Part 29 Sejak lamaran Mas Rusdy tempo hari membuatku tak bisa tidur dengan benar. Aku selalu memikirkannya. Pantaskah orang biasa seperti aku bersanding dengan seorang pengusaha muda yang hebat? Sekarang, bila mengingatnya saja hatiku berdebar-debar tak karuan. Ah, sebenarnya ada apa ini? Ini pasti karena mereka orang baik, makanya aku merasa nyaman dekat dengan keluarga Pak Hadiyan, apalagi beliau adalah sahabat ayah. Semenjak hari itu, Mas Rusdy seringkali mengirim chat WA, berisi tentang perhatiannya yang sederhana. Sudah makan belum, sudah sholat belum, serta ucapan selamat pagi, selamat beraktifitas atau bahkan selamat malam, selamat tidur, mimpi yang indah. Pesan-pesan itu selalu disertai emoticon smile, love dan yang lainnya membuat hatiku makin berdebar-debar. Pukul sembilan m

