9 | Darren & Fione

2066 Kata
Paginya, Myra masih tidur di kamarnya yang lama---kamar kepala pelayan yang berkasur tipis. Namun jujur saja, ia hampir tidak tidur, sibuk memikirkan reaksi Callan pagi itu. Tenggorokannya kering, cincin ungu yang baru disematkan padanya kemarin terasa seperti beban di jarinya. Apakah sang Raja memang membenci dirinya sebegitunya? Apakah pernikahan mereka masih dianggap sah? Bagaimanakah kelangsungan pernikahan mereka nanti? Pertanyaan bertubi-tubi bagai palu menghantam kepala Myra yang kian pening. Bentakan Callan yang juga masih terngiang memperparahnya. Jadilah, si ratu kecil menutup telinganya dengan bantal kuat-kuat, hingga ketika ayam berkokok, Myra justru tertidur pulas. Nah! Jadilah pagi ini, ia bangun kesiangan. Segera, Myra bangun, mengucek matanya sebentar saja dan terlonjak. Tergesa-gesa, ia mencuci muka, untuk kemudian memasang gaun lamanya. Anehnya, tidak ada pelayan yang mengetuk, lantas membangunkan dan mempersiapkan dirinya sebagai ratu. Jadi Ia hanya bisa buru-buru menggulung rambutnya, mengenakan sepatu dan hampir tersandung karenanya. Berlari di lorong, untuk kemudian menabrak seorang wanita. [BRAK] "Aduh!" seru Myra. Sambil terduduk, ia mengusap bokongnya yang terbentur. Membuka matanya, berharap bahwa ia tidak menabrak Ratu Adela, namun wajah yang menyeruak justru membuat ia terperangah. Ia menabrak seorang puteri. Puteri yang begitu cantik, dengan kulit seputih s**u dan mata cemerlang dan bibir yang--- "Oh, Yang Mulia!" Aisia mengulurkan tangannya pada Myra, "Maafkan hamba! Tidak bermaksud, sungguh." ----oh. Bukan puteri rupanya. "Tidak apa-apa," Myra berusaha tegak, karena kecantikan gadis itu membuatnya gugup. "Siapakah anda?" "Aisia Belcourt." Ia menunduk lagi. "Teman lama Yang Mulia Raja. Suatu kehormatan bertemu dengan anda." Myra mengangguk dan tersenyum lebar, karena wanita itu begitu cantik, bahkan lebih cantik dari Myra sendiri. Kemudian, namanya terdengar familier. Myra membuka mulutnya untuk berbasa-basi, tapi ribut riuh dari ruang makan pun mengalihkan perhatiannya dan Ia pun berlalu. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Myra kembali terkejut. Tak disangka-sangkanya, meja makan justru penuh pagi ini. Hampir semuanya dipenuhi dengan orang-orang bermata ungu, keluarga Callan, anggota keluarga kerajaan yang baru. Saling bercakap-cakap, saling bercanda, lalu berhenti. Lalu, semua mata itu kini mengarah pada Myra. Mantan tuan putri itu pun menelan ludah. "Ada apa, Myra?" suara familier---suara ratu Adela pun menyadarkannya. "Anu--ah, di manakah tempat dudukku, Yang Mulia?" ujarnya karena tidak berani memanggil ratu galak itu dengan sebutan ibu. "Tidak tahu," jawab ratu Adela singkat. Ia bahkan tidak menoleh. "Meja sudah penuh dengan mereka yang bangun tepat waktu. Jadikan pelajaran untuk lain kali." Ah, suara ketus itu lagi. Sepertinya Myra sudah harus terbiasa dengan sikap seperti ini. Sekilas, Myra melayangkan pandangnya pada suaminya, namun pria yang itu membuang muka, acuh tak acuh. Ia mencari kursi berukiran mawar yang biasanya jadi tempat ratu, namun ia tidak menemukannya. Kalah sudah. Myra pun menunduk, lantas melangkahkan kaki menuju dapur---ruang makan para pelayan. Para pelayan tentu saja kaget melihat sang ratu memasuki dapur. Segera mereka berkemas-kemas, namun Myra menghentikan mereka. "Tenang! Aku ke sini hanya untuk makan." Sambil melongo, para pelayan dan juru masak pun menyaksikan mantan tuan Puteri itu mengambil piring, roti, telur, sosis, dan keju, untuk kemudian duduk dan melahapnya. Beberapa berbisik dan melempar tatapan sinis, dan Myra terus mengunyah, berusaha menelan kepeduliannya bersama dengan makanannya. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── "Kau dengar itu? Si ratu baru, bangun kesiangan, terus diusir dari meja makan! Bahkan Yang Mulia Raja tidak membelanya! Hahaha!" Tawa para dayang pun menggelegar di suatu lorong di istana Warrington. Di balik temboknya, Myra yang baru saja keluar dari dapur menghentikan langkahnya dan terdiam. Terbiasa, terbiasa. Myra menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat. Ia tetap berjalan. Ia tetap berjalan maju. Sepatunya berderap, berbelok ke dalam ruangan, dan mampu untuk melenyapkan tawa itu. Para pelayan pun melihatnya. Ratu yang mereka ejek, sedang berdiri di hadapan mereka. Myra pun menatap mereka tepat di mata tanpa emosi. Salah satu dayang refleks menunduk. Yang lain berpura-pura sibuk merapikan celemeknya. Tawa barusan lenyap, menguap tanpa sisa, menyisakan diam yang kikuk dan berat. Tanpa suara lagi, Myra pun berjalan melalui mereka. Ia pun menghilang di ujung lorong, menyisakan sunyi yang mendalam di antara kedua pelayan itu. Setelah berbelok, Myra menarik napas, dan membuangnya. Kalau boleh jujur, Myra tidak biasa diperlakukan begini. Ia dulunya adalah permata Avendra, disanjung dan dimuliakan kemana ia pergi. Sekarang ia dihina. Direndahkan. Mungkin saja kemarahan dan kebencian yang tersimpan pada klannya selama bertahun-tahun kini meluap, dan yang empunya kemarahan tidak tahu harus melontarkannya kemana. Tetap saja, Myra sakit hati. Kini, ia ditatap benci kemana ia pergi. Kini, para pelayan pun tidak mematuhinya lagi. Kini, hampir seisi istana memperlakukannya bagai---bagai--- ---bagai kutu busuk--- Myra merasa perutnya bergejolak. Dia ingin muntah. Dadanya tiba-tiba terasa disumbat dan ia pun keluar. Berlari. Mencaplok mantel, menyambar busurnya yang tersampir di samping kandang kuda, dan berlari menuju hutan Taiga. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Sementara itu, di bagian istana yang lain, seseorang nampaknya juga harus mulai beradaptasi. Callan sedang memimpin sidang istana untuk yang pertama kali dalam kepemimpinannya. Putusan pertamanya adalah untuk membatasi perayaan penobatannya menjadi hanya satu hari. Ia tidak ingin dipandang sebagai raja yang berfoya-foya. Lagipula, banyak masalah warisan Godwin yang dia urus: kerajaan Sudhelm yang menginvasi pelabuhan, pemberontakan massal pendukung Godwin di barat, anggota wangsa Rosean yang kabur sebelum kudeta, serta desas-desus bahwa mereka akan bersekongkol dengan Sudhelm, yang akan mengancam suplai gandum Avendra. Semakin pusing, mantan panglima itu menutup mata dan memijat dahinya. "Jadi bagaimana, Yang Mulia?" Arthur, kini naik pangkat menjadi panglima, menunduk pada sahabatnya itu. "Siapkan pasukan dan suplai untuk dua minggu. Kita akan berangkat ke barat---" ucapan Callan terputus, dan hatinya berhenti berdegup, menyadari sosok yang baru saja masuk ke ruang takhtanya itu. "Aisia." "Hmm?" Berbaring di pangkuan sang panglima, yang empunya nama sedang menyesap wangi rambut Callan yang panjang. "Aku akan melakukannya." "Apa?" Sontak, bangsawan itu mendorong tangan kekar itu agar menjauh. "Sungguhkah-" "Menikahi Myra Rosean? Ya. itu satu-satunya jalan." Callan mengangguk. Bibirnya maju lagi untuk menyampaikan permintaan maaf, tapi... [PLAK] ...yang ia dapat hanya tamparan, dengan Aisia yang matanya berkaca-kaca. "Aisia!" Arthur berseru senang. "Arthur." Aisia tersenyum, sebelum ujung matanya menangkap bayangan sang raja dan ia menunduk. "Yang Mulia." Alhasil, hati sang raja sedikit tercubit. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Hari ini memang bukan hari yang menyenangkan. Di hutan, sedang tidak banyak binatang yang singgah. Sudah empat jam Myra berkutat dengan rimba, tidak ada satupun hewan yang muncul. Kelinci pun tidak. Myra sudah membungkus anak panahnya, ketika ia menangkap sesuatu yang berkelebat di antara semak-semak. Ia menurunkan busur yang tersampir di pundaknya dan mulai membidik. Tapi, semak-semak itu justru berbisik. "Psst!" "Bagaimana ini? Kita bisa mampus!" "Ya sudah, kita keluar saja!" "Kau gila? Bagaimana kalau dia orang jahat?" "Yah, daripada mati!" "Hei!" giliran Myra yang berseru. "Keluarlah! Aku bukan orang jahat!" Semak-semak itu berbisik lagi. Lalu, seorang anak perempuan berdiri dari balik semak sambil mengangkat tangan. "Kami bukan musuh! Kami bukan musuh!" ucap si perempuan berulang-ulang. "Aku juga," ujar Myra. "Benarkah?" Myra mengangguk. "Syukurlah!" Si perempuan tersenyum sedikit. "Darren, ayo berdiri!" Ia rupanya menghardik seorang anak lelaki yang lebih tua, nampaknya seumuran dengan Myra, yang ternyata juga bersembunyi. Sang anak perempuan pun mendekat dan mengulurkan tangannya. "Aku Fione! dan si payah ini... Darren," ujar si cewek sambil mengulurkan tangannya. "Dan kau?" Myra menyambut tangan itu. "Myra." "Myra?" Fione berpikir sejenak, lalu matanya menyala. "Tidak mungkin! Kau Putri Myra!" Nah, pikir Myra. Baru saja terbersit di kepalanya untuk membangun pertemanan dengan dua pemburu ini dan mereka sudah mengetahui asalnya. Tidak ada lagi kesempatan. "Waah, aku tidak pernah bertemu seorang bangsawan sebelumnya!" seru Fione dengan riang. "Katakan, apa yang kau lakukan di sini?" "Berburu, sih." Myra memandangi busur yang ia bawa. Busur tua yang ayahnya ukir sendiri. "Memangnya bangsawan masih perlu berburu?" Kali ini giliran Darren yang bicara. Myra mencoba mengais-ngais nada benci maupun tuduhan di suaranya, namun tidak ada. Laki-laki itu hanya murni bertanya. "Ah, tidak... Aku melakukannya sebagai hobi." Myra mengatakannya dengan tulus, teringat masa kecilnya di kastil Myria, tempat ia menghabiskan masa kecilnya sebelum ibunya meninggal secara tiba-tiba. Berburu moose setiap pagi bersama ayahnya, menggotong hasil buruannya pada ibunya yang selalu menyambutnya dengan cinta, dan seolah-olah waktu terhenti. Moose. Itu dia yang hilang dari hutan ini "Apa yang kalian lakukan di sini? Dan mengapa tidak ada moose seperti biasanya?" "Biasanya? Oh, kau pasti biasa berburu saat musim panas." Darren yang menjawab, mengeluarkan busur yang lebih sederhana dari sarung yang ia sampirkan di pinggangnya. "Kawanan moose belum kembali dari hutan yang lebih hangat." Fione mengangguk. "Di musim seperti ini, kami hanya bisa berburu rubah dan kelinci untuk makan." "Oh, kalian perlu makanan?" tanya Myra, untuk kemudian mencaplok tas kulit yang ia bawa dan mengeluarkan daging, sosis, serta keju yang ia bungkus tadi pagi sebagai bekal. "Ini. Ambil saja. Sebentar lagi aku akan pulang." Mata kedua sepupu itu pun membulat. Akan tetapi, mereka tidak langsung menerimanya. "Benar, nih? Kau kan ratu sekarang. Kami tidak akan dihukum mati kan, karena berburu di sini?" Myra berkedip. Ia kembali menunggu nada sinis, namun tak kunjung datang. Akhirnya, ia sumringah. "Tidak. Asal kalian tidak memberitahu siapa-siapa bahwa ada aku di sini." Alhasil, Fione menyambut makanan itu dengan riang. Baru saja Myra ingin pergi, namun Fione menahan roknya. "Mau ke mana? Makan saja bersama kami!" "Fione! Hush!" hardik Darren, menepis tangan saudarinya. "Ampuni sepupuku, Yang Mulia. Dia memang tidak tahu aturan." Tapi mata Myra justru membulat. "Bolehkah?" "Tentu saja!" Tanpa sungkan, Myra pun bergabung dengan mereka. Jadilah, ada pemandangan aneh di tengah hutan siang itu. Seorang ratu dan dua orang remaja liar, duduk dan makan bersama. Sepanjang mereka mengunyah, sepanjang itu juga Fione berceloteh ingin tahu. "Apa yang terjadi dua minggu lalu?" "Wah, benarkah? Bagaimana kau bisa selamat?" "Di mana Raja Godwin sekarang?" "Jadi, apa rasanya menikah dengan Calla-eh, Paduka Raja?" "Biasa saja." Sontak, memori tadi pagi kembali menerpa pikiran Myra yang sudah jernih. "Dia tidak ramah kepadaku." "Tentu. Dia seorang Lavendar, bukan?" celetuk Darren. "Tidak pernah ada sejarah di mana seorang Lavendar menyukai Rosean." Tapi ada sebaliknya, batin Myra, mengingat liontin yang sudah ia lepas. "Setidaknya dia tidak berbuat apa-apa." "Maksudnya?" tanya Fione "Eh, anu..." Myra jadi kikuk. "Lupakan saja." Ia melayangkan pandang pada langit yang mulai jadi keemasan. Waktunya pulang, pikirnya, jadilah ia berkemas-kemas dan membersihkan roknya. "Mau ke mana, Yang Mulia?" "Pulang," balas Myra. Ia memandang Darren dan Fione sejenak, untuk kemudian berucap. "Bisakah kita bertemu lagi?" ujar Myra dengan penuh harap, merasakan kehangatan dan keceriaan yang sudah tidak ia rasakan selama berhari-hari. Barulah ia tersadar bahwa ia merasa sangat kesepian akhir-akhir ini. "Tentu, Yang Mulia," balas Fione dengan riang. Darren pun mengangguk, dan itu semua sudah cukup untuk Myra hari ini. ─── ⋆。‧˚ʚ ❀ ɞ˚‧。⋆ ─── Avendra terlihat indah sore ini. Cocok untuk jalan-jalan. Maka Itulah, yang Callan dan Aisia lakukan sedang sidang istana dibubarkan. "Kau nampak sehat. Kapan kau tiba?" "Pagi ini, Yang Mulia. Maaf atas keterlambatanku. Ada badai sehingga kapalnya tidak bisa tertambat." "Tidak apa-apa. Dan Aisia-" Callan melayangkan pandangannya sejenak pada taman bunga istana yang kini penuh bibit bunga Lavender, "-jangan panggil aku seperti itu." Aisia tergelak. "Mengapa? Keringatmu sudah tercucur selama lima tahun untuk mendapatkannya. Kurasa kau layak." Alih-alih tersanjung, perkataan itu hanya membuat Callan mengigit bibirnya dan tersenyum getir. "Aku hanya tidak ingin... ada yang berubah di antara kita." Langkah wanita itu seketika terhenti. "Terlambat, Yang Mulia." Aisia menundukkan kepalanya. "Kau sudah beristri." Sembilu bagai menyayat hati Callan lagi. Seketika pipinya kembali panas oleh tamparan Aisia beberapa bulan lalu. Namun bagaimanakah? Meruntuhkan Rosean dan merebut takhtanya adalah alasan Callan bernapas, berlatih hingga tulang dan ototnya hancur, alasannya hidup. Seorang tuan puteri tak tahu diri kebetulan saja menghalangi jalannya dan ia harus menyingkirkannya juga. Sayangnya, itu juga berarti menyingkirkan Aisia dari hidupnya. "Dia bukan istriku," cemooh Callan. "Secara tradisi, setidaknya tidak. Aku tidak pernah memberinya kalung klan." Aisia sedikit kaget, untuk kemudian menaikkan alisnya. "Mengapa?" Giliran Callan yang tertawa. "Ia tidak layak. Dan tidak akan pernah layak. Aku menyimpannya untuk orang lain." Raja itu kemudian memandang teman karibnya itu, lamat-lamat. Membuat Aisia membuang muka dan mengalihkan pembicaraan. "Aku sudah bertemu dengan Myra, omong-omong. Dia cantik sekali." Callan mendengus. "Aku tidak setuju." "Oh, ayolah, Callan." "Tidak. Aku setidaknya tahu satu wanita yang lebih cantik." Sang Raja kini tersenyum jahil. Aisia pun memutar bola matanya, membuka mulutnya untuk bicara lagi tapi sesuatu berdesing menerpa telinganya. Sebilah pisau membelah udara yang memisahkan mereka, lantas menancap di tembok istana. Dengan sigap, Callan otomatis mendorong Aisia ke belakang punggungnya. "Salam, Paduka," seru seorang lelaki berambut merah gelap. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN