Prolog

440 Kata
"Ahn, ahn!" Malam itu, rintihan dan desahan sesosok wanita berkumandang dari ruang tidur sang Raja. Bunyi kulit yang kerap menghantam kulit pun ikut membumbung. Seluruh suara itu berasal dari dua insan telanjang bulat yang sedang beradu dengan panas di atas ranjang. Siapakah mereka, kau bertanya? Sang raja, dan.... Sang ratu? Bukan. Sang istri. Yang Mulia akan memenggal kepalamu jika kau berani memanggil Myra dengan sebutan yang terlampau agung itu. Karena ia telah bersumpah, tidak akan ada lagi satupun b*****h dari klan Rosean yang akan duduk di takhta Avendra setelah ia membantai— "Oh! Ah!" "Tanpa suara," tutur Sang Raja begitu tegas, dan seketika gadis—maksudku, wanita itu tutup mulut. Sebagai gantinya, Myra menggigit bibirnya kencang-kencang sembari tubuhnya dibalikkan. Wajah tampan suaminya pun memenuhi pandangannya. Mata mereka pun bersua. Mata cokelat milik wanita berambut darah, dengan mata ungu kebiruan khas klan Lavendar; milik pria yang sudah membantai seluruh keluarga istrinya. Sehingga, meski telah menikah, bukan rahasia lagi jika apa yang mereka berdua lakukan sekarang begitu terlarang, dikutuk, dan tidak pantas. Namun, fakta bahwa kini ia sedang ditiduri diam-diam oleh pria ini....membuat Myra cukup menggila. Malam itu, sembari melenguh, Myra pun mendekap suaminya erat-erat. Mencumbu leher, untuk kemudian turun ke dadanya yang bidang dengan penuh cinta. Dengan tungkai, ia merekatkan penyatuan mereka sampai penuh. Semua tindakan lembut nan kasih itu pun justru disambut dengan amarah oleh Yang Mulia. Bencinya pun memuncak. Semakin ganas ia memompa, semakin ia ingin persetubuhan j*****m ini lekas usai. Namun, terlambat sudah, Yang Mulia. Persenggamaan terlarang yang bahkan dikutuk oleh nenek moyangnya ini sudah menjelma jadi ritual yang ia nikmati tiap malam. Terkutuklah aku, umpat Callan sembari mengerang. Ia hampir tiba. Terkutuklah ayahku. Dan terkutuklah wangsa mawar k*****t yang telah menciptakan perempuan terkutuk yang begitu nikmat ini. Callan pun memejamkan mata, memblokir memori Myra yang berkeringat begitu jelita di rengkuhannya. Ia mengerang untuk terakhir kali, sebelum memuncratkan benihnya ke dalam rahim sang istri—yang sudah ia pastikan tidak akan bisa untuk dibuahi. Usai sudah. Callan pun kembali menjadi batu. Ia mencabut miliknya, lantas mengelap s**********n istrinya itu dan berbalik. "Pergilah." "Yang Mulia-" Malam itu, satu kalimat yang memang membuat Callan berpaling. Menatap pada Sang Mawar, yang tubuhnya penuh bekas ciuman dan gigitan itu. Namun, yang netra amenthystnya lemparkan bukanlah pandangan penuh kasih. Melainkan kebencian. Kebencian yang begitu kuat, didasari darah ayah dan saudara-saudaranya yang mengucur. Kebencian yang begitu dalam, melampaui segala penderitaan yang ia dan keluarganya tempuh. Kebencian yang begitu menyengat, bahkan membuat Myra bergidik hingga bulu kuduk. Sehingga tanpa basa basi lagi, Myra pun berdiri, menunduk, dan pergi. Malam itu, untuk kesekian kalinya sang Mawar dan Lavender menyatu—untuk kemudian menusuk satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN