, dan tubuhnya dipenuhi luka. Bukan rahasia lagi jika didikan akademi adalah kejam. Rambutnya yang hitam legam panjang diikat satu, berayun bersamanya ketika menggerakan pedang dengan lincah. Celana kulitnya penuh tetesan darah lawannya. Ayunannya rapi, presisi, terukur. Raja Godwin bahkan berhenti bersandar di singgasananya. Memandangnya lamat-lamat, jantung Myra berdegup terlalu keras untuk diabaikan. "Sudah selesai, Yang Mulia." "Oh?" Terkejut, Myra pun menerima liontin berlapis perak kembali dari Gilder. Ia membuka tutupnya, dan tersenyum dengan teduh. Mengecupnya sesekali, sambil menatapi sang pemuda dari kejauhan. Nampak, di dalam liontin itu, terlukis wajah seorang pemuda yang tegas, berambut hitam legam dan bermata ungu. Nun jauh di lapangan istana, pemuda yang sama mengacungkan pedang ke lawannya yang terbungkuk dan menyerah, sembari menatapi sang Raja yang bertepuk tangan dengan bengis. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Bunyi racauan pamannya membangunkan Myra dari lamunannya. Empat tahun berlalu dan Myra masih mengingat tatapan bengis itu. Semula, ia mengira bahwa tatapan itu dilayangkan ke lawan Callan. Ternyata... tatapan itu dilayangkan pada pamannya. Tatapan yang sama pun harus dihadapinya kali ini. "b******k!" Raja Godwin membentak marah. Berusaha melepas ikatan di tangannya, namun prajurit di belakang segera menghentak ujung rantai, membuat Godwin terjatuh di tanah. "Pengecut! Lavender busuk! Duel pedang melawanku kalau berani!" racau Godwin sambil tertelungkup. Ekspresi Callan tetap beku, meski dalam hati ia memutar bota matanya. Setelah dihajar, terikat sepenuhnya di tanah, raja sialan ini masih berani melawan? Kecongkakan klan Mawar lebih dari yang dia kira. Di samping sang raja yang terus berontak, terikat dalam untaian rantai yang sama, Myra sedang tertegun. Masih mengenakan gaun terusan merah yang sama dua hari lalu, ia berusaha mencerna isi perjanjian yang baru dibacakan tadi. Tanpa sadar, Callan ternyata melirik, menangkap Myra yang mengerjapkan mata. Bibirnya terbuka untuk bertanya, namun tertutup kembali. Panglima itu mengambil kesempatan itu untuk menyindir. "Ada apa, Tuan Putri? Kurang jelas kah perjanjian tadi? Atau harus kubacakan lagi?" ujar Callan sinis. Myra segera menggeleng, namun Callan tidak memperdulikannya lagi. Pria itu menarik bilah pedangnya yang berdesing, untuk kemudian menodongkan ujungnya yang runcing pada Kepala Dewan Agung yang sudah terkencing-kencing di celananya dari tadi. "Bacakan ulang, Yang Terhormat." "Pe-pe-per-tama. Atas tuntutan rakyat Avendra," Kepala Dewan Agung menelan ludahnya, untuk kemudian menarik napas dan menenangkan diri. "Parlemen meminta untuk Yang Mulia Raja Godwin, raja kedua dari dinasti Rosean untuk turun dari tahta kerajaan Avendra, menanggalkan seluruh gelar yang dia miliki, mengembalikannya kepada kerajaan Avendra, dan mulai hari ini, menjadi tahanan atas kekejaman yang sudah dirasakan oleh rakyat Avendra selama dua generasi. Karena itu, persetujuan Paduka Godwin tidak diperlukan dalam surat ini. "Kedua, juga atas tuntutan rakyat, parlemen meminta seluruh anggota klan Rosean, tanpa terkecuali, untuk menanggalkan seluruh gelar yang mereka miliki dan mengembalikannya kepada kerajaan Avendra. "Ketiga, sekali lagi atas tuntutan rakyat dan pertimbangan lebih lanjut, semua posisi serta harta yang wangsa Rosean miliki akan disita, selanjutnya diserahkan ke tangan Paduka Callan dan menjadi milik wangsa Lavendar." Callan berhenti sejenak, melirik sekilas ke Myra yang pucat pasi. "Dengan begitu, sejak perjanjian ini ditandatangani, maka akan berlaku ketentuan berikut. Pertama, Panglima Callan akan resmi bergelar Yang Mulia Raja Callan, penguasa sah kerajaan Avendra dari wangsa Lavendar. "Kedua, Seluruh ketetapan yang telah disebutkan di atas akan berlaku dan- "kondisi tambahan yang akan kutambahkan akan berlaku. Bukan begitu, Hakim Agung?" sambung Callan dengan lantang. Myra menoleh kepada para Dewan Agung, namun tiada satupun yang bersuara, maupun berani menatap ke arah para Rosean. Callan menarik kertas kuning itu dari genggaman Hakim Agung, lantas menaruhnya kembali ke atas meja. Dia mendongak, senang mendapati wajah empat anggota kerajaan—Myra, Godwin, Keenan, dan Duke Guliart—yang tersisa di depannya memutih. "Kau pasti sudah gila, wahai panglima rendahan, jika berpikir aku mau mematuhi perjanjian busuk itu. Cih!" Godwin meludah ke tanah. Namun, bukannya gentar, Callan justru mulai kehilangan kesabaran. Dengan wajah yang mulai merah padam, dia mengibaskan tangannya. "Baiklah kalau begitu. Prajurit, seret mereka semua ke dalam minyak mendidih!" "JANGAN!" pekik Myra tiba-tiba. Callan melotot, melihat ke asal suara itu. Melihat tatapan tajam Callan, sang putri lantas menunduk, namun tetap berdiri perlahan. "Sebutkan kondisi tambahan itu dan kami akan pertimbangkan." Callan menatap tuan puteri yang pakaiannya sudah lusuh itu dengan dingin, kemudian melangkah. Dia melipat tangannya ke belakang dan berdiri persis di depan ketiga orang itu. "Kondisi tambahan dariku adalah," Callan menarik napas, kemudian memalingkan netra ungu gelapnya untuk menatap Myra, dalam. Pipi gadis itu merona. Callan menatap wajah gadis itu lamat-lamat dan melanjutkan kalimatnya. "....Putri Myra menyerahkan klaimnya terhadap tahta dan menikahiku." To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN