18. Surat panggilan sidang

1202 Kata

"Reina, apa-apaan ini?!" teriak Mas Hendi. Ia mendekat ke arahku sambil menyodorkan lembaran kertas putih itu. Aku membacanya sekilas, ternyata surat panggilan cerai dari pengadilan. Seulas senyum merekah dari bibirku. "Oh ternyata sudah datang, lebih cepat dari yang kuduga," jawabku enteng. "Kamu beneran menggugatku cerai, Reina?! Apa salahku?" ketusnya. Wajahnya merah padam, dadanya naik turun menahan emosi. "Kamu sudah tau sendiri apa jawabannya." Mas Hendi mengepalkan tangannya bersiap memukulku, mungkin. "Apa kau akan memukulku? Kasus KDRT akan tambah memberatkanmu, Mas. Kamupun bisa dipenjara kalau melakukan kekerasan pada istrimu sendiri." Ia urung melakukannya, hanya menatapku tajam. "Jangan lupa, nanti datang di persidangan," ujarku santai. "Tidak akan." "Tidak apa-apa,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN